Beranda > Senggang > Cerpen Santri > Tamu Terakhir Di Hotel Kenangan Pada Tahun 1966

Tamu Terakhir Di Hotel Kenangan Pada Tahun 1966

hotel

Resepsionis hotel di pinggiran jalan itu tak pernah menanyakan buku nikah pada sepasang pemuda-pemudi yang seringkali bermalam syahdu di tempatnya bekerja. Karena memang begitulah daya pikat dari hotel ini yang lebih mirip dengan rumah dengan beberapa petak kamar remang-remang. Beberapa pasang keluar masuk silih berganti meninggalkan kenangan yang kental, pekat dan lengket di kasur. Dan resepsionis tua berkaca mata tebal itu tak mau ambil pusing apa yang diperbuat mereka. Sekali lagi, resepsionis dan juga para pekerja hotel itu tak mau ambil pusing. Parsetan juga jika para tamu itu adalah sepasang yang tidak tahu diri; entah guru, entah politikus, entah selebritis, entah agamawan, entah mahasiswa/i, entah santri. Tak ada urusan bagi pekerja hotel. Yang pasti, setiap pengunjung haruslah bayar sekian untuk tempat dan waktu sekian.

            Malam minggu itu, tiba dua pasang curut muda-mudi dan memesan kamar di hotel itu.

“Kamar penuh. Silakan cari hotel yang lain.” Jawab resepsionis datar sambil menahan kantuk dan kebosanan.

            “Semua hotel penuh, Pak. Dan ini hotel terakhir yang kami harapkan ada kamar kosong.” Ucap Curut Jantan.

BACA JUGA :  MASA LALU

            “Apa kalian tidak dengar dan paham kata saya, hah? Kamar penuh!” Balas resepsionis dengan sedikit kesal karena waktu melamunnya terganggu. Lelaki tua itu mudah dan sering jengkel pada calon tamu yang ngeyelan. Maklum, ia telah menghabiskan seumur hidupnya hanya untuk menjadi resepsionis. Tak ada lain.

            Sepasang curut muda-mudi itu masih berdiri di sebelah meja resepsionis. Mereka tampak sedang bermusyawarah. Setelah beberapa waktu, belum juga ada mufakat. Dari balik meja resepsionis terdengar suara lirih diskusi kedua curut itu.

            “Bagaimana? Apa kita pulang saja?” Tanya Curut Betina dengan keganjilan yang menggantung di wajahnya.

“Kita sudah jauh-jauh kabur dari asrama, mana mungkin pulang tak membawa kenangan.” Jawab Curut Jantan dengan keresahan yang entah.

            “Terus mau bagaimana lagi? Semua hotel ‘yang aman’ di kota ini sudah penuh. Dan tidak mungkin kita pergi ke kota lain tengah malam begini… Jaraknya jauh.” Sahut Curut Betina dengan semakin melirihkan suaranya.

            Curut Jantan melirik ke arah resepsionis. Menaruh harapan, “Hmmm, jika lelaki tua itu berbaik hati, setidaknya untuk malam ini di gudang pun tak apa.”

Curut Betina memandang heran dengan gagasan itu, Gudang? Kemudian merespon dengan ikut melirirk pada resepsionis tua di sebelah meja.

BACA JUGA :  Tarekat “Thalabul Ilmi”

            Mendengar kebimbangan dua curut yang seperti kehilangan induk itu, resepsionis tua menimpali, “Kalau kalian memaksa dan mau, ini ambil saja kamar 13. Gratis!” Ucap resepsionis tua datar sambil melemparkan kunci ke atas meja.

Kamar 13 bukan gudang, melainkan kamar sebagaimana kamar biasanya. Namun, mitos yang berkembang membuatnya tak pernah dihuni oleh tamu siapa pun. Dan resepsionis tua itu pun tak pernah merekomendasikan kamar 13. Ia tahu betul mitos itu.

            “Saestu, Pak?” tanya Curut Jantan bersemangat.

            “Heh, itu kamar 13, Mas! Jangan ngawur kamu!” Curut Betina mencegahnya, menggenggam erat tangan kekasihnya.

            “Mitos itu… Kamu percaya? Itu kan mitos, Dik. Lagian kita kan enggak penderita Triskaidekaphobia. Wis tho… Aman, aman.”

            “Jadi gimana nih. Mau enggak?” Sela resepsionis tua dengan acuh tak acuh.

 “Mau, Pak, mau!” Jawab Curut Jantan dalam semangat 45. “Terima kasih, Pak. Sekali lagi terima kasih.” Lanjutnya menundukkan diri. Ia ambil kunci itu dengan gesit. Keduanya kemudian berlenggang menuju kamar 13. Kecemasan masih menggelayut di kening Curut Betina.

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *