Beranda > Muhadlarah

Muhadlarah

PROFIL MUHADHOROH PP. AL ANWAR 3

Pondok Pesantren Al Anwar 3 yang di dirikan oleh Syaikhina KH. Maimoen Zubair dan diasuh oleh Syaikhina Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen, memiliki sejumlah kegiatan yang membantu meningkatkan daya kualitas santri, didalamnya terbentuk sejumlah sub kepengurusan dengan posisi dan tugas kerja masing masing sesuai dengan bidangnya. Diantara sub yang memegang kendali dalam hal menambah materi keagamaan, kitab-kitab klasik, serta musyawarah al kutub ad diniyah adalah Madrasah Takmiliyah Pon Pes Al-Anwar 3, atau akrab disebut dengan Muhadhoroh.

Muhadhoroh memiliki peran penting dalam perkembangan pondok Al-Anwar 3, hal ini seperti halnya disampaikan oleh Syaikhina KH. Abdul Ghofur Maimoen dalam sebuah rapat guru Muhadhoroh. Dinilai penting karena Muhadhoroh memegang penuh semangat pembelajaran dan perkembangan santri dalam menguasai kitab-kitab kuning, mulai dari pembelajaran dikelas yang keseluruhannya menggunakan kitab kuning (gundul), musyawarah kelas pun tak pernah lepas dari pengaruh kitab, dan banyak hal lain dari kegiatan Muhadhoroh yang menunjang perkembangan santri Pon Pes Al-Anwar 3.

Struktur kepengurusan yang terbangun dalam bidang Muhadarah disini adalah dimulai dari Ketua, yang mana tugas utama ketua adalah mengkoordinir seluruh bawahannya untuk menjalankann tugas dengan baik. Sekretaris, dimana tugas sekretaris adalah mencatat dan mendokumentasikan hal hal yang berkaitan muhadharah, baik saat rapat, surat menyurat, dan yang lainnya. Bendahara, bertugas penting untuk memegang dan mencatat keluar masuknya keuangan muhadharah. Perlengkapan, bertugas utama untuk memegang peralatan dan segala hal yang diperlukan muhadharah dalam menjalankan tugasnya. Matrikulasi, memiliki tugas sebagai pendamping belajar tambahan bagi santri kelas satu muhadharah, berupa pelajaran Nahwu dan Imla’, sebagai bekal dasar, terkhusus santri baru yang sebelumnya belum pernah mondok, kegiatan matrikulasi ini diadakan setiap malam Selasa. Musyawarah, mengurusi kegiatan musyawarah seluruh kelas dalam tingkatan muhadharah, musyawarah diadakan setiap malam Rabu. Pentakzir, bertugas sebagai badan yang menangani santri bermasalah selama KBM muhadharah.

Tugas utama yang diemban oleh Madrasah Diniyah Pon Pes Al-Anwar 3 adalah memberikan pembelajaran mengenai kitab kitab dasar penguasaan materi keilmuan Islam, yang mana kegiatan ini di isi oleh seluruh santri yang wajib mengikuti sekolah malam Muhadhoroh. Jumlah kelas yang diberikan adalah sebanyak empat tingakatan, yaitu kelas 1, 2, 3, 4, yang mana keseluruhan kelas di isi oleh santri Al-Anwar 3. Pada tahun 2019 ini, pertingkatan memiiki jumah kelas yang berbeda, kelas satu di isi oleh kelas 1A, 1B, 1C, 1D, kelas dua pun demikian, muali dari 2A sampai 2D, kelas 3 di isi oleh 3A, 3B, 3C, dan jenjang yang terakhir kelas empat di isi oleh 4A, 4B, 4C, 4D, dan dari ke empat tingkatan ini, kelas 1 satu dapat dikatakan kelas yang paling awal, baik dari segi urutan maupun santri yang menduduki didalamnya.

Kelas satu muhadharah di isi dengan berbagai macam pelajaran, yaitu Nahwu (diktat), Qowaid al-Imla’ (karya Syaikh Abdussalam Muhammad Harun), Sharaf, Fiqih (Taqrib). Sedangkan kelas dua muhadharah di isi dengan pelajaran Nahwu (Mutammimah 1), Tauhid (Nurudz Dzalam), Imla’ (Qowaid al-Imla’), Fiqh (Fathul Qarib 1). Kelas tiga muhadharah di isi dengan pelajaran Nahwu (Mutammimah 2), Fiqh (Fathul Qarib 2), Ulumul Hadits (al-Qowaid al-Asasiyah), Tauhid (Jauharoh at-Tauhid), Sharaf (Unwanu adz-Dzaraf). Sedangkan kelas empat muhadharah, yang mana ini adalah jenjang terakhir dalam pendidikan muhadharah PP. Al-Anwar 3, di isi dengan pelajaran Balaghah (Husnu as-Shiyaghah), Ulumul Qur’an (Manna’ Qatthan), Fiqh (Fathul Qarib 3), Ushul Fiqh (Al-Waraqat), Tafsir (Tafsir al-Jalalayn).

Tugas Muhadhoroh yang lain selain pembelajaran didalam kelas adalah musyawarah, dimana musyawarah ini di ikuti oleh seluruh santri muhadharah muai dari kelas 1 hingga kelas 4. Adapun yang digunakan sebagai bahan diskusi dalah kitab fiqh yang sering dipelajari di pesantren-pesantren Indonesia, seperti Fathul Qarib. Antusias santri dalam mengikuti musyawarah ini sangatlah baik, mulai dari persiapan diri untuk membacakan maqro’, mencari ta’bir dari kitab kitab yang lain, hingga keseruan berdiskusi didalam kelas membahas pertanyaan-pertanyaan seputar Nahwu dan Fiqh dalam lingkup kitab Fathul Qarib. Keserua ini bukan hanya seru dipandang dari sisi luarnya saja, namun secara ar rihlah al ilmiyah yang dirasakan santri akan sangat terasa manakala satu sama lain bertukar pendapat, saling menguatkan jawaban dan ta’bir yang disampaikan, bagi santri, hal seperti itu adalah sebuah sensasi dan kebanggaan tersendiri.

Selain kegiatan musyawarah yang dilakukan didalam kelas, juga terdapat musyawarah gabungan yang melibatkan seluruh kelas, dengan mengirimkan beberapa delegasi kelas untuk membahas beberapa permasalahan terkini yang telah dikumpulkan oleh tim musyawarah.