Beranda > Keilmuan Islam > Hawa Dan Nafsu

Hawa Dan Nafsu

hawa nafsu

Sering kali kita mengetahui identitas seseorang dengan melihat latar belakang orang tersebut. Entah dengan memandang agamanya,  pendidikannya, tempat dia dibesarkan atau juga memandang latar belakang politiknya.

Namun, ada sisi lain yang sering dilupakan yang turut andil memberikan  pengaruh terhadap karakter seseorang. Bahkan, hal ini lebih signifikan melebihi identitas latar belakang apapun, yaitu hawa nafsu.

Berdasarkan cara menghadapi nafsu, manusia diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok, yaitu: seseorang yang menentang, mengambil manfaat, dan menuruti hawa nafsu.

Secara umum, manusia tersusun dari ruh yang mempunyai kecenderungan  yang baik, akal untuk menyaring baik dan buruknya perkara, hati untuk menetapkan, kemudian hawa nafsu yang mendorong manusia pada keburukan dan jasad yang menampung semua unsur-unsur tadi.

Ruh mempunyai kebutuhan agar tenang, seperti halnya jasad manusia membutuhkan makan dan minum agar sehat dan bugar. Namun, hawa nafsu mempunyai tuntutan yang melebihi keperluan seseorang sampai pada taraf bergaya dan berlebihan.

Hakikat dan hikmah dari diciptakannya hawa nafsu ini adalah sebagai pendorong bagi manusia agar bisa memenuhi keperluan dan menjaga keberlangsungan hidup manusia.

Dengan hawa nafsu, lapar yang ada pada diri manusia mendorong untuk mencari makan demi keberlangsungan hidupnya. Orientasi seksual mendorong manusia untuk mencintai lawan jenisnya agar memberikan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan sehingga terjaga keturunannya. Perasaan emosional pada diri manusia membangkitkan keberanian sehingga bisa menjaga kehidupan, kehormatan dan harta benda manusia.

BACA JUGA :  Menanggapi Fenomena di Era Digital: Hasil Musyawarah Gabungan MDT Al-Anwar 3 Putri

Namun, ketika tabiat manusia bergeser dari aturan semestinya, seperti makan yang semula untuk menutupi rasa lapar dan menjaga keberlangsungan hidup manusia berubah menjadi berlebihan maka timbullah berbagai macam dampak negatif. Dan ketika orientasi seksual yang semula menjadi pendorong dalam mambangun keluarga telah bergeser dari tujuan semula hidup manusia, maka timbullah berbagai hal-hal negatif seperti keamanan sosial yang bisa terganggu karena maraknya tindakan asusila seperti pelecehan terhadap wanita, pemerkosaan hingga sampai adanya perdagangan manusia dan tentu masih banyak lagi hal-hal negatif lainnya.

Juga ketika perasaan emosional seseorang tidak digunakan dengan semestinya maka timbullah berbagai macam masalah seperti tindakan kriminal yang biasa kita lihat di sekitar kita, seperti penjambretan, penganiayaan, masalah sepele yang bisa menjadikan nyawa manusia tidak berharga lagi, juga sampai penghalalan terhadap semua tindakannya menjadikan dia dengan emosionalnya seolah-olah dia adalah orang yang paling berhak untuk menjadi hakim atas dirinya sendiri dan untuk orang lain.

Dari sini kita bisa mengetahui identitas seseorang bukan hanya dengan dimana seseorang dibesarkan, di mana institusi tempat dia belajar, agama mana yang dia ikuti. lebih dari itu semua yaitu seberapa kuat seseorang dalam menjaga  hawa nafsunya.

BACA JUGA :  Perayaan Maulid Nabi Muhammad

Mungkin kita tidak bisa menyangka Paimin seorang paman dari pacitan yang terlihat polos dan lugu dengan tega memperkosa keponakannya saat diberikan kepercayaan oleh orang tua korban untuk menjaganya, dan yang paling menghebohkan adalah Herry Wirawan seorang guru ngaji yang memperkosa 21 anak didiknya yang kesemuanya berhijab, bahkan empat diantaranya telah melahirkan. Dan masih banyak lagi kejadian semacam itu yang tangan ini terasa risih untuk menulisnya.

Namun bagaimana kita bisa melepaskan diri dari hawa nafsu, sementara dia adalah bagian dari manusia yang yang tidak mungkin untuk dipisahkan? kita juga pasti membenci efek negatif yang timbul ketika kita tunduk dengan hawa nafsu. Adapun hidup yang tanpa mawas diri (berhati-hati), tidak memiliki kemantapan hati dan tidak mempunyai pertimbangan yang kuat akan riskan untuk terjerumus kedalam jeratan penyesalan. 

Dari sini tampak kebutuhan manusia akan adanya petunjuk Tuhan agar  terbebas dari kepentingan, keberpihakan, kesenangan, dan ketakutan. Allah Subḥānallāhu Wa Ta’ālā berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ ١٥[1]

Hai manusia, kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *