Beranda > Senggang > Cerpen Santri > Lemari Kayu

Lemari Kayu

yang tampak

dan yang tersimpan oleh keangkuhan

“Lama-lama semakin sesak saja kamar ini!” ia mendengus kesal.

“Sudahlah, tubuhmu saja sudah berdebu masih mau tambah mengeluh lagi”

“Lah iya, apa nggak capek kamu? Kita ini memang paling lama di sini, mau nggak mau ya harus rela kalau misal ada penghuni baru yang masuk”

“Halllaaaaaah, kita nyatanya ya mangkrak terus setahun ini”

“Eh kalian sudah dengar belum rencananya di sini memang mau ada penghuni baru beneran?”

“Hah masak iya?”

“Dasar gagap berita, tadi siang aku nguping dari Kang Pram kalau di halaman ada mobil datang”

“Yaaaa kali aja mobil cuma mau puter balik siapa tau”

“Mana ada mobil puter balik kok dikerubungi orang banyak”

“Inget, kamu dulu datang kan juga pake mobil”

“Kalau emang harus ada penghuni baru ya gimana lagi sih, diam ada yang datang”

Sesaat suasana obrolan pun senyap. Menyisakan aroma ngengat dari matahari yang sebentar lagi menanggalkan jubah sore di pundak maghrib yang teduh. Kang Pram bersama Kang Di teman tetangga kamarnya baru pulang dari ngaji sore. Mereka berdua tampak cekikikan entah apa penyebabnya.

“Di, nanti malam ikut ro’an ya…”

Ro’an apa kang, kok saya nggak denger ada info-info”

“Lah, la itu di bawah kan banyak lemari baru nanti disebar ke kamar-kamar yang memang mau diisi santri baru”

“Ehhh kirain lemari di bawah itu buat apa, tapi kok ukurannya nggak sama kaya yang dulu-dulu ya kang, kok ini lebih besar”

“Yaaa ndakpapa, lumayan juga kan buat nambah tempat naruh barang-barangku yang mangkrak nanti” Kang Pram mengedipkan mata.

Kang Di lalu keluar kembali ke kamarnya. Kang Pram juga mengikuti keluar setelah selesai menghembuskan hisapan rokok terakhirnya. Suasana di dalam pun menjadi kikuk serba tak karuan.

***

bulan-gemintang berkunjung ke istana

mereka melucuti kata-kata sebelum disampaikan oleh tinta

***

Malam itu, satu pondok berubah menjadi suasana gaduh. Lagu-lagu bersenggama dengan telinga-telinga santri yang sedang ro’an. Benda-benda mati yang sama sekali tak pernah dihargai menjadi bahan umpatan sesekali.

“Duh ini lemari apa beton sih, berat banget”

“Woi-woi… itu di bawah masih banyak cepet selesaikan” timpal seorang lagi.

“Santai ro’an sampai besok juga nggak papa yang penting kan ada konsumsinya” sahut seseorang sambil mengernyit.

Malam sudah larut melewati tengah-tengah waktu perpindahan hari. Lorong-lorong sudah sepi. Para santri yang ro’an sudah kembali dengan aktivitas memenuhi kepala dengan asap, kopi, dan obrolan random yang selalu dibuat-buat sendiri. Ada juga yang sedang sibuk mutola’ah pelajaran esok hari. Memang hidup ini beraneka ragam, terlalu memaksa jika harus dituntut seragam.

BACA JUGA :  Kelotak Bakiak di Sebuah Mall

“Kalian berasal darimana?” tanya Si Penghuni lama yakni si Kanan kepada penghuni baru.

“Ehm…” dengan sedikit canggung penghuni baru bersamaan menjawab “Kami dari toko mebel Pak Djarot yang sudah biasa langganan dengan pondok ini”

“Wih kompak banget… eh…apa kalian sudah tahu tugas kalian di sini?” timpal Si Tengah.

“Halah… paling juga nantinya mangkrak seperti kita-kita ini cuma buat naruh barang-barang yang nggak penting sama sekali, dasar manusia!!!” sahut Si Kiri kesal.

“Hey hey hey… kamu ini jangan kasar begitu, mereka ini penghuni baru, kalau kamu kasar begitu bisa-bisa tubuh mereka mengalami osteoporosis alias keropos mendadak tidak kuat menerima kenyataan loh” ucap Si Kanan.

  “Tapi emang dia nggak sepenuhnya keliru, kamu juga tau sendiri. Konon katanya manusia itu suka mengambil segala sesuatu secara berlebihan entah itu apa saja bahkan juga kita-kita ini jadi korbannya” Si Tengah menimpali.

Perkenalan malam itu menyisakan tanda tanya yang beterbangan di atas kepala para penghuni baru. Ruangan menjadi gelap. Obrolan pun perlahan lirih dan kemudian hilang bersamaan kerikan jangkrik yang makin nyaring. Ketiga penghuni baru tersebut menangis tanpa suara.

***

ruang-ruang yang biru menuju abu-abu

kalimat mana yang lupa dituliskan tangan dari otak yang penuh mesiu

***

Pagi menjuntai di ventilasi kamar. Matahari segera bergegas menjelang dan berdiri tegak menghadap siang. Lalu-lalang manusia dengan segala kesibukan yang sama setiap harinya. Itulah yang kita kenal dengan istiqomah. Tanpa lepas dan tanpa batas. Di pertengahan siang nampak letih, lesu, dan kantuk yang mengibarkan bendera di kepala, di bola mata.

“Kamu udah dapat kamar Mus?”

“Sudah tapi belum pindah ke sana memang”

“Kamar berapa?”

“Kamar 10, kamu belum Ko?”

“Loh kok sama, yasudah nanti kita pindah ke sana barengan saja kalau begitu” ajak Mus kepada Tiko.

Di dalam kamar nomor 10 suasana masih lengang. Mus dan Tiko, santri baru yang baru saja mengangkat dan memindahkan koper, dan kardus, dan plastik, dan apapun barang yang mereka bawa masih bersantai bersama Kang Pram.

“Itu barang-barang banyak sekali ya”

“Ya orang jaman now memang begitu kalau mondok apa saja itu dibawa”

BACA JUGA :  Mahasiswa yang Kasmaran pada Makalahnya

“Tapi nggakpapa tubuh kita kan besar pasti muat buat menampung semua itu”

Obrolan lemari penghuni baru yang seakan antusias menanti tubuh dan jiwanya dijamah oleh tangan dari makhluk bernama manusia. Mereka seakan siap menerima segala beban berat, keluh kesah, sumpah serapah dan sifat serakah.

“Kang, anggota kamar ini cuma sampean? Kok saya nggak melihat ada orang lain” tanya Mus kepada Kang Pram.

“Enggak, ada dua orang lagi sebenarnya, mereka seangkatan saya. Tapi sejak setahun lalu mereka bilang sama saya kalau mau di rumah dahulu begitu”

“Oh gitu kang, berarti dua lemari lama itu masih kosong juga kang?”

 “Yaa enggak, itu isinya barang-barangku semua hahaha” sahut Kang Pram berlagak sipaling kece. “Itu ada lemari baru nanti kalian pake lemari yang itu” sambil menunjuk ke lemari penghuni baru.

Selesai obrolan basa-basi Mus dan Tiko bergegas menata barang-barangnya di lemari yang ditunjukkan oleh Kang Pram. Lemari itu, terbuat dari kayu yang mengejawantahkan pesan api untuk menjadi abu. Kayu-kayu berjiwa lautan yang senantiasa tumbuh berdiri tegap menghadapi mesin-mesin pemotongan liar.

***

obrolan-obrolan menjadi parau

saling memutarbalikkan fakta dari pengetahuan yang bebal

***

“Lihat dia, baru datang sudah melas seperti kita” ucap Si Kiri sambil menunjuk ke arah penghuni baru sebelah tengah.

“Benar-benar keterlaluan manusia-manusia ini” sahut Si Tengah.

“Padahal banyak mereka simpan ilmu-ilmu dalam tubuh kita, tapi mengatasi urusan pribadi miliknya sendiri pun harus memakan hak-hak orang lain”

“Seharusnya kalau memang kalian ini tidak ada penghuni aslinya tak perlu pula ada penghuni baru” ucap Si Tengah pada Si Kanan dan Si Kiri.

“Padahal mereka ini kepalanya penuh ilmu-ilmu, apa mereka tidak berpikir kalau lemari di pondok itu sifatnya membeli, dan setiap mereka hanya membeli satu buah lemari, lalu seenaknya mereka gunakan lemari kosong dengan tipudaya masih ada penghuninya, kalau begitu apa bedanya mereka dengan koruptor? Bukankah itu sama saja dengan maling? Mengambil hak orang lain untuk kepentingan pribadi mereka yang sebenarnya tidak penting-penting samasekali”

Pertanyaan itu mengendap bersama embun yang menggerayangi lubang-lubang ventilasi. Menanggalkan kegeraman dan protes yang tak pernah tersampaikan. Mereka menyadari bahwa kayu tak mungkin lebih keras dari batu. Meskipun beribu-ribu obrolan sudah menyerang segala sudut dan sisinya.

obrolan tua yang renta

menyatakan isyarat kasih dari sesame penghuni semesta

***

Oleh: Abdullah Hadani

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *