Beranda > Pengasuh

Pengasuh

pengasuh pondok pesantren al-anwar 3 sarang rembang
pengasuh pondok pesantren al-anwar 3 sarang rembang

Dr. KH. Abdul Ghofur Maimun, adalah sosok kyai muda yang cukup populer di kalangan masyarakat Rembang. Pengasuh pesantren sekaligus ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Anwar ini, dalam beberapa kesempatan juga mengisi ceramah di berbagai wilayah, baik untuk kenegaraan ataupun kepesantrenan. Jadi, dapat dipastikan banyak kalangan, baik dari civitas akademika STAI maupun Staf-staf Negara, kenal baik dengan beliau.

Nilai positif dari figur para kyai, berupa perilaku konkrit dalam kehidupan di lingkungan kelembagaan Al Anwar yang patut dijadikan teladan bagi umat Islam pada umumnya, menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi KH. Abdul Ghofur. Nilai positif itu di antaranya tercemin dari hubungan yang terjalin baik secara kelembagaan, yakni antara STAI dengan pesantren, maupun secara personal yaitu antara kyai, dewan asatidz dan para dosen STAI.

Riwayat Pendidikan KH. Abdul Ghofur Maimun Zubair

Dr. KH. Abdul Ghofur Maimun, yang biasa dipanggil dengan sebutan Gus Ghofur, lahir di Rembang Jawa Tengah pada 16 Maret 1973 dari pasangan KH. Maimun Zubair dan Nyai Hj. Masti’ah. Semasa kecil, Gus Ghofur sudah dikenalkan dengan ilmu-ilmu agama oleh ayahnya, KH. Maimun Zubair. Dalam masa pendidikannya beliau tidak pernah duduk di bangku sekolah dasar ataupun sekolah menengah, Pendidikannya, beliau tuntaskan di Madrasah Ghazaliyah Syafi’iyyah (MGS) Sarang Rembang.

Semasa belajar di Ghozaliyah, KH. Abdul Ghofur Maimun  sudah dikenal cerdas dan kritis. Sejak masih duduk di kelas ibtida’ hingga tsanawi, juara kelas hampir tidak pernah luput dari genggamannya. Menjadi juara kelas tingkat ibtida’ hingga tsanawi nampaknya menjadi dasar atau ukuran bagi santri yang belajar di MGS dikatakan pintar dan cerdas. Sehingga tidak mengherankan apabila Gus Ghofur saat ini mahir dalam bidang agamanya. Tidak hanya urusan pelajaran, di bidang organisasi pun prestasinya cukup mengkilap. Selama dua periode berturut-turut KH. Abdul Ghofur dipercaya sebagai ketua Demu (Dewan Murid) MGS. Hal ini, tentu menjadi sejarah baru dalam kelembagaan MGS, karena dalam sejarahnya belum ada santri menjabat sebagai ketua Demu selama dua periode, pada umumnya hanya satu periode.

Tepat tahun 1992 M, Gus Ghofur menyelesaikan pendidikannya di MGS. Pada tahun itu juga beliau mencoba membantu Ayahnya mengajar di pesantren Al Anwar sekaligus memegang kendali keamanan pesantren. Pada tahun berikutnya 1993 M, beliau melanjutkan studinya di Al-Azhar University, Kairo. Sepertinya hal itu menjadi hal baru dalam tradisi pendidikan putra-putri KH. Maimoen Zubair.

Selama empat tahun menyelesaikan program S1 Usuhuludin jurusan Tafsir di Al-Azhar, semua ujian dilaluinya dengan nilai Jayīd Jiddan. Begitu pula materi program S2 dijurusan yang sama selama dua tahun juga diselesaikan dengan hasil akhir Jayīd Jiddan. Pada kesempatan selanjutnya, beliau melanjutkan pendidikannya, demi meraih gelar Dr., dengan mengajukan disertasi yang berjudul Hasyiah Al-Syekh Zakaria Al-Anshary Ala Tafsir Al-Baidhawy, Min Awwal Surah Yusuf Ila Akhir Surah l-Sajdah ternyata membuahkan hasil yang mumtaz ma’a martabati syaraf al-‘ula (summa cumlaude) dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.

Yang menarik adalah prakata dan kutipan akhir sebelum pengukuhan gelar dari para guru besar dan tim penguji terhadap desertasi putra kiai kharismatik asal Sarang, Jawa Tengah, KH Maemun Zubair ini adalah “Syarah dan komentar yang ditulis Syeikh Abdul Ghofur ini lebih baik dari yang di tulis Syeikhul Islam, Syekh Zakaria al-Anshori”. Sementara Rais Syuriyah PCNU Mesir Dr. Fadlolan Musyaffa berkomentar “Ini sungguh luar biasa. Andai ada nilai di atas summa cumlaude, mungkin akan dianugerahkan pada sidang disertasi Gus Ghofur. Sayang, hasil itu sudah mentok paling atas,” terangnya seusai acara. Desertasi setebal 1700 halaman dan terbagi menjadi 2 jilid ini disidangkan pada hari Sabtu (12/6) di Auditorium Abdul Halim Mahmud, Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar. Sebagai tim pengujinya adalah Prof Dr Muhammad Hasan Sabatan, guru besar Tafsir dan Ulumul Qur`an Fakultas Ushuluddin Kairo (penguji dari dalam), Prof Dr Ali Hasan Muhammad Sulaiman, guru besar Tafsir dan Ulumul Qur`an Fakultas Dirasat Islamiyyah Banin Kairo (Penguji dari Luar) dan dua pembimbing Prof Dr Sayid Mursi Ibrahim Al-Bayumi, Guru Besar Tafsir dan Ulumul Qur`an Fak.Ushuluddin Kairo dan Prof Dr Abdurrahman Muhammad Aly Uways, guru besar Tafsir dan Ulumul Qur`an Fak. Ushuluddin Kairo. Selain itu juga, sidang yang dimulai pukul 14.00 waktu setempat dihadiri sekitar seratusan lebih mahasiswa/i dan simpatisan baik warga Indonesia maupun Mesir.

Keberhasilan itu tidak lepas dari ketekunan dan kesabaran beliau yang semakin meningkat selama belajar di Kairo. Ketika di MGS Sarang, beliau memang sudah rajin dan rajinnya beliau ini hanya diketahui oleh sahabat-sahabat akrabnya saja. Akan Tetapi, sejak di Kairo hal tersebut semakin meningkat beliau bisa dan biasa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memelototi kitab. Ketika ketekunan dan kesabaran itu dipadu dengan karunia Allah, kecerdasan, maka prestai akademik adalah sesuatu yang niscaya terjadi.

Tentang hal ini ada kawan yang bercerita, “Sing ngajari bahasa Inggris Gus Ghofur, ki, aku. Eh, pas ujian aku mung Jayyid Jiddan, Gus Ghofur malah mumtaz”. Siapa yang tidak tahu kalau ketika pertama kali datang ke Kairo Gus Ghofur Awam bahasa Inggris. Namun ketekunan dan kesabarannya telah berhasil menjinakkan ujian bahasa Inggris di Al-Azhar.

Gus Ghofur mengakhiri masa lajangnya pada tahun 2003. Gadis yang beruntung dipersuntingnya adalah Nadia, putri KH Jirijis bin Ali Ma’shum Karpyak Yogyakarta. Dari perkawinannya beliau telah dikaruniai seorang putra bernama Nabil, Afaf, dan Aida.

SISI LAIN GUS GHOFUR

Siapa yang mengetahui tips keberhasilan yang dicapai oleh KH. Abdul Ghofur dalam berbagai bidang saat ini, terlebih dalam bidang tulis menulis dan bahasa asing? Padahal sebelumnya beliau sendiri tidak pernah belajar di kelembagaan formal. Nampaknya Najib Bukhori, selaku dosen sekaligus rekannya selama belajar di Kairo mengetahui sedikit tentang hal itu. Najib Bukhori mengatakan,

“Penilaian saya pribadi, terkait dengan keberhasilan Gus Ghofur, dimungkinkan karena beliau termasuk santri atau mahasiswa yang tekun. Dalam beberapa kesempatan ketika saya berkunjung ke flat beliau yang berada tidak jauh dari flat saya, pasti beliau sedang belajar. Satu bulan sebelum berlangsungnya ujian sekolah, beliau telah mempersiapkan materi dengan matang. Contoh lain, proses belajar bahasa asing yang dibimbing oleh mahasisiwa dari pekalongan bernama Syukron. Gus Ghofur memulainya dari nol namun hasil akhirnya melebihi yang membimbing, Gus Ghofur mendapatkan Mumtaz sedangkan Syukron selaku pembimbing mendapatkan Jayīd Jiddan. Mengenai tulis menulis, beliau juga memulainya dari nol. Saya menduga penyebabnya karena beliau sering menulis, terutama di “Pesantren Vitual.com”. Tidak hanya itu, ketika beliau mempunyai keinginan pasti beliau akan menggelutinya dengan luar biasa, misalnya karena keinginantahuannya beliau baca dengan habis buku “Pengantar Sosiologi jilid 1 dan 2”.

Melihat apa yang disampaikan Najib Bukhori, sepertinya Gus Ghofur merupakan gambaran seseorang yang tekun, cerdas, memiliki kemauan yang kuat sekaligus orang yang selalu menekankan dalam dirinya slogan para ulama Man jadda wajadda (barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan menemukan).

Tidak hanya tekun, Gus Ghofur juga tergolong orang yang mencintai kerapian, hal ini dapat dilihat dari pakaian yang dipakai, dan kombinasi susunan kamar yang selalu terlihat rapi. Gus Ghofur juga tipe orang yang disiplin, ketika beliau telah melakukan perjanjian dengan sebuah kelembagaan ataupun personal, Gus ghofur pasti akan datang tepat waktu bahkan datang lebih awal dari waktu yang sudah dijanjikan.

Sekali lagi, tidak hanya dalam pendidikan namun dalam keoragniasasian prestasi Gus Ghofur juga terbilang gemilang. Terdapat beberapa deretan nama organisasi yang pernah beliau duduki, diantaranya yaitu : Ketua DEMU ( Dewan Murid) MGS, koordinator keilmuan Senat Mhasiswa Ushuluddin Al-Azhar Kairo, Wakil Ketua NU Mesir, wakil rais syuri’ah NU Mesir, ketua LBM PWNU Yogyakrta, wakil ketua Ansor bidang keislaman dan kepesantrenan, dan wakil kātib syuri’ah PBNU.

Meskipun demikian adanya, sebagaimana yang disampaikan Najib Bukhori, Gus Ghofur juga memiliki beberapa hal menarik yang jarang diketahui oleh masyrakat pada umumnya misalnya trafeling dan selera makan. Ketua sekaligus pengasuh pesantren ini ternyata kurang menyukai makanan yang berbau kambing, kecuali apabila dijadikan sate. Najib Bukhori berkata, “ketika saya memberikan pesanan makanan kepada beliau berupa bestek (kambing bakar yang dimasak), beliau menolaknya”.

Referensi:

  1. Syaikhuna wa Usrotuhu
  2. https://staialanwar.ac.id/team/dosen-4/
  3. http://alydahrie.blogspot.com/2017/01/biografi-guru-besar-stai-al-anwar.html