Selain itu juga perlunya manusia untuk melatih diri berusaha dalam mengenali hawa nafsunya agar manusia sejalan dengan rute petunjuk tuhan.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحًا فَمُلَٰقِيهِ ٦[2]
Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya
Ayat dibawah ini memberikan isyarat bahwa akan adanya kesengsaraan yang menimpa pada manusia ketika berpaling dari mengingat tuhan.
وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ ١٢٤[3]
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.
Langkah pertama dalam menapaki jalan petunjuk Tuhan adalah dengan mengenali hawa nafsu ini
وَمَآ أُبَرِّئُ نَفۡسِيٓۚ إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيٓۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ ٥٣[4]
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Namun dengan kecenderungan itu seseorang bisa meningkatkannya dengan cara Tazkiyyah (mensucikan diri) dengan cara terus menerus intropeksi diri membenahi setiap kesalahan, dan meninggalkan sikap buruk.
وَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ ٢[5]
Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)
Kemudian beranjak pada taraf seseorang bisa mendapatkan ilham yang mana menjadikan batas keburukan dan kebaikan menjadi sangat jelas
وَنَفۡسٍ وَّمَا سَوَّىٰهَا ٧ فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا ٨[6]
Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya
Kamudian hati menjadi tenang dan memasrahkan semua tali kendali hidupnya pada jalan Allah Subḥānallāhu Wa Ta’ālā.
يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ٢٧ ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرۡضِيَّةً ٢٨[7]
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya
Pada puncaknya seseorang mampu ridlo terhadap garis ketentuan Allah dan Allah pun memberikan ridlo kepadanya.
وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ جَنَّٰتٍ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّٰتِ عَدۡنٍۚ وَرِضۡوَٰنٌ مِّنَ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ٧٢[8]
Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ´Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.
Lantas apakah kita ingin mengulangi untuk menanam tanaman yang mendapatkan hasil yang melimpah?
قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ٩ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠[9]
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya
Oleh: Jawahirul Mufti
[1] QS. Fāṭir ayat 15.
[2] QS. Al-Inshiqāq ayat 6.
[3] QS. Ṭāhā ayat 124.
[4] QS. Yūsuf ayat 53.
[5] QS. Al-Qiyāmah ayat 2.
[6] QS. Al-Shams ayat 7-8.
[7] QS. Al-Fajr ayat 27-28.
[8] QS. Al-Taubah ayat 72.
[9] QS. Al-Shams ayat 10.




