Beranda > Seputar Pondok > Peringati Nuzulul Qur`an: Gus Qayyum Ajak Santri Al-Anwar 3 Manfaatkan Waktu Sebaik-baiknya

Peringati Nuzulul Qur`an: Gus Qayyum Ajak Santri Al-Anwar 3 Manfaatkan Waktu Sebaik-baiknya

waktu

Media Anwar 3- Rembang- Dalam rangka meningkatkan kekhusyukan ibadah di bulan Ramadan, PP Al-Anwar 3 Sarang Rembang peringati Nuzulul Qur`an pada Senin (10/04/2023). Acara yang berlangsung di halaman pondok melibatkan seluruh elemen tak terkecuali pengasuh (KH. Abdul Ghofur Maimoen), sosok penceramah (KH. Abdul Qayyum Mansur), ustadz-ustadzah dan seluruh santri putra maupun putri. Acara khidmah ini juga sekaligus untuk memperingati Haul KH. Zubair Dahlan dan KH. Maimoen Zubair.

Dalam mengawali sambutannya, KH. Abdul Ghofur Maimoen mengutip perkataan Ibnu Athoillah al-Sakandari tentang bagaimana agar manusia dekat dengan Allah.

Man Lā Wirda lahu, Lā Wārida Lahu” yang bermakna orang yang tidak punya wirid itu tidak akan mendapatkan warid,” ungkap pengasuh yang biasa dipanggil Babah Ghofur.

Babah Ghofur menjelaskan lebih dalam makna antara keduanya, bahwa wirid mempunyai arti segala sesuatu (red: kebaikan) yang dilakukan secara terus menerus agar dekat kepada Gusti Allah SWT. Sedangkan warid adalah sesuatu yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Artinya, wirid adalah persembahan seorang hamba kepada Allah, sedangkan warid adalah pemberian Allah kepada hamba-Nya.

BACA JUGA :  Progam Diet Sampah di Lingkungan Pesantren

Nah, sekarang kita memperingati dua tokoh yaitu Mbah Zubair dan Mbah Maimoen. Dua tokoh ini juga punya wiridan yang dilakukan terus-menerus. Salah satu wiridan Mbah Maimoen itu kalo habis Subuh itu tidak akan keluar dari musholla sampai matahari terbit. Lalu salat Dhuha kemudian ngaji Ihya’ Ulumuddin,” terangnya.

Pada mauidzah selanjutnya, KH. Abdul Qayyum Mansur (Gus Qayyum) menjelaskan lebih rinci terkait yang didawuhkan Babah Ghofur. Diceritakan dalam sebuah hadis bahwa terdapat dua sahabat Nabi yang ketika bertemu dan akan berpisah salah satunya selalu membaca surah al-‘Ashr. “Al-‘Ashri (Demi waktu, demi zaman, demi masa). Inna al-Insana Lafi Khusrin (Sesungguhnya manusia sungguh di dalam kerugian)

Kemudian Gus Qayyum menambahkan alasan kenapa harus surah al-‘Ashr. Sebab, pada hakikatnya manusia selalu dalam posisi rugi. Hal ini menurut Gus Qayyum terlihat ketika bagaimana kata sambungan kata “inna” dan “insan” dalam al-Qur`an hampir semuanya selalu menunjukkan keburukan-keburukan manusia (negatif). Karena dasar inilah, al-Qur`an memberikan sedikit konklusi bahwa manusia sebenarnya dalam posisi rugi sebagaimana dalam ayat surah al-‘Ashr tersebut. Bahkan Fakhruddin al-Razi dalam kitab tafsirnya, Mafātih al-Ghaib, juga menegaskan bahwa dalam konteks “Lafi Khusrin” manusia rugi meskipun di dalam surga sekalipun.

BACA JUGA :  TAKBIRAN DENGAN SOUND HOREG PERSPEKTIF FIKIH

Salah satu contoh bahwa manusia dalam posisi rugi adalah melakukan hal-hal yang tidak berguna. “Nah kita pun sering membuang waktu, sering memainkan WA yang tidak perlu, mengomentari negatifnya seseorang, di TikTok. Itu sebetulnya membuang waktu. Nah, dari kebiasaan seperti ini apa yang hilang? Ilmu. Kebiasaan seperti ini apa yang hilang? Warid, seperti yang disampaikan K. Abdul Ghofur tadi,” ungkap Gus Qayyim.

Atas hal di atas, Gus Qayyum mengajak para santri al-Anwar 3 untuk bisa menjaga waktu dengan sebaik-baiknya agar tidak mendapat rugi. “Jadi inilah yang saya sampaikan. Dan terakhir, kenapa manusia membuang-buang waktu? Karena bersenang-senang. Kita hemat waktu, kalau tidak pegang HP satu minggu, tidak terhibur dengan WA, TikTok dan sebagainya. Enak. Ilmu dapat, ibadah dapat, hafalan dapat,” terangnya.

(Red/MFF)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *