Beranda > Senggang > Opini > Meluruskan Paradigma Kurban

Meluruskan Paradigma Kurban

kurban idul adha

Hari raya Idul Adha, juga biasa kita sebut dengan hari raya kurban. Dimana banyak orang Islam dari berbagai kalangan melakukan proses penyembelihan (pemotongan) hewan ternak (sapi atau kambing). Kemudian dibagikan kepada sanak saudara, tetangga, lebih-lebih kepada yang membutuhkan. Dan kita baru saja merayakan sekaligus menikmatinya kemarin.

Kita tahu, proses penyembelihan kurban ini merupakan sunnah yang sangat dianjurkan (muakkad) kepada umat Islam yang memiliki kemampuan berkurban. Secara sosio-psikologis, kurban bisa juga mengandung ajakan ergonomis dalam beragama maupun bernegara.

Berkurban berarti rela berkorban (sapi atau kambing), dengan niat meluruhkan kecongkakan nafsu materialisme yang membelit ego manusia. Dalam konteks bernegara, spirit berkurban bisa dijadikan pembersih untuk noda kemunafikan yang ada di dalam lingkaran kekuasaan negara.

Ketika Idul Adha tiba, di sana-sini ramai membicarakan kurban. Kalangan selebritis pun tidak mau ketinggalan. Bahkan dalam pengamatan saya, media rajin meliput proses kegiatan kurban dengan manis, mulai proses pembelian hewan hingga penyembelihan dan pemotongannya. Pada akhirnya, saya berkesimpulan bahwa kurban tidak lagi dihayati sebagai jalan transendensi diri, tetapi berubah menjadi gengsi.

Melihat fenomena yang terjadi, kemudian saya bertanya-tanya; sudah benarkah penerapan kurban saat ini? Ketika semua syarat terpenuhi, para pemuka agama sudah pasti menjawab iya. Tetapi saya rasa, terdapat sebuah kejanggalan yang barangkali jauh dari perhatian kita.

BACA JUGA :  Santri Selalu Siap Mengabdi

Karena berdasarkan catatan Global Hunger Index (GHI), pada tahun 2021 Indonesia menempati urutan ketiga tertinggi di Asia Tenggara dalam indeks tingkat kelaparan. Diperkirakan 8,3 persen rakyat Indonesia tidak mendapat gizi cukup.

Kesalahan Paradigma Kurban

Kelaparan merupakan musuh kemanusiaan. Kebanyakan orang lupa, termasuk juga agamawan, bahwa pada hakikatnya kurban mempunyai spirit sosial-ekonomi tinggi. Mereka seringkali tidak mau terlepas pada ritus, simbol dan janji-janji ganjaran metafisis.

Padahal jika kita lihat dan amati secara seksama, di sekitar kita terdapat berjuta-juta orang (saudara) yang membutuhkan makanan dan asupan gizi yang cukup. Pertanyaannya kemudian, mungkinkah prosesi tahunan (kurban) bisa membantu mengurangi angka kelaparan? Saya rasa tidak.

Kebanyakan orang minim perhatian akan hal ini. Sehingga, paradigma musiman kurban terlampau jauh menggiring opini masyarakat ke dalam momen-momen tertentu saja (formalistik).

Implikasinya, banyak orang menjadi enggan untuk menyembelih sapi atau kambing, kecuali pada hari-hari yang ditentukan (Idul Adha). Alasannya cukup sederhana; daripada menyembelih sapi sekarang, alangkah lebih baiknya menunggu Idul Adha saja, pahalanya juga lebih besar, katanya.

Ketika hari-H tiba, banyak kalangan menyembelih kurban bersamaan, pada saat itu pula daging-daging segar menumpuk, bahkan berlebihan. Kelaparan pun segara teratasi, meskipun dalam dua sampai tiga hari saja.

Sampai di sini, saya tidak bermaksud untuk mengubah tatanan normatif kurban. Tetapi saya agak geli melihat prosesi kurban di setiap tahunnya, yang mana telah mengubah paradigma masyarakat menjadi simplifistik. Alasan yang dikemukakan banyak saya temui di berbagai tempat.

BACA JUGA :  Salah Tempat Allāhu Akbar : Keagungan Atau Kesombongan?

Sebuah Konklusi

Melihat kurban sendiri mencitrakan konsep ergonomi yang sempurna, maka sudah pasti akan mengutamakan kenyamanan yang berkelanjutan. Oleh karenanya, tidak salah mengatakan bahwa kesalahan paradigma dalam kurban ikut andil dalam memperparah kelaparan di negeri ini.

Benar, kurban itu tahunan, tetapi spirit kurban sendiri tidak mengenal waktu. Ergonomi kurban justru hendak menata ekonomi tanpa menunggu musim.

Inilah tugas agamawan. Para pemuka agama harus meluruskan paradigma bengkok masyarakat yang terjadi sekarang ini. Sangat konyol kedengarannya ketika ada orang mampu, tetapi untuk berkurban saja masih menunggu Idul Adha. Inilah kesalahan mendasar yang sering luput dari perhatian.

Saya yakin, haqqul yakin, Allah SWT jauh lebih mengerti dan paham pada niat baik hamba-Nya. Allah tidak akan menyia-nyiakan niat baiknya, meski membagi-bagi daging di luar hari yang ditentukan.

Karena bagaimanapun, meluruskan paradigma semacam ini penting. Karena paradigmalah yang akan menentukan langkah manusia selanjutnya. Sungguh akan terasa indah, jika setiap setengah bulan, pejabat, artis, pengusaha dan orang mampu lainnya, rela berkurban untuk kemaslahatan negeri ini. Semoga! Wallahu A’lam

Penulis: Faid Fasyani

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *