Beranda > Keilmuan Islam > Pengurus > Dipengaruhi atau Pengaruhi Lingkungan?

Dipengaruhi atau Pengaruhi Lingkungan?

 Kausalitas Pengaruh

Ada yang bertanya, “kalau yang mempengaruhi perkembangan manusia, baik yang positif atau negatif adalah lingkungan, lantas siapa yang mempengaruhi lingkungan? Siapa itu lingkungan, kok segitu besar pengaruhnya? Segitu besar dampakanya ke manusia?”.

Pertanyaan ini perlu dijawab dengan baik, dan tentunya direnungi secara mendalam sebelum beranjak menjawabnya. Keduanya, lingkungan dan manusia memang saling memberikan pengaruh. Lingkungan merupakan wadah human living system, sementara manusia sebagai sub system yang ada dalam lingkungan tersebut. Keduanya tetap saling bercengkrama dan saling berinteraksi. Tentu, ini saling mempengaruhi. Tidak mungkin, tidak.

Manusia berkembang memang tidak lepas dari pengaruh eksternal, yaitu lingkungan. Ia akan berkembang sebagaimana lingkungan yang ia tempati. Kalau dia hidup dalam lingkungan positif, maka sedikit banyak, cepat atau lambat, dia akan menjadi pribadi yang positif. Kepositifannya banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.

Jika dia hidup di lingkungan yang tertib, cepat atau lambat dia akan menjadi pribadi yang tertib. Dia akan merasa harus menyesuaikan dengan lingkungan yang tertib tersebut. Malu kalau sampai dia tidak tertib. Lebih lanjut, ketidaktertiban akan menjadi hal yang tabu. Bahkan saat ia melihat ketidaktertiban saja akan merasa risih. Dan, secara otomatis enggan untuk melakukannya.

Sebaliknya jika dia hidup di lingkungan yang negatif, sedikit demi sedikit dia akan berubah menjadi pribadi yang negatif. Mungkin ketika awal dia hidup di lingkungan tersebut masih cangkung untuk berbuat negatif. Namun secara lahan, tapi pasti, ia akan melaju dan mengarah untuk melakukan hal-hal yang negatif. Biasanya ini terjadi dimulai dengan menganggap hal-hal yang negatif sebagai hal yang biasa, lumrah.

Pengaruh Lingkungan

Ada sebuah cerita, suatu saat ada dua warga Negara yang berbeda yang saling berkunjung. Mereka saling berkunjung di Negara masing-masing. Yang satu warga Negara Singapora dan yang satunya warga Negara Indonesia. Warga Negara Singapore berkunjung ke Indonesia, sedang yang sebaliknya warga Negara Indonesia berkunjug ke Negara Singapore.

Ajaibnya, ada hal yang berbeda yang berubah secara drastis dalam diri mereka berdua. Orang Indonesia yang terbiasa dengan hal-hal yang tidak disiplin, begitu masuk Singapore dia disiplin. Dia mau membuang sampah pada tempatnya tanpa harus diingatkan. Sudi membuang sampah pribadinya ke tempat yang semestinya. Padahal biasanya dia selalu membuang sampah di tempat sembarangan, ngawur.

Kalau di negaranya, dia biasa membuang sampah dengan asal lempar. Tidak peduli di jalan, di rumah, atau di tempat publik. Bahkan terhadap sampahnya sendiri, ia akan merasa tidak peduli dan tidak perlu peduli. Apalagi sampah orang lain yang ia sendiri merasa tidak memiliki sampah tersebut. Boro-boro mau membuang, malahan dia akan mudah acuh terhadapnya.

BACA JUGA :  Dilema Santriwati saat Dilanda Menstruasi

Sedangkan orang Singapore yang berkunjung ke Indonesia juga mengalami hal yang ajaib juga. Kita tahu bahwa di Negara tersebut komunitas masyarakatnya terbiasa dengan hal-hal yang disiplin, bahkan terhadap hal yang remeh temeh. Termasuk membuang sampah pada tempatnya. Jika dia memiliki sampah tapi tidak menemukan tong sampah, maka sampahnya tetap dibawa di kantong pribadinya. Tidak dibuang sembarangan dan serampangan.

Dia sendiri merasa malu kalau memiliki sampah, akan tetapi tidak bertanggung jawab terhadap sampah pribadinya. Dia akan berusaha tetap memegang sampah tersebut sampai nanti dia menemukan tong sampah. Kalau mendapati tong sampah baru dibuang, tapi kalau tidak mendapati terpaksa sampah itu tetap dipegang meski sampai di rumahnya sekalipun. Ini kesadaran tingkat tinggi dalam kultur budaya masyarakat Singapore.

Tapi anehnya sikap orang Singapore ini berbalik 90 drajat. Begitu sampai di Indonesia, dia tidak mau lagi membuang sampah pada tempatnya. Secara otomatis sampah yang dipegang langsung dibuang, atau dilembar ke tempat sesukanya. Dia tidak lagi merasa risih dengan sikap bar-bar yang dimilikinya ini. Malah tambah enjoy aja. Merasa hal itu tidak ada yang janggal.

Pribadinya merasa mendapat provokasi yang luar biasa dari orang-orang sekitarnya. Melihat orang yang dengan santai dan dengan damainya membuang sampah, melempar sampah sembarangan, ia merasa terpacu untuk melakukannya juga. Mungkin dia merasa rugi kalau tidak ikut ngawur. Yang cukup mencengangkan hal ini dia lakukan dengan tanpa sadar. Secara alam bawah sadar reflek ketidaktertiban tumbuh dalam dirinya dan menjadi dirinya secara utuh.

Sikap Head Cosmos

Hal menarik yang perlu kita ambil perlajaran dari kejadian orang Singapore dan orang Indonesia ini, betapa lingkungan begitu dahsyat membentuk karakter pribadi seseorang. Bahkan orang yang biasanya hidup dengan hal-hal yang negatif secara tidak sadar berubah menjadi pribadi yang positif. Begitupun orang yang biasanya berjibaku dengan hal-hal positif, secara tiba-tiba terbalik begitu saja menjadi pribadi yang negatif dengan kadar mencengangkan.

BACA JUGA :  Seberapa Pentingkah Self-Love dalam Kehidupan Kita?

Kalau memang begitu hebat dan heroiknya lingkungan mempengaruhi manusia, berarti kita butuh lingkungan yang bisa mempengaruhi diri kita agar lebih positif. Harapannya, lingkungan positif itu akan dapat merubah sikap dan karakter kita yang terbiasa dengan hal-hal negatif dan kadung menikmatinya. Ini yang menjadi titik kunci kebutuhan kita: kebutuhan lingkungan positif.

Lantas, dari mana datangnya linkungan positif itu? Apa dia datang dengan sekonyong-konyong koder hadir di hadapan? Lingkungan positif tiba-tiba mak jegagik siap menjadi superhero? Yang tiba-tiba siap menjadi bengkel bagi pribadi-pribadi negatif? Bahkan, bengkel bagi jiwa-jiwa yang kadung kedarung bangga dengan kenegatifannya?

Tidak! Tidak mungkin. Lingkungan itu bukan siapa-siapa, dan bukan apa-apa. Dia itu barang yang berupa awang-awang. Barang yang hanya sekedar menjadi wadah bagi para manusia. Ia akan tetap menjadi sebagaimana yang dikehendaki pemiliknya. Mau dibuat positif, dia akan menjadi potitif. Atau, kalau dibuat negatif, dia pun akan berubah menjadi negatif. Lebih jauh, akan sama-sama menyukseskan kenegatifan yang sudah ada dan ikut melanggengkannya.

Manusia sebagai head cosmos harus bergerak dan berubah, karena dialah pemilik sejati lingkungan. Dia tidak bisa hanya diam, sebab diam hanya melahirkan kenegatifan dalam system cosmos. Ia perlu, dan musti bergerak dan aktif menarik system cosmos alam ini. Saat manusia bergerak, berarti ia turut aktif dan memositifkan lingkungan tersebut. tapi jika sebaliknya, lingkungan akan menajdi sub cosmos yang negatif dan menegatifkan, sebab head cosmos memang berkehendak demikian.

Sekarang pilihannya ada di head cosmos itu sendiri, yaitu manusia, dan itu Anda semua. Sebagai head cosmos, apa yang akan anda kerjakan? Jauh sebelum itu, apa yang anda inginkan? Kenegatifan, atau kepositifan? Kejumudan, atau keterbaharuan? Kemajuan atau kemunduran? Kegalauan atau kebahagian? Jawabannya ada ditangan anda semua.

Silahkan dipilih dan diputuskan! Salam(*).

*Hasyim MQ. Head of HMP IQT STAI Al-Anwar 2018-2019. Pegiat literasi STAI Al-Anwar.

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *