Tuesday, November 30, 2021
Beranda > Senggang > Cerpen Santri > Kelotak Bakiak di Sebuah Mall

Kelotak Bakiak di Sebuah Mall

Oleh: A’abadia.

Aku akan kembali menulis, entah nanti tulisan ini akan berwujud seperti apa: sebongkah batu; secarik kain putih; sekuntum mawar; se-liter darah; ataukah sepotong senja. Bagaimanapun wujud dari tulisan ini, dengan pasti aku sembahkan tulisan ini hanya untuk kamu.

Baik. Aku akan memulai tulisan ini dari satu kata: deru.

***

Deru mobil terus membelah jalanan, Sumenep-Sarang. Perjalanan Syam dan Bento kembali ke Pesantren. Sesampainya di Bangkalan, Syam memerlukan singgah di sebuah mall terbesar dan termegah di Madura yang baru diresmikan tahun lalu oleh Pak Presiden.

Mobil bergerak memasuki pelataran mall.

“Bolehlah kita lihat-lihat dulu Ben, apa tak ingin membeli sarung atau baju takwa baru?” ucap Syam pada sahabatnya: Bento, yang mengantarkannya kembali ke Sarang. Setelah mobil terparkir rapi, mereka berdua-pun turun dari mobil.

Dengan berpakaian santri—sarungan dan berpeci—mereka asyik dan langsung memasuki gedung mall. Sendal bakiak yang dikenakan Syam begitu menarik perhatian orang sepanjang berpapasan, suara kelotak-nya terus menderu di setiap langkah kakinya.

“Setelah mengantarkan aku, kapan kamu kembali ke Istanbul?” tanya Syam sambil berjalan-jalan di gedung mall yang sangat megah itu.

“Entahlah Gus, mungkin barang dua minggu lagi. Aku masih perlu membantu bapak panen padi dulu sebelum kembali lanjutkan studi. Bapakku sudah tak kuat dan tak muda lagi.” Ucap Bento, lanjutnya “Oh ya, terus kapan kau lulus dari Sarang? Begitu sudah lulus susullah aku di Istanbul, Gus. Kita lihat dunia luar, Kota dengan seabrek sejarahnya. Aku mungkin masih lama disana, dua tahun lagi S1-ku rampung, dan insyaallah langsung melanjutkan S2 disana”

“Setahun lagi, Ben. Insyaallah, aku akan menyusulmu, mengambil S1 disana.”

Setelah berkeliling dari satu toko ke toko lainnya, Syam belum jumpa baju yang dicarinya. Sampai mereka tiba di depan toko Xardinal, melihat ada beberapa baju yang dicarinya, Syam langsung memasuki toko tersebut.

“Bento, kau tunggu disini ya, aku tak lama” ucap Syam.

“Siaaap”

Syam langsung memasuki toko tanpa menghiraukan dua wanita penjaga toko yang berdiri di depan dengan menggunakan rok pendek dan baju ketat.

Sambil menghibur diri, Bento yang menunggu di luar toko mengambil gadget lalu membaca beberapa tulisan sastra berbahasa inggris dan arab dari penulis-penulis masyhur dunia. Bento yang semakin asyik membaca karya sastra, tak terasa waktu telah mengalir setengah jam. Kemudian ia sadar dan menyusul Syam ke dalam toko.

“Gimana Gus? Dapat?” tanya Bento

“Ada, tapi gak cocok Ben”

“Ya sudah, coba kita cari lagi di toko lainnya”

Mereka berdua melangkah keluar meninggalkan Toko Xardinal. Dalam beberapa langkah mereka berdua, ternyata ada sesuatu yang mengikuti mereka. Sesuatu itu tak dirasakan Bento yang telah berjalan agak mendahului Syam, tetapi Syam yang berjalan agak telat ia rasakan betul ada pandangan tak mengenakkan yang mengekor pada punggungnya.

Syam terhenti pada langkahnya yang ke dua puluh satu, pada langkah itu ia memerlukan membalikkan pandangannya ke belakang. Terlihatlah dua wanita penjaga toko tadi yang menggunakan rok pendek dan baju ketat sedang menertawainya.

Dari arah seberang.

“Mba-mba sini” ucap salah satu wanita penjaga toko Xardinal tadi yang memanggil empat penjaga toko sebelahnya yang berpakaian sama ketatnya—sama seksinya.

Empat wanita toko sebelah menghampiri dua gadis yang memanggilnya, “Kenapa mba?” ucap salah seorang wanita penjaga toko sebelah.

“Tuh lihat, ada orang kampung masuk mall. Sendalnya kelotak-kelotak

“Mereka berdua ngirain ini masjid, mungkin”

Enam wanita penjaga toko tertawa pecah melihat Syam yang menggunakan sendal bakiak, jalannya mulai ragu-ragu.

Di jarak yang agak mendahului, Bento berhenti, “Kenapa Gus?” tanya Bento

“Ada yang aneh dengan penjaga toko Xardinal tadi, Ben.” Jawab Syam. Bento-pun melihat ke belakang dan mendapati enam wanita penjaga toko sedang tertawa menikmati bahan candaan mereka berdua: dua santri bersarung dan berpeci, satunya memakai sendal bakiak, kesasar mencari masjid. Tertawa mereka semakin menjadi-jadi dengan pembayangan meremehkan dan keanehan etika berpakaian yang bagi mereka tak sesuai pada tempatnya.

Bento yang tahu sahabatnya ditertwakan, langsung menghampiri empat wanita di depan toko Xardinal.

“Ben, Bento…mau kemana?” ucap Syam yang ingin mencegah sahabatnya. Cegahnya telat, Bento sudah melangkah cepat beberapa langkah di depan Syam.

Empat gadis di seberang yang melihat Bento berjalan cepat menghampiri, dengan cepat-cepat mereka berusaha menahan tertawaannya.

Sorry, is there something wrong from me and my friend?” ucap Bento dengan tegas, matanya langsung menatap dengan dalam pada beberapa pasang mata wanita yang bertaut jarak selangkah di depannya. Enam wanita seksi penjaga toko kebingungan dengan apa yang dikatakan lelaki dihadapan mereka. Mereka hanya saling melempar pandang satu sama lain. Wajah mereka menciut, jatuh didasar sendal.

Why? You can’t answer my question! You just good looking, but bad inside. Remember this, don’t judge someone by his style, because you never know about him” damprat kembali Bento, kesal.

Apakah kamu tak paham dengan apa yang dibicarakan saudaraku ini

afahimta kamaqola akhii?” tanya Syam pada gadis-gadis penjaga itu, mereka kini semakin bingung dengan bahasa yang digunakan Syam.

Kepribadian dan keintelektualan wanita-wanita penjaga toko yang seksi hanyalah omong kosong. Tampilan modern, isinya tolol!.

Coba kalian bayangkan, menciut ditambah kikuk, setelah mendapat hasilnya lalu di kurangi dada, paha, gadget, stocking dan satu kancing baju atas terbuka lalu dikalikan dengan ketololan tak mampu berbahasa Inggris dan Arab, berapa hasilnya? Coba dihitung dengan teliti. Setiap dari kita mungkin mempunyai jawaban yang berbeda. Setelah dicakar, hasil hitunganku adalah milyaran juta rasa malu yang tak mampu dibendung.

Setelah beberapa menit membiarkan mereka dengan ketololan, Syam kembali berbicara dengan bahasa yang mereka mengerti—bahasa Indonesia, “kata sahabat saya, apa yang salah darinya dan aku?” ucapnya, beberapa wanita hanya tertunduk. Lanjutnya “apakah kita berpakaian seperti ini lalu semena-mena kalian menganggap aneh? Maaf, kalo boleh berterus terang: kita berpenampilan seperti ini karena memang kita anak pesantren. Tapi akan salah besar kalau kalian menganggap pesantren terbelakang dan tidak modern atau tidak maju. Sekali lagi salah besar. Lihat penampilan kalian, modern? iya penampilannya, tapi tidak untuk isi otak kalian.”

Bento menjauh beberapa langkah di belakang Syam, ia membuang muka dan membelakangi wanita-wanita penajaga toko tadi. Entahlah, mungkin ia sudah jijik dan muak pada gadis penjaga toko tadi. mereka hanya tertunduk dan sesekali saja mengangkat pandangannya. Syam terus mencaramahi mereka.

“Maaf jika aku berkata seperti ini” ucap Syam, lanjutnya “Bagaimanapun juga kalian seharusnya tahu diri dan malu, karena kalian kerja di Pulau Madura, Kota Santri, pulau dengan penduduk yang terkenal taat-taat beragama. Mall ini baru dibangun tahun lalu, sedang Madura dengan adat istiadat dan keagamaannya sudah mendarah daging berabad-abad lalu. Lihat tingkah kalian, tidak madura, tidak kota dari luar sama saja!.” ucap Syam pada gadis-gadis didepannya itu. Ia tahu ada beberapa wanita penjaga toko yang asli madura dan ada juga yang datang merantau dari kota seberang.

Melihat keramaian yang tak wajar, dua satpam mall bagian lantai dua—yang juga orang Madura—bergegas cepat menghampiri.

“Maaf mas, ada apa ini?” tanya salah seorang satpam. Syam menjelaskannya dengan detail dan hati-hati, kedua satpam itu mengangguk dan mereka meminta maaf lebih awal. Lalu kedua satpam tadi meminta enam wanita penjaga toko untuk kembali bekerja.

Syam sudah tak mood membeli baju, ia mengurungkan niatnya. Kebalikan terjadi pada Bento, ia sekarang yang lebih bersemangat berbelanja barang tete bengek. Bento membeli: odol, sikat gigi, permen karet, air mineral dan tusuk gigi. Padahal semua barang itu ia tak membutuhkan, sampai Syam terheran-heran.

“Air mineral, Ben? di mobil-kan sudah ada beberapa botol air mineral?” tanya Syam

“Ssssttt…” sambil menempelkan jari telunjuk kanannya ke tengah-tengah bibirnya, Bento berisyarat.

Perbelanjaan dirasa cukup, Bento mengarah menuju ke kasir. “Excusme, is there discount?” tanyanya. Dengan kaku dan kaget seorang wanita penjaga kasir menjawab dengan bahasa yang sama.

Yes Sir, 20% if you buy more than one hundred thousand rupia’s.” ucap kasir

Untung yang ini sedikit bisa berbahasa inggris, kalo tidak huh. Bento membatin.

Oh, why I have to buy more than one hundred thousand rupia’s? why not thirty thousand rupia’s, according to mine.” ucap Bento mulai ngeyel.

Sorry Sir, this is procedur.

So?”

What do you mind, Sir?”

Nothing, sorry!

Sorry, Sir. Will you buy these?”

Offcourse!”

Setelah bento berbelanja dan sedikit ngeyel, ia dan Syam kembali melanjutkan perjalanan, Bangkalan-Sarang.

***

Berwujud apa tulisanku ini? Kamulah yang menentukan.

Aku tak berhak memaksakan kehendakku, sejatinya aku hanya berusaha. Tidak lebih.

(*)

Oktober, 2018

BACA JUGA :  SEBUNGKUS KENANGAN ATAMBUA
Fahrur Razi
Santri aktif pondok pesantren Al Anwar 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *