Tuesday, November 30, 2021
Beranda > Senggang > Cerpen Santri > Burhan dan Anak Kecil Yang Mencari Selimut

Burhan dan Anak Kecil Yang Mencari Selimut

Burhan sibuk keluar dari showroom mobil tempat ia bekerja sebagai salesman . Tangan kanannya menenteng tas yang berisi file-file klien yang dapat hari ini. Ia melirik jam di tangan kirinya, angka pada jam itu sudah menunjukkan pukul 17:45 yang berarti lagi azan maghrib akan berkumandang. Sejenak ia berhenti di parkiran tempat sepada motornya di parkir dan menimbang-nimbang apakah ia langsung pulang saja kerumah dan salat Maghrib di rumah. Mengingat jarak kantor dan kontrakkannya hanya bisa diselesaikan selama 20 menit dengan sepeda motornya, Burhan memutuskan untuk singgah dan salat di masjid yang tidak jauh dari kantornya, kira-kira hanya 6 menit jika menggunakan sepeda motor.

Sesampainya di masjid orang-orang sudah mulai ramai, dan tak lama suara azan terdengar dari pengeras suara di atas menara masjid. Suara yang membuat setan lari tunggang langgang, dan semua makhluk kecuali setan di langit dan di bumi memuji Nama-Nya. Setelah parkir, Burhan langsung menuju tempat wuḍu dan mengaliri mulut, hidung, telinga, wajah dan anggota tubuh lainnya. Kesegaran luar biasa diterima oleh Burhan. Segala yang dirasakan hari ini terasa hilang terbawa aliran air wuḍunya.

Selesai wuḍu Burhan langsung bergabung dengan jemaah yang ada di dalam masjid. Iqamat dikumandangkan dan tanpa diperintah semua jemaah berbaris rapi berjajar tanggung ṣaf-ṣaf yang kosong seperti barisan pasukan perang paling kuat yang takkkan pernah terkalahkan. Semua khusyuk menghadapkan wajah pada Sang Pengadil Yang Maha Adil. Usai salam semua memuji dan mengagungkan asma-Nya. Doa-doa terpanjatkan dari mulut setuju orang dengan hati yang sejujur-jujurnya. Burhan khusyuk bersyukur atas segala yang nikmat itu ia peroleh dan meminta agar ia selalu meminta itu baik dalam keadaan sempit dan baik.

Setelah lulus kuliah dan menjadi sarjana, Burhan menetap di kota itu dan mencari pekerjaan. Ia ingin membahagiakan orang tua dan beruntung di kampung halaman. Burhan adalah orang yang rajin dan taat beribadah seperti yang selalu di pesankan oleh kompilasi bersua via suara “kamu di sana jangan lupa salat dan ngaji. Kalo punya rezeki jangan lupa berbagi ”. Burhan menancapkan kuat-kuat di hati pesan dari didukung itu. Setelah mendapat ijazah ia langsung mencari kerja, mengirimkan surat lamaran ke lembaga atau kantor yang dikiranya membutuhkan tenaga sarjana. Hingga akhirnya ia diterima di salah satu showroom mobil sebagai salesman. Sudah sekitar 5 bulan sejak ia mulai bekerja hingga saat ini. Ia tak pernah lupa pada pesan untuk Berbagi. Tiap gajian ia selalu mengirim setengah uang dari gajinya ke kampung halaman dan menyisakan untuk memberi kepada yang membutuhkan, menyambut baru untuk keperluannya sehari-hari.

Burhan keluar masjid dengan tetap menenteng tas di tangan kanannya. Di parkiran ia lirik jam di tangan kirinya, angka menunjukkan pukul 18:15. Perutnya mulai. Burhan lalu mengeluarkan sepeda motornya dari baris parkiran dan memacunya ke arah warung makan yang tak jauh dari kontrakkannya.

***

Usai memenuhi hak perutnya, Burhan langsung mamacu sepeda motor menuju kontrakkannya. Tak jauh dari kontrakkannya, Burhan melihat seorang anak kecil yang duduk sambil memeluk kedua lututnya hingga menyentuh dada di depan emperan ruko bangunan yang sudah tutup. Pakaian yang dikenakan anak itu sangat lusuh dan badannya terlihat sekali sudah lama tek tersentuh udara. Ia memutuskan menghampiri anak itu karena hati nuraninya terpanggil.

Setelah memarkirkan sepeda motornya, Burhan langsung menghampiri anak itu dengan tetap menenteng tas di tangan kanannya. Anak itu kelihatannya tidak menyadari kedatangan Burhan.

“Kamu sudah makan?” Burhan bertanya kepada anak itu sambil badannya ikut duduk jongkok di sebelah anak itu.

Anak itu menoleh ke arah Burhan dan belum menjawab pertanyaannya. Sesimpul senyum langsung menghiasi wajah anak itu saat melihat Burhan menghampirinya dan menanyakannya soal makan.

“Nama kamu siapa?” Burhan kembali bertanya karena pertanyaan sebelumnya tidak dijawab oleh anak itu. Ada yang terasa menyentil senang melihat anak itu dengan semua kekurangannya masih bisa tersenyum untuk orang lain yang belum ia kenal.

“Nama saya Huda, dan saya sudah makan,” jawab anak itu. Tangan kanannya merogoh saku celana dan mengeluarkan 5 lembar uang 2 mantel.

“Saya cuma punya uang segini, Pak,” tambah uang itu untuk Burhan yang seketika bingung.

“Saya punya adik di gubuk tempat saya tinggal, tengah malam sampai pagi adik saya suka kedinginan dan kami tidak punya selimut, hanya kardus bekas,” anak itu memperbaiki tangan kirinya yang tidak memegang uang tangan kiri Burhan dan menyerahkan uang yang ada di tangan kanannya.

Burhan menunduk melihat yang harus diterima dari anak itu dan belum mengerti apa yang diinginkan anak ini.

“Kalo bapak punya selimut bekas yang sudah tidak terpakai, saya mau beli, saya tidak mau adik saya kedinginan lagi. saya tidak mau orang tua saya sedih di surga karena melihat adik saya kedinginan,” anak itu meminta dengan wajah yang tertunduk dan bulir udara jatuh dari mata dan membasahi pipinya

“Dari tadi sakit saya mencari yang ingin menjual selimut bekas, tetapi mereka semua selalu mengusir saya sebelum saya mengatakan apa-apa. Mereka mengira saya hanya pengemis dan ingin minta-minta. Tapi demi Tuhan saya bukan pengemis, Pak, saya hanya ingin membeli selimut bekas yang mungkin sudah tidak terpakai,” Anak itu menunduk semakin dalam. Bulir air semakin deras semakin berkurang.

Hidup itu kejam. Ya, mungkin memang sangat ada. Dalam kehidupan yang kejam ini tak ada yang disebut kesalahan, hanya ada pilihan, dan semua orang berhak memilih jalan yang didapat. Huda yang saat ini baru keluar 10 tahun harus membesarkan dirinya dan adiknya yang baru diundang 4 tahun untuk diri sendiri. Ayahnya meninggal saat ia meninggal 5 tahun. Sejak saat itu ia bersama berhasil bertahan hidup dengan menjadi pemulung dan tinggal di sebuah gubuk yang terbuat dari kardus-kardus bekas. Meski begitu ia selalu dididik oleh izin agar selalu mendapatkan sesuatu dan tidak pernah meminta-minta. Pada saat usianya menginjak 8 tahun, izin menyetujui ayah, dan sejak saat itu sendiri milik adiknya dan tetap menjadi pemulung untuk dapat menghidupi adik dan dirinya sendiri. Pesan diperbolehkan selalu ia pegang teguh,

Terasa ada yang menyumbat lubang hidung Burhan, dada seperti dipukul tepat di ulu hati. Tas di tangan kanannya jatuh. Badan lem seketika dan hanya bisa jatuh berlutut di hadapan anak itu. Hanya istighfar yang mampu keluar dari mulutnya. Hatinya meraung “Ya Allah, apa ini? Aku mengaku sebagai hambamu yang bersyukur, tapi anak ini…. “ raungannya tertahan. Wajahnya tertunduk dalam. Bulir air mengalir deras dari putaran.

Anak itu mendekat, lalu memeluk Burhan dengan erat. Seakan mereka adalah saudara kandung yang sudah lama tak bertemu. Ada rasa hangat yang menjalari tubuh Burhan. Perlahan rasa hangat itu berubah menjadi energi bagi Burhan untuk bisa membalas pelukan erat Huda.

***

Selalu ada yang tak beruntung di dunia ini dan selalu ada yang bisa mensyukuri ketidakberuntungan itu dengan keberhasilan itu sendiri. Seperti Huda, anak itu harus meminta-minta untuk mendapatkan selimut untuk adiknya yang kedinginan. Meski kekurangan serba kekurangan dan dirundung kemalangan.

Burhan mengundang Huda ke rumah dan memberi selimut yang biasa ia pakai saat tidur.

“Apakah ini sudah tidak terpakai, Pak? Selimut ini masih bagus. Saya takut uang saya kurang untuk membeli selimut ini ”.

“Tidak. Sekarang selimut itu menjadi milikmu. Bapak sudah tidak perlu selimut itu. Dan ini uang kamu simpan untuk keperluan kamu dan adikmu, ”Burhan menerima uang yang diberikan Huda sebelumnya disetujui dan ia ditambahkan dengan beberapa lembar uang 50 ribu.

Burhan ingin mengantar Huda pulang, namun Huda menolaknya karena tak ingin merepotkan. Akhirnya Burhan hanya mengantarnya sampai ke depan kontrakkan dan Huda menyetujui terimakasih lalu pamit pulang. Burhan hanya menyaksikan kembali Huda berlalu menjauh dan menyisakan tanya di dalam kemenangan “masihkah aku termasuk orang-orang yang bersyukur? Ya Allah.”

BANG YOF , Lahir dan besar di Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan. Tercatat sebagai Santri Al-Anwar 3 dan Mahasiswa Prodi PGMI di STAI Al-Anwar Sarang Rembang.

BACA JUGA :  Memoar GC. AMB: Perubahan Itu Pasti!
Fahrur Razi
Santri aktif pondok pesantren Al Anwar 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *