Tuesday, November 30, 2021
Beranda > Keilmuan Islam > Al-Imam Al-Jazuli (Muallif Dalail Al-Khairat)

Al-Imam Al-Jazuli (Muallif Dalail Al-Khairat)

Teman-teman, pernahkah kalian mendengar nama Al-Imam Al-Jazuli? Atau bahkan sudah pernah membaca kitab karangannya yang bernama Dalail Al-Khairat? tahukah kalian tentang sekelumit dari biografi beliau? Kalau belum mengetahuinya, alangkah baiknya kalian membaca tulisan ini, supaya kalian mengenal beliau lebih dekat.

Nama asli dari Syaikh Al-Imam Al-Jazuli adalah Abu Abdillah Muhammad ibn Sulaiman Al-Jazuly Al-Samlaly[1]. Beliau merupakan keturunan dari kabilah Samlalah di daerah Jazulah. Samlalah merupakan sebuah kabilah yang berasal dari Barbar yang telah menetap di propinsi Sus[2]. Syaikh Al-Jazuly adalah wali yang mampu wushul ila Allah, ulama besar, dan seorang pemimpin yang tiada duanya pada masanya.

Saat remaja, Syaikh Al-Jazuli mengenyam pendidikan di kota Fes, Maroko. Konon, beliau mengarang kitab Dalail Al-Khairat di saat beliau masih menuntut ilmu di kota tersebut. Sebuah riwayat lain menyatakan bahwa kitab tersebut merupakan kumpulan inti sari yang dikumpulkan beliau dari beberapa kitab yang berada di perpustakaan universitas Qarawiyyin[3].

Setelah menyelesaikan studinya di Unversitas Qarawiyyin, Syaikh Al-Jazuly pergi menuju daerah pesisir pantai, tepatnya di kota Dukalah. Disana, beliau bertemu dengan Syaikh Abu Abdillah Muhammad ibn Abdullah Amghar Al-Shaghir yang berasal dari Ribath Tith[4] dan langsung berguru kepadanya.

Setelah pertemuan tersebut, sang Imam menuju ke kota Asafi dengan tujuan berkhalwat (konsentrasi penuh) beribadah kepada Allah selama 14 tahun. Setelah ritual khalwat, ia mengajar beberapa murid disana. Banyak sekali masyarakat yang bertaubat di hadapan beliau. Kabar tentang beliau sangat terkenal di seluruh penjuru dunia. Selain itu, sering sekali beliau menampakkan sifat-sifat khariq Al-‘Adat (jawa: nyleneh), karamah yang menakjubkan dan pekerti yang luhur.   

Kehidupan Syaikh tidak selalu berjalan mulus. Di tengah-tengah masa  beliau mengajar di kota Asafi, terjadi fitnah besar yang berujung pada pengusiran beliau. Akan tetapi, beliau tak pernah patah semangat dalam mengabdikan diri untuk keilmuan. Segera beliau melupakan luka dan berpindah menuju kota Afrighal[5]. Di kota yang baru ini, beliau memulai kehidupan baru, mendirikan majelis-majelis keilmuan, serta bermasyarakat dengan baik. Dengan keistiqamahan beliau, bacaan-bacaan shalawat tersebar luas di seluruh penjuru Maghrib[6]. berkat bacaan-bacaan shalawat inilah seluruh daerah Maghrib menjadi makmur.

Beliau juga termasuk ulama yang memperhatikan kaderisasi. Beberapa muridnya telah di kirim ke seluruh penjuru dunia, diantaranya: Syaikh Muhammad al-Shaghir al-Sahli dan Syaikh Abdul Karim al-Mandzari. Kaderisasi yang di lakukan oleh beliau telah terbukti. Seluruh murid beliau menjadi ulama-ulama besar di daerah mereka masing-masing. Banyak pula masyarakat berdatangan untuk meminta solusi dan meminta di doakan oleh beliau. Sehingga jumlah santri beliau mencapai 12.665 orang dan mendapatkan barokah serta manfaat ilmu dari beliau. Jika dilihat dari sisi ini, mengindikasikan bahwa beliau juga mahir dalam hal pencatatan administrasi sejak zaman dahulu.

Seluruh waktu beliau dedikasikan untuk mengabdi pada ilmu dan masyarakat hingga sang pencipta memanggilnya pada musim panas 16 Rabi’ul Awwal 871 H di Afrighal ketika beliau sedang bersujud melaksanakan shalat subuh. Sangat di sayangkan, beliau tidak memiliki putra laki-laki sebagai penerus perjuangannya.

Setelah 77 tahun beliau meninggal, jasadnya di pindahkan dari kota Sus ke Rayadh al-Arus, sebuah gang yang terletak di kota Marakish[7]. Ketika makam beliau di gali untuk di pindahkan, terjadi sesuatu yang menakjubkan. Seluruh tubuhnya masih utuh seperti pertama kali dikebumikan. Bahkan, bekas dari cukuran rambut dan jenggotnya masih terlihat dengan jelas. Karena sebelum meninggal, beliau baru saja mencukur rambut dan jenggotnya. Beberapa orang juga mencoba menyentuh kulit beliau dan masih merasakan adanya aliran darah di balik kulitnya. Bahkan, kulit yang telah disentuh, dapat kembali seperti semula.

Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat kepada sang Syaikh dan semoga kita mendapatkan barokah dari beliau. Amin.   

      

Refrensi: Kitab Mathali’ al-Masarrat bi Jila`i Dala`il al-Khairat karya Syaikh Muhammad al-Hadi bin Ahmad bin ‘Ali bin Yusuf Al-Fasi dan beberapa sumber pendukung.

Catatan kaki:

[1] Al-Samlaly adalah nama lain dari kota Semlalia. Sebuah desa di kota Marakish Utara, Maroko).

[2] Salah satu propinsi di negara Maroko.

[3] Salah satu universitas yang berada di kota Fes, Maroko. Universitas ini dibangun pada abad ke-3 H/9 M, tepatnya tahun 859 M oleh Fatimah Al-Fihri.

[4] Sebuah kota yang terletak dipinggir pintu air di propinsi Azammur.

[5] Sebuah kota di daerah Mathrazah, Maroko.

[6] Kawasan Maghrib meliputi Maroko, Libya, Sinegal dan Andalus atau Spanyol.

[7] Ibukota Maroko.

BACA JUGA :  Kiat Pondok Al-Anwar 3 Cegah Covid-19; Pengadaan Wastafel Hingga Pemberian Madu ke Setiap Kamar
Fahrur Razi
Santri aktif pondok pesantren Al Anwar 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *