Thursday, October 22, 2020
Beranda > Keilmuan Islam > Santri ‘Ngimami’ Tarawih, Upaya ‘Deresan’ dan Bekal Social Experience 3 Juz

Santri ‘Ngimami’ Tarawih, Upaya ‘Deresan’ dan Bekal Social Experience 3 Juz

Sejak keputusan lockdown dan karantina wilayah dalam masa Pandemi Covid-19 ini dikeluarkan oleh pemerintah, masyarakat Indonesia mulai dibatasi dalam beraktifitas, baik untuk bekerja, belajar, maupun beribadah. Hal ini sebagaimana yang dituturkan Presiden Joko Widodo dalam suatu kesempatan ketika konferensi pers di Istana Bogor pada Senin (16/3/2020) yang lalu, “Kebijakan belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan ibadah di rumah perlu untuk terus digencarkan untuk mengurangi penyebaran Covid-19,” ujar Jokowi. Kebijakan ini memang menurut Jokowi sendiri sebagai upaya untuk mengurangi tingkat kerumunan dan tingkat kepadatan orang dalam suatu kegiatan. Begitu juga terkait keputusan 

Kementerian Agama yang menghimbau masyarakat khususnya umat Islam untuk melaksanakan segala bentuk ibadah di rumah, terlebih dalam rangka menyambut bulan Ramadhan 1441 H. Mulai dari peniadaan buka bersama, salat tarawih jamaah di masjid-masjid, tadarus al-Qur’an, hingga peringatan Nuzūl al-Qur’an mendatang. Tentunya hal ini menjadi bentuk kegelisahan pada sebagian orang, khususnya dalam salat tarawih.

Banyak sekali ‘sambatan’ dari beberapa orang atas pelaksanaan salat tarawih yang dilakukan di rumah. Mulai dari curhatan teman, cuitan orang-orang di beranda twitter, status facebook, juga bahkan dalam judul-judul sebuah artikel di situs jaringan web. Ada yang mengeluhkan tidak sanggup dan tidak layak menjadi seorang imam tarawih dadakan, ada yang ‘sambat’ setiap rakaatnya hanya membaca surat pendek itu-itu saja, ada yang bahkan di tengah-tengah salat berhenti tiba-tiba karena lupa dengan bacaan surat yang dihafalkannya. Melihat realita di masyarakat luar yang demikian, ternyata memang dampak Pandemi Covid-19 ini ada manfaatnya. Mereka bisa lebih bertanggungjawab terhadap kewajiban dari agama yang ditimpakan kepadanya, serta dapat dijadikan sebagai bentuk pembelajaran untuk kehidupan yang akan datang di tengah-tengah masyarakat sosial. Tentunya hal seperti ini merupakan hal yang wajar apabila dihadapkan dengan santri. Bukan masalah yang besar apabila mereka pulang untuk kemudian menjadi seorang imam tarawih di rumah masing-masing, terlebih karena memang santri adalah dutanya para kiai bukan? Jadi segala kesiapan dan kesigapan memang harus disiapkan dengan benar-benar (baca: matang).

 

BACA JUGA :  Sandalmu Sandalku

Bentuk pembelajaran dalam jamaah salat tarawih tersebut juga turut dirasakan oleh santri-santri di Pondok Pesantren Al-Anwar 3 Putri. Pasalnya, pelaksanan jamaah salat tarawih tidaklah sama sebagaimana jamaah salat maktubah di hari-hari biasa. Ketika salat lima waktu, jamaah para santri diimami langsung oleh beliau pengasuh, Nyai Hj. Nadia Jirjis. Sedangkan untuk salat tarawihnya, diimami oleh seorang santri yang sudah terjadwalkan, dengan makmum seluruh santri beserta mamah Nadia Jirjis. Tak jarang juga, Mamah menjadi bilal tarawih menggantikan para santri sebagaimana biasanya. Pelaksanaan salat tarawih dengan model seperti ini juga sudah dilakukan di tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, untuk tahun ini dan satu tahun sebelumnya, dalam setiap rakaatnya hanya membaca setengah halaman saja urut dari mulai juz 1, juz 2, dan juz 3. Artinya dalam satu kali salat tarawih (satu malam) membaca setengah juz dari tiga juz tersebut. Berbeda dengan 3 tahun sebelumnya, yang dalam satu kali salat tarawih bisa membaca satu juz al-Qur’an.

Berdasarkan penuturan salah satu santri yang menjadi imam tarawih yang terjadwal, yaitu Ika Wahyuningsih, dapat dikatakan bahwa manfaat atau tujuan dari pelaksanaan jamaah salat tarawih semacam ini ada beberapa hal, pertama adalah melatih mental atau psikologis santri, karena tidak hanya mengimami teman sendiri tetapi juga pengasuh yang dihormati. Tentunya hal ini sebagai pembelajaran kita sebelum nantinya terjun langsung di kehidupan luas masyarakat sosial. Kedua, sebagai upaya ‘deresan sing kenceng’, karena selain posisinya sebagai seorang imam, santri tersebut merasa memiliki tuntutan untuk lancar dalam bacaannya karena dirinya disimak dan dibenarkan langsung oleh pengasuh dan seluruh santri. Pelaksanaan salat tarawih ini dinilai juga merupakan wujud konkret pembelajaran seorang guru atau pengasuh yang ingin melihat santri-santrinya ketika mengamalkan ilmu yang telah didapatkannya selama ini. Bagaimana kesiapannya saat menjadi imam dan bagaimana tanggung jawab bacaan al-Qur’an yang telah dihafalkannya.

Kesiapan seperti ini, tentunya tidak hanya dirasakan oleh santri yang menjadi imam saja, beberapa santri yang menjadi makmum juga merasa dirinya ikut tertuntut untuk melanyahkan hafalannya sebelum salat tarawih dimulai, karena dia merasa ikut menyimak dan memiliki hak untuk membenarkan imam ketika suatu saat salah dalam bacaannya.

 

BACA JUGA :  Tauladan Hamba dalam Diri Ummu Mihjan

Gambaran ini merupakan satu contoh kecil saja dari pembelajaran-pembelajaran yang beliau pengasuh ajarkan kepada para santrinya sejak dini. Sebuah bekal yang nantinya diimplementasikan di kehidupan masyarakat. Penulis ingat betul tentang pesan yang pernah disampaikan Mamah Nadia pada saat kesempatan sowan sebelum seluruh santri dipulangkan ketika Pandemi ini, “Urip neng pondok iku yo ora mung pinter ngaji Qur’an karo ngaji kitab tok, tapi yo ngaji urip juga, ngaji dinggo bekal urip ketika mbak-mbak mangke berumah tangga dan hidup di masyarakat.” Kira-kira begitu pesan yang disampaikan beliau sambil tersenyum kepada santri-santrinya.

Berulang kali kesempatan yang beliau pesankan adalah mengenai bagaimana bentuk kepedulian dan ketanggapan kita terhadap apapun. Rasa tangggung jawab yang harus dimiliki meskipun untuk perkara sepele sekalipun. Karena dari hal yang terkecil tersebut seseorang dapat dinilai kualitas rasa tanggung jawabnya. Sebagaimana rasa tanggung jawab saat diamanahi menjadi imam tarawih untuk teman-temannya, juga tanggung jawab untuk muraja’ah hafalan al-Qur’an bagi santri lainnya.*

*Hafidzatul Hilmi; Santri asal Magetan.

 

BACA JUGA :  ANAK SUNGAI YANG MENJADI MUFASSIR

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *