Beranda > Senggang > Opini > Santri Siaga Siap Bersatu, Bangkit dan Tumbuh

Santri Siaga Siap Bersatu, Bangkit dan Tumbuh

bangkit

Indonesia merdeka sudah lebih dari setengah abad yang tidak lepas dari perjuangan seluruh bangsa Indonesia. Santri sebagai salah satu elemen bangsa telah menorehkan tinta pengabdian terhadap negeri. Pergerakan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari campur tangan santri.  Terbukti dari rangkaian sejarah 71 tahun silam, bertepatan pada tanggal 22 oktober 1945 terjadi peristiwa penting awal dari pergerakan “Resolusi Jihad Santri fi Sabilillah” dari PBNU. Meskipun perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang ingin direbut kembali oleh tentara Belanda itu terjadi sejak September, namun puncaknya melejit pada Oktober hingga pertempuran 10 Nopember yang sampai saat ini dikenal sebagai hari pahlawan.

Perjuangan santri tidak boleh berhenti pada titik itu saja. Masih banyak tugas santri yang harus diwujudkan di masa sekarang dan mendatang. Jika santri pada zaman penjajahan harus berperang melawan penjajahan demi pertahanan kemerdekaan, maka pada zaman sekarang santri harus melawan penjajahan yang lahir di era disrupsi ini. Berbagai informasi yang datang dari dunia digital tidak mudah disaring oleh seluruh elemen masyarakat di Indonesia. Platform yang mudah diakses banyak pihak memudahkan semua orang menerima dan menyampaikan informasi, terutama dalam bidang agama. Tidak pandang informasi itu baik atau buruk, mengandung hoaks atau tidak, memiliki unsur radikal, intoleran dan kesenjangan lain yang akan memecahkan rasa nasionalisme. Di situlah tugas santri sangat urgent untuk mempertahankan NKRI.

Pemuda santri siaga

Tugas santri dalam mempertahankan NKRI dapat terwujud dengan kesiagaan santri itu sendiri. Jika santri tidak bersiaga jiwa dan raga, maka bukan lagi santri dapat mempertahankan NKRI justru bisa saja menjadi biang perpecahan. Kesiagaan santri dapat diwujudkan melalui tempaan lahir batin yang dapat dirasakan ketika berada dalam pondok pesantren. Halnya “kawah candradimuka” pesantren menjadi tempat tempaan pengetahuan, karakter, emosi dan segala sikap yang perlu dipersiapkan agar dapat membumi dengan masyarakat serta menyelami dunia ruhiah bersama Allah dan kekasihnya Rasulallah. Oleh sebab itu, kesempatan besar bagi santri untuk memperkaya diri dengan ilmu dan akhlak adalah ketika berada di pesantren. Seperti dawuh KH. Abdul Ghofur Maimoen dalam sebuah pertemuan bersama santri-santrinya dalam rangka memperingati hari santri dan sumpah pemuda bahwa santri harus senantiasa cerdas, kerja keras, tahan banting dan bahagia.

BACA JUGA :  Ngemong Santri ala KH. Maimoen Zubair; Sebuah Refleksi Guru Bangsa

Santri harus cerdas dalam setiap keadaan, sehingga mampu mengetahui kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dan mengetahui apa yang harus dilakukan. Kerja keras dengan kecerdasan saling berkaitan. Jika kerja keras tanpa cerdas, maka hasil pekerjaan tidak akan maksimal karena tidak ada landasan untuk mengimbanginya. Tahan banting, santri harus dapat hidup dimana saja dengan bentuk tempaan yang bermacam-macam. Terutama ketika telah bermasyarakat, tentu lebih banyak tantangan yang harus dilewati para santri. Bahagia adalah wujud dari syukur atas segala nikmat yang diberikan Allah kepada hambanya. Dalam keadaan apapun susah maupun senang yang dialami dalam dunia pesantren harus tetap disyukuri dengan bahagia.

Bersatu, bangkit dan tumbuh

Rasa syukur dan bahagia yang harus dimiliki seorang santri sebenarnya lebih dari pada itu. Mengingat musibah akibat tersebarnya virus corona yang telah menimpa dunia, imbasnya juga dirasakan di dunia pesantren. Oleh karena itu santri harus pandai-pandai mengambil pelajaran dari kejadian ini. Sejurus dengan tema sumpah pemuda tahun ini, santri yang juga menyandang status pemuda harus bersatu, bangkit dan tumbuh.

Dalam kitab dalil al-Falihin li Thuruq Riyadh as-Shalihin karya Syaikh Muhammad Ibn Alan Ash-Shidiq diterangkan :

قالَ :هَذَا هُو المُرَادُ مِن حَدِيثِ (( حُبُّ الوَطَن مِنَ الإيمانِ)) أي : فَيَمبَغِي لِكَامِلِ الإِيمَان أَن يُعمرَ وَطَنُهُ بِالعَمَلِ الصَالِحِ وَالإحسَانِ

Sebagian ulama mengatakan: “ini yang dimaksud dengan hadis cinta tanah air adalah sebagian dari iman maksudnya, seyogyanya bagi orang yang sempurna imannya untuk memakmurkan tanah airnya dengan amal shalih dan kebajikan”.

BACA JUGA :  AL-AFWU (MEMAAFKAN)

Melalui dawuh tersebut dapat menjadi acuan bagi santri-santri untuk terus berkontribusi pada negeri.  Mengingat latar belakang  Indonesia dengan ribuan pulau, suku, budaya dan agama mengharuskan bangsa Indonesia mengemban tugas mempersatukan bangsa. Tidak sedikit kesenjangan yang terjadi akibat perbedaan ini. Walaupun dalam masa-masa kritis (terguncang oleh pandemi) nyatanya masih terdapat kesenjangan yang terjadi akibat heterogennya bangsa Indonesia. Di sini posisi santri sangat penting dalam menjembatani kebersatuan bangsa. Bukan santri yang melulu fokus pada komunitasnya, santri bukanlah golongan yang memandang golongan lain dengan perbedaan. Saat inilah campur tangan santri sangat dibutuhkan sekalipun terhalang oleh biliki-bilik pesantren.

Dunia pesantren yang terkenal jauh dan tertinggal dari perkembangan zaman tidak seharusnya menjadikan santri tidak stagnan pada basicnya. Santri harus bangkit dari keterpurukan dan menghapus justifikasi tentang itu. Seperti paparan sebelumnya bahwa santri harus cerdas, maka santri harus mengetahui peluang-peluang yang dapat membangkitkan skill dalam dirinya. Penguasaan teknologi dan sains bagi santri sangat dibutuhkan saat ini. Soft skill maupun hard skill benar-benar dibutuhkan setelah masa-masa kritis bangsa Indonesia akibat pandemi seperti sekarang ini, guna kebangkitan bangsa Indonesia yang mengarahkan pada gerbang-gerbang persaingan dunia internasional tanpa meninggalkan nilai luhur negara Indonesia. Bukan saatnya santri-santri hanya berperan sebagai pengonsumsi produk dan inovasi. Saat ini santri juga harus tumbuh dengan berkontribusi sebagai produser yang menghasilkan dan mengembangkan inovasi sesuai kebutuhan yang selaras dengan ilmu agama.

Implementasi resolusi jihad santri Indonesia nyatanya tidak berhenti ketika prosesi pengusiran penjajah masa lalu. Sampai saat ini resolusi jihad santri terus dibutuhkan dan harus terus digalakan sesuai dengan keadaan masa kini. Santri harus bersatu, bangkit dan tumbuh.

By : MDT 3C PI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *