Saturday, October 23, 2021
Beranda > Keilmuan Islam > AL-AFWU (MEMAAFKAN)

AL-AFWU (MEMAAFKAN)

Memaafkan adalah terjemah dari bahasa arab “Afaa (عفا).” Secara bahasa, maknanya adalah menghapus atau melebur.

Jika makna ini dikaitkan dengan kesalahan orang lain, maka makna “al-afwu” adalah menghapus dan melebur kesalahan orang lain itu dari hati, hingga seakan kesalahan itu tidak pernah ada dan tidak pernah terjadi, hingga tidak ada dendam, tidak ada kebencian, dan tidak ingin membalas dengan keburukan yang serupa.

Kadang orang berfikiran matematis seperti ini, “Dia tidak mau memaafkan karena hendak menuntut balas di akhirat dan ingin mendapatkan pahala orang yang menzaliminya.” Dalam hadis Nabi SAW memang orang yang menzalimi pahalanya akan dikurangi dan diberikan pada orang yang dizalimi. Dan jika pahalanya tidak ada maka ia akan memikul sebagian dosa orang yang dizaliminya.

BACA JUGA :  Sya’ban: Ladang Beramal

Sikap ini memang dibenarkan, tapi bukan yang terbaik. Yang lebih baik dari hal itu adalah memaafkan kesalahan orang itu, baik di dunia maupun di akhirat, karena memaafkan adalah salah satu sebab seorang hamba mendapatkan ampunan Allah SWT.

Jika tidak memaafkan, ia hanya mendapat sedikit pahala orang yang menzaliminya. Namun jika ia mau memaafkan, ia akan mendapatkan pengampunan dosa-dosa dari Allah. Adakah yang lebih utama dari pengampunan seluruh dosa-dosa?

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (النور ١٨)

_. . . Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nur 18)

BACA JUGA :  BULAN RAJAB: BULAN MULIA PENUH KEISTIMEWAAN

Al-kisah, dulu Abu Bakar punya kerabat namanya Misthoh. Kerabatnya ini sangat miskin. Maka, Abu Bakar selalu menafkahi kerabat ini. Namun, tak disangka kerabatnya yang bernama Misthoh ini menuduh Sayyidah Aisyah melakukan Zina. Hal ini sangat mencemarkan nama keluarga Abu Bakar, terlebih Aisyah adalah istri Rosulullah saw. Hingga turun ayat yang menerangkan bahwa tuduhan itu tidak benar.

Abu Bakar sangat marah mendengar tuduhan ini. Ia tidak menyangka bahwa orang yang selama ini ia nafkahi menuduh putri yang paling dicintainya berbuat serong. Maka, Abu Bakar bersumpah tidak akan memberi nafkah lagi kepada Misthoh selamanya.

Mendengar perlakuan Abu Bakar itu, Rosulullah SAW menegurnya, “Wahai Abu Bakar, apakah kamu tidak ingin kesalahanmu diampuni Allah?”

BACA JUGA :  Siapkah Kita Menghadapi Puasa?

أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لكم

“Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?” (Qs. An-Nur 18)

Abu Bakar menjawab, “Iya wahai Rosulullah, aku ingin mendapatkan ampunan Allah itu.” Maka, Abu Bakar memaafkan seluruh kesalahan Misthoh dan memberi nafkah lagi pada Misthoh.

Abu Bakar mendapat kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan menjadi manusia terbaik setelah Rosulullah SAW salah satunya adalah dengan memaafkan kesalahan orang lain yang menzaliminya.

Sebagian wali-wali Allah amalannya adalah sebelum tidur mereka selalu memaafkaan seluruh orang yang pernah bersalah padanya.

Oleh : Ahmad Rifqi Azmi

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *