Tuesday, November 30, 2021
Beranda > Keilmuan Islam > Ngemong Santri ala KH. Maimoen Zubair; Sebuah Refleksi Guru Bangsa

Ngemong Santri ala KH. Maimoen Zubair; Sebuah Refleksi Guru Bangsa

Ngemong  (dalam bahasa Jawa) dapat diartikan sebagai permintaan perhatian, Kata ini erat sekali dengan jalinan hubungan antara orang tua dengan anak kandung. Terkait dengan lembaga pendidikan istilah  ngemong  jarang kita temukan, hubungan sebenarnya antara guru dengan peserta didik adalah bagaikan orang tua dengan anak. Seperti semboyan yang banyak kita temukan itu “Guru Adalah Orangtua di Sekolah”. 

Dalam dunia pendidikan formal “mendidik” dan “mengajar” lebih akrab dari ngemong. Selain itu istilah ngemong nampaknya belum memiliki padanan dalam bahasa Indonesia. Cakupan makna yang dikandung kata ini memang luas sekali.

 Tulisan ini adalah salah satu bentuk refleksi terhadap sosok yang dianggap berhasil ngemong terhadap santri khusus dan juga semua kalangan umum. Sosok yang dimaksud adalah Kiai Kharismatik yaitu,  al-Maghfurlah  KH. Maimoen Zubair. Dia dilahirkan sebagai kompilasi bangsa muda yang dirancang untuk mendukung satu, berbangsa satu dan bertanah air satu, Indonesia. Di Hari Sumpah Pemuda yaitu, 28 Oktober 1928/1347 [1] beliau disetujui oleh Ibu Nyai Mahmudah Binti Kiai Ahmad Bin Syu’aib, istri dari Kiyai Zubair Bin Dahlan.

Rihlah pendidikan beliau selain menimba ilmu dari persetujuannya sendiri juga pernah nyantri di Liboyo, berguru untuk para ulama seperti Kiai Abdul Karim, Kiai Marzuqi, Kiai Mahrus dan Kiai lain yang menjadi sumbernya ilmu. Selain itu ia juga pernah menimba ilmu di Mekah, berguru kapada Sayyid Alawi Al-Maliki, Syaikh Hasan Al-Masysyath, Syaikh Amin al-Kutbi, Syekh Abdul Qadir al-Mindili, Syikh Yasin Bin Isa aL-Fadani dan lainnya. 

Pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren al-Anwar yang juga pernah menjadi anggota ICIS (Konferensi Internasional Cendekiawan Islam) ini juga memiliki beberapa karangan kitab, seperti:

  • Tsunami Ahua al-‘Adzab am al-Musibah

Karya beliau membahas tentang fenomena alam yang terjadi di dunia, khusunya Indonesia. Buku ini adalah salah satu jawaban atas pertanyaan yang banyak bermunculan setelah dikirim Tsunami di Aceh. Apakah fenomena semacam itu termasuk bagian dari adzab ataukah musibah? Jika disetujui sebagai adzab bagaimana dengan korban yang masih saudara se-iman dengan kita? Bagaimana umat muslim harus menyikapi fenomena semacam itu? Pertanyaan semacam yang dijawab Mbah Moen melalui karya ini.

  • Manaqib Shohibul al-Haul al-‘Adzim Fi Qoryah Sedan (Sayyid Hamzah bin Abdullah bin’ Umar Syath ‘)

Kitab ini memuat biografi tentang seorang ulama yang dimakamkan di Sedan-Rembang. Sosok ulama yang lahir di Makkah juga lahir pada tahun 1363 H. Sayyid Hamzah Syatho ini merupakan cucu dari Sayyid Umar Syatho. Kitab I’anah al-Tholibin yang merupakan kitab penjelas dari Fath al-Mu’in merupakan karya dari Sayyid Bakri Syatho, yang tak lain adalah adik dari Sayyid Umar Syatho sendiri. Dalam manaqib tersebut Mbah Moen menjelaskan bahwa Sayyid Hamzah Syatho merupakan sosok yang alim, lisannya selalu tersibukkan dengan al-Qur’an, bahkan saat bepergian sebagai. Yang menarik lagi adalah Sayyid Hamzah Syatho mampu menghafalkan Nadham Alfiah Ibnu Malik mulai dari awal-akhir dan juga sebalikya, dihafalkan dari umpan terakhir.

  • Nusus al-Akhyar Fi al-Shoum wa al-Ifthar

Buku selesai selesai susun pada hari Sabtu, 01 Dzulhijjah 1418 H. Latar belakang disusunnya kitab ini sangat berbeda yang sangat menarik tarkait menembus hari raya raya dan akhir bulan Ramadhan 1418 Namun juga ada yang pada hari jumat. Masing-masing bersikukuh terhadap pendapatnya. Perbedaan ini semakin terlihat saat malam tiba, banyak yang sudah melakukan takbir hari raya belum juga sedikit yang masih menjalankan puasa. Dia sangat menyayangkan sekali fenomena seperti ini, berbeda yang didadasari oleh keinginan dan kepentingan pribadi.

Sebelum memaparkan penjelasannya, Dia memberi muqaddimah , yang memberikan tentang membedakan yang ada pada masa ulama mutaqaddimin . Perbedaan yang menumbuhkan rahmat, bukan berujung saling mencela dan membenci. Dia mencontohkan apa yang dilakukan Rasulullah, menyikapi nilai dengan sangat baik. Perbedaan yang terjadi pada imam Madzhab. Adanya empat mihrab di masjid-masjid seperti di Masjidilharam, Masjid al-Aqsha dan Masjid Nabawwi adalah salah satu yang membuktikan bahwa pada zaman ulama salaf tidak seperti sekarang ini, tampaknya menjadi senjata untuk saling membenci.

  • Tarajim Masyayikh al-Ma’ahid Ad-Diniyyah biSarang al-Qudama
  • Al-Ulama al-Mujaddidun
  • Taqrirat Bibad’i al-Amali
  • Taqrirat Mandumah Jauharah at-Tauhid
  • Taujiah al-Muslimin fi al-Wahdah wa AL-ittihad wa al-Indimam fi Hizb al-Ittihad wa at-Ta’mir
  • Maslak at-tanassuk al-Maki wa Takmilatuhu fi al-Ittisholah bi as-Sayyid Muhammad Ibn Alawy al-Maliki

Mbah Moen adalah sosok yang disebut mampu ngemong santri, masyarakat, pejabat, politikus dan semua golongan baik di bawah maupun atas, dari yang berada di istana negara atau yang dipelosok desa, kesemuanya dirangkul oleh Dia. Mengagumkan, Mengagumkan, Mengagumkan, Mengagumkan, Mengagumkan

Mbah Moen, yang juga pernah menjadi anggota MPR RI (1987-1999) ini memang memiliki keistimewaan dalam membangun komunikasi multikultural. Di berbagai acara saat mengajar santri, kerap sekali dia membahas pentingnya persatuan. Begitupun dalam beberapa karyanya, mengandung nafas persatuan bangsa. Backgraound budaya (Latar Belakang budaya) Yang Begitu Kompleks khususnya di Indonesia Memang Sangat Membutuhkan Sosok Yang Punya ghirah persatuan. Dan persatuan inilah yang hari ini terasa jauh dari bangsa kita.

Dunia pendidikan, khususnya lembaga pendidkan memang membutuhkan sosok pengasuh. Pengasuh tentu berbeda sekali dengan Kepala Sekolah atau Rektor. Pengasuh memiliki tugas yang tak tersentuh oleh seorang Kepala Sekolah atupun Rektor. Hal demikian alasan pendidikan bukan hanya soal transfer keilmuan belaka, tetapi lebih dari itu. Dunia pendidikan harus mampu memberikan kontribusi terhadap aspek peserta didik. Transfer keilmuan bukan hanya melalui tulisan, buku atau diskusi yang diberikan oleh seorang guru. Pendidikan juga harus mampu menjadikan hati siswanya sebagai kertas dan otak menjadi pensilnya. Ilmu adalah apa yang tertancap di dada bukan apa yang tertulis di lembar kertas.

Sosok pengasuh yang bisa ngemong santri yang diminta atas mungkin bisa tergambarkan dengan apa yang penulis lihat dalam diri Mbah Moen. Namun, sangat terbatas sekali jika sosok Mbah Moen yang sangat mulia juga luas keimuannya ini hanya dipaparkan dalam lembaran ini.

1. Kasih Sayang 

Kasih sayang mungkin termasuk hal yang sulit kita temukan di Indonesia hari ini, dunia pendidikan diwarnai dengan beberapa tantangan serta cara mendidik yang tidak bisa mengena dalam hati murid. Sebagai proses membenarkan suatu kesalahan yang dilakukan oleh peserta didik, diambilnya memang pada saat yang tepat yang diperuntukkan bagi siswa kemudian menggerutu, tetapi siswa dapat dengan sendirinya berusaha memecahkannya. Sebab dengan momen dan waktu yang tepat inilah saatnya nasehat akan selalu dikenang seumur hidup oleh seorang murid.

Saat kesempatan, saat ada santrinya yang berenang gondrong, yang menjadi larangan pesantren, Mbah Moen tidak kemudian meminta izin kepada shorih akan kesalahan yang dilakukan santri tersebut. Dia mengajak santri tersebut sholat mantap dibelakang Mbah Moen, kemudian sehabis sholat sambil mengelus rambut santri tersebut dia dawuh “kamu rambutnya bagus ya?” Seketika setelah jamaah selesai, santri kembali ke kamar dan mencukur rambutnya. 

Begitulah kasih sayang yang dicontohkan Mbah Moen kepada santrinya, versus terhadap santri yang nakal. Lebih banyak cerita yang dikeluarkan karena Mbah Moen melarang memboyong (mengeluarkan) santri yang nakal atau melanggar aturan pesantren. Dia berpesan untuk senantiasa mendo’akan santri yang nakal.

Demikian juga kita bisa melihat diri kita sendiri Nabiullah, Nabi kita sangat menyayangi santri-santrinya, tetapi nyata-nyata melakukan kesalahan. Seperti dalam hadis tentang seorang badui yang kencing di dalam masjid, Rasulullah tidak seketika menegur badui ini, menyambutnya, kemudian setelah selesai kencing, Rasulullah menjelaskan bahwa masjid menciptakan tempat kencing, sebagai tempat untuk mengambil Allah.

2. Perhatian

Memberikan perhatian kepada setiap orang atau siswa memang penting, perlu perhatian terhadap perkembangan siswa dapat membuat pendidikan menghambat bahkan untuk meningkatkan kesulitan. Perhatian yang diberikan akan terwujud pada proses transfer ilmu yang terjadi. Yang dikeluarkan menjadi masalah adalah skala prioritas pada siswa dalam kelas atau dalam sebuah komunitas, disitulah keterampilan pendidik yang benar-benar ditawarkan. Bagaimana pendidik dapat menguasai masyarakat tatkala mentransfer ilmu atau informasi.

Perhatian Mbah Moen bukan hanya pada santri yang berada di pesantrennya. Dia sangat meperhatikan dan menghormati tamu yang ada di ndalem nya. Semua tamu hampir pasti mendapat makan oleh dia kompilasi sowan. Seharusnya tidak perlu disetujui. Benar-benar memuaskan benar-benar menerima penghargaan yang diberikannya. Selain itu kompilasi acara di pesantren, ia tidak perlu meminta bantuan yang diberikan oleh panitia pada polisi yang ikut membantu kelancaran acara sangat dia terima, atau pada panitia-panitia lainnya.

“Bagaimana? Polisi sudah memberikan makan semua? Polisi dikasih pelayanan yang baik ya?” Begitulah kira-kira bentuk perhatiannya kepada semua orang. Begitupun pengakuan dari salah satu Kapolres Rembang yang mendapat tugas mengawal Mbah Moen, mengawal persetujuan meghormati beliau, menentang Mbah Moen lah yang sangat menghargai pengawalnya tersebut. Diajak makan bareng dan banyak memberi ilmu serta cerita-cerita tentang Rembang.

3. Teladan

Tindakan lebih mengena dari perkataan. Dalam proses mendidik hal yang tak kalah penting adalah memberi teladan, bukan menegur. Dengan memberi teladan, peserta didik akan lebih bisa menerima dari mendengar. Hal ini juga terdapat dalam diri Rasulullah seperti firman Allah pada surat al-Ahzab 33:21. Begitupun yang penulis saksikan dengan apa yang dilakukan oleh Mbah Moen. Dia banyak sekali meninggalkan banyak teladan pada kita semua. Beberapa bulan yang lalu banyak tersebar video kompilasi Mbah Moen ikut naik mobil patwal di Semarang, ia ganti pakai mobil pribadinya. 

Tak hanya berhenti disitu kita juga bisa menyaksikan apa yang dilakuakan Mbah Moen kompilasi sampai pada rambu-rambu jalan, ia meminta polisi tetap berhenti, padahal siapa yang akan marah kompilasi mobil tersebut menerjang rambu-rambu? Begitulah Dia memberi tahu teladan pada kita, meyakinkan kehidupan dengan tertib disetujui tidak merenggut hak sesama manusia.

4. Meragkul semua kalangan

Pendidik yang baik dapat memposisikan dirinya di tengah-tengah kultur yang heterogen. Karena tidak mungkin semua pelajar memerlukan dari sosial yang sama, mereka membutuhkan ilmu sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Disinilah tugas pendidik.

Tamu yang datang ke Mbah Moen sangat beragam macam latar belakang. Politikus, dari manapun partainya tetap diterima oleh beliau. Sementara dua pasangan calon presiden pun-sama bertamu kepada dia, Sementara dalam pandangan mata, dia telah menentukan pilihannya. Oleh karena itu mereka tetap diterima dan dihormati, persatuan adalah yang paling diselesaikankan. Perbedaan yang ada tidak dapat menyebabkan permusuhan.

 

BACA JUGA :  MBAH MOEN; CINTA YANG TAK PERNAH TUNTAS

5. Mendidik dengan hati

Benar sekali yang memecahkan soal belajar bukan melulu soal pemetaan ilmu atau informasi. Namun, lebih dari itu, pelajar harus mampu mengolah dengan menggunakan ilmu yang telah berubah menjadi pengalaman bermanfaaat bagi pribadinya. Belajar proses belajar bukan hanya aktivitas yang ada di ruang kelas, pendidik juga bukan hanya orang yang memakai dasi dan sepatu. Dalam hal ini Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara mengatakan “Jadikan Semua Tempat sebagai Sekolah, dan Jadikan Setiap Orang Sebagai Guru”.

Dalam hal ini Mbah Moen memiliki hati yang begitu mulia dalam kerangka memberikan pendidikan pada semua orang. Sopir, yang mungkin dalam pandangan banyak orang adalah suatu hal yang biasa, dimata Mbah Moen begitu luar biasa. Pesantren Dikalangan hal ini banyak disebut sebagai khidmah. Seperti pengalaman salah satu sopir yang oleh Mbah Moen diajak istirahat di hotel dan sekamar dengan Mbah Moen. 

Juga tardapat kisah yang mana Mbah Moen tidak pernah menjadi imam sholat jenazah dari orang yang dulunya menjadi sopir beliau, bahkan dia sampai menentukan mata air yang sedang diangkat sebagai pengemudi taksi tersebut. Tentu dibutuhkan hati yang sangat mulia untuk bisa melakukan semua hal tersebut. Sesuatu yang oleh banyak orang dianggap remeh, Sementara pada persetujuan berjasa besar. Hari ini mungkin sulit kita temui panutan yang mengajar dengan hati dan ketulusan seperti beliau. Justru kekerasan terhadap siswa semakin sering kita temui di Indonesia akhir-akhir ini.

6. Menyikapi perbedaan

“Perbedaan yang ada di umatku adalah rahmat” begitulah kiranya Nabi kita memberikan perbedaan, itulah perbedaan yang terpecahnya sebuah faktor persatuan, sebaliknya memahami rahmat akan kita rasakan. Tentu rahmat ini akan terwujud jika perbedaan disikapi dengan baik. Tangan, kaki, badan dan kepala adalah entitas yang berbeda, namun dengan kesemuanyalah orang dapat menjalankan tugas yang diemban di bumi ini. Perbedaan harus dibuat sebagai bagian-bagian yang saling melengkapi dan saling mendukung, bukan saling mendukung.

Begitu juga dengan seorang pendidik, harus mampu mengolah dan merespons perbedaan yang diterima. Mendidik siswa agar dapat menjadi penerus bangsa yang dapat mengaktifkan keutuhan NKRI. Menjadi pemuda yang siap menantang, Pemuda yang membuat demo sebagai ajang demokrasi, bukan ajang pertahanan.

Mbah Moen sering kali menggambarkan perbedaan ini, atau lebih membantunya disebut sebagai bangsa Indonesia, itulah bangsa ini adalah “Bedo tapi podo, podo tapi bedo”. Kalimat ini biasanya diketahui dawuhkan kompilasi membahas kemajemukan yang ada di Indonesia. Memang maksud dari istilah ini tidak lengkap dengan dia, namun kompilasi kalimat itu tidak dilepas dari konteksnya kita akan menemukan bangsa ini memiliki sekian banyak perbedaan, mulai dari agama, suku, bahasa, budaya dan lainnya. Namun disisi lain perbedaan itu dapat disatukan dengan keberadaan pancasila yang menjadi dasar negara ini. 

Di dalam lambang negara Indonesia ini juga terpatri semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu kesatuan. Mungkin juga sebab seperti ini di dinding ndalem Mbah Moen terpasang lambang Negara Burung Garuda dan foto presiden dan wakilnya. Pemandangan yang sangat jarang kita jumpai.

Begitulah Mbah Moen dalam menyampaikan ruh perbedaan, beliau menggunakan istilah yang unik. Namun, sebaliknya dengan keunikan inilah pendengar akan bisa menerima pesan yang begitu siap. Bagaimana pebedaan jika ditangan Mbah Moen akan bisa dirasakan rahmat dan keberkahannya. Sekalipun berbeda politik, beliau mampu menjadikannya hal yang wajar dan tidak selayaknya menjadi ajang pertarungan antar sesama. Selain itu, ia juga menyatakan bahwa PBNU adalah Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD. Hal yang sangat berbeda sekali dengan masyarakat yang mengartikan PBNU adalah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Lelucon-lelucon dari Mbah Moen seperti inilah yang membuat sebagian besar dapat menerima perbedaan.

Untuk membantu penulisan ini, kiranya berisi beberapa saran serta dawuh Mbah Moen yang mungkin bisa membantu serta membuat semangat bagi para pendidik.

“Yang paling hebat dari seorang guru adalah mendidik, dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar. Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan dengan hati yang teruji kesabarannya. Namun, hadirkanlah gambar yang menunjukkan satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga”

 

BACA JUGA :  Santri dan Pandemi

“Jika bisa meminjamkan yang mengajarkan banyak agama, maka ajarkanlah alif, ba, ta pada anak-anakmu. Lebih dari itu akan menjadi amal jariyyah untukmu, yang tak akan terputus saat dibalik sehingga bisa dipindahkan ke kuburmu”

 “jadi guru itu tidak perlu mendapat bikin pintar orang, nanti kamu hanya akan marah-marah kompilasi kamu tidak pintar. Memperbaiki ikhlasmu akan hilang. Yang penting niat mengembangkan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah kelak muridmu jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah . Dido’akan saja terus-menerus agar muridnya mendapat hidayah “

“Nak, kamu bisa jadi guru, dosen atau jadi kiai kamu harus tetap usaha. Harus punya usaha sampingan biar hati kamu tidak selalu mengharap bantuan atau bayaran orang lain. Karena usaha yang dari hasil keringatmu sendiri itu barokah”

Penulis: Mahfudz Sulqi, Santri asal Ponorogo Jawa Timur.

 

  1. Hari lahir ini hanya sebagai pengingat atau estimasi, yang mana sering kali dilakukan dan ditentukan pada orang dulu pada hari atau momen besar. Baca selengkapnya pada tulisan “Tanggal Lahir KH. Maimoen Zubair Bukan 28 Oktober 1928 ”.

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *