Thursday, October 22, 2020
Beranda > Keilmuan Islam > Berkat Lockdown, Kreatifitas Mahasantri Al Anwar 3 Putri Semakin Terasah

Berkat Lockdown, Kreatifitas Mahasantri Al Anwar 3 Putri Semakin Terasah

Sering bosan. Cepat jenuh. Tak pernah puas. Keinginan satu terwujud, muncul keinginan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Ya, itulah manusia. Mengakui atau tidak, namun itulah yang kerap dirasakannya.

Manusia sebagai makhluk yang disempurnakan dengan akal. Dengan akal manusia selalu berpikir untuk tetap dianggap tak berbeda. Berpikir untuk terus berkembang hingga melampaui target-target yang telah ditetapkannya.

Namun bagaimana manusia menanggapi lockdown? Apakah cukup dengan diam, rebahan, terlebih dengan segala aktifitas yang dialihkan online. Sangat membosankan bukan? Bagi yang memiliki kesibukan harus membagi waktu pribadi dan kepentingan kewajiban. Bagi yang tidak dapat beraktifitas seperti biasa harus berpikir keras akan mengisi waktunya dengan hal apa. Bagi saya itu sungguh merepotkan.

Sisi baiknya, manusia akan menggunakan akalnya semaksimal mungkin. Berupaya untuk kreatif memenejemen waktu. Berkreasi untuk memanfaatkan waktu, sehingga waktu yang terlewati akan terasa sangat berharga dan berkesan. Bagaimanapun dalam keadaan kepepet, produksi hormon adrenalin semakin meningkat yang berpengaruh pada cara kerja otak semakin cepat dan ide semakin mudah didapat.

Mengenai hal ini, tentu mahasantri putri Al Anwar 3 tak jauh berbeda. Bagaimanapun mereka tetaplah manusia. Dari beberapa curhatan yang terdengar, mereka cukup kerepotan dengan segala kondisi tak terduga ini.

Kalau biasanya mereka pulang karena memang liburan, itupun sudah ada jadwal yang mereka rancang untuk mengisinya. Seperti jalan-jalan, tabarrukan di pondok lain, silaturrahim di rumah teman, atau cukup memaksimalkan waktu dengan keluarga. Namun pada saat ini mereka pulang karena turut berpartisipasi gerakan meminimalis penyebaran Covid-19. Tentu masih belum ada persiapan matang, terlebih untuk semester dua, empat, enam masih aktif dalam kegiatan perkuliahan yang berbasis online.

Kendala mahasantri paling utama dengan kuliah online adalah referensi. Kalau biasanya mahasantri cukup mengandalkan perpustakaan kampus, kini mereka harus memilah dan memilih sumber referensi via internet yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Butuh kerja otak dua kali lipat pastinya, namun hal ini justru membantu memaksimalkan kerja otak sehingga kreativitas dapat semakin terasah.

“Kenyataannya kuliah online cukup sulit, karena tidak bisa belajar dengan bertatap muka secara langsung dan sulit mencari referensi dari buku-buku” Tutur Ariska Nur Farida- mahasantri asal Banyuwangi.

“Mahasiswa agak ada kesulitan referensi. Kurang bisa dipertanggungjawabkan. Hanya mengandalkan autodidak saja” Imbuh salah satu wali santri asal Lamongan terkait menanggapi kendala kuliah online.

Kendala kuliah online selanjutnya adalah paket data internet. Meskipun bukan utama namun hal ini sangat berperan penting untuk menunjang keberlangsungan serta kelancaran kuliah online. Beragam cara telah dilakukan oleh mahasantri putri untuk mendapatkan akses internet yang lancar dan hemat.

Seperti yang dilakukan oleh mahasantri yang tetap setia dengan paket data reguler, mereka cukup men-download materi-materi yang dianggap penting. Bahkan ketika paket data diambang kritis, mereka cukup rela berperan sebagai penyimak dan seringkali menomorduakan foto, video, dan voicenote yang bersumber dari teman sekelas mereka sendiri. Perjuangan mendapat sinyal juga terlukis sebagai sejarah. “Perjuangan ngirim tugas video mbak, tak relain ke kebon nyari sinyal” (Curhat mahasantri asal Pati). Berbeda ketika mereka memiliki pilihan. Seperti mahasantri Yusfatu Dhorifatil Azizah yang rela menghabiskan waktunya di rumah sang budhe demi lancarnya wi-fi. Terlebih mahasantri Aizzatin Fizzat yang berinisiatif memasang wifi di rumah sendiri dengan pertimbangan biaya yang relatif lebih menghemat.

Dampak yang dihasilkan kuliah online adalah timbulnya perasaan sungkan terhadap orang tua; sungkan karena pegang handphone hampir seharian, sungkan tidak dapat membantu pekerjaan rumah dengan maksimal, sungkan merepotkan orangtua karena menyiapkan beberapa hal untuknya, serta beragam rasa sungkan lainnya. Padahal orang tua sudah cukup mengerti dan memaklumi sistem online tersebut bahwa itu adalah kebutuhan, namun menurut mahasantri asal Banyuwangi perasaan sungkan muncul karena dia telah sadar dia sudah besar (usia dewasa). “Harus pinter-pinter membagi waktu antara pekerjaan rumah dan tugas kuliah, biar nggak kerepotan dan tetap bisa bantu orangtua di rumah” tutur Rosita Alfiani;mahasantri asal Pati. Jadi, ayo jaga kepercayaan orangtua masing-masing dengan mengoperasikan handphone secukup dan sewajarnya.

Mengenai beragam kendala kuliah online, Alhamdulillah mahasantri putri Al Anwar 3 telah mengatasinya dengan tindakan-tindakan yang kreatif. Bagaimanapun mereka adalah manusia yang memiliki beragam cara dari akalnya. Meskipun dengan cara yang berbeda, namun mereka tetap memiliki tujuan yang sama, lancar dan sukses kuliah online.

Tidak hanya memiliki kendala, kuliah online juga menampilkan sisi positif yang dirasakan beberapa mahasantri. “Belajar membuat video yang sebelumnya tak pernah terpikirkan,” pengakuan dari Amirul Husna; mahasantri asal Ponorogo. Berhubung dengan tugas ulangan tengah semester jurusan PGMI berbentuk video,bisa atau tidak mereka harus menyelesaikan tugas tersebut untuk mempertahankan prestasi tetap cemerlang. “Dapat memanfaatkan handphone dengan lebih baik,” imbuh Ariska Nur Farida.

Berbeda dengan pengakuan Hafidzatul Hilmi; mahasantri asal Magetan menurutnya sisi positif yang dirasakan ketika kuliah online, teman-teman lebih aktif berdiskusi, lebih gamblang saat berpendapat, kuliah tidak perlu duduk dalam kelas yang sama sehingga lebih beragam pendapat karena munculnya inspirasi dari suasana yang berbeda. Menurut pengamatannya, peningkatan keaktifan diskusi dalam mode online ini dipengaruhi oleh rasa tidak takut salah ketika berpendapat serta tingkat percaya diri lebih baik dibanding saat bertatap muka.

Meninggalkan bahasan kuliah online, hal lain yang perlu pemikiran kreatif saat lockdown adalah memanfaatkan waktu luang. Hari-hari yang biasa terlewati, waktu luang sering kali digunakan untuk moment bersama keluarga maupun teman, belanja, silaturrahim, jalan-jalan, dan semisalnya. Namun khusus keadaan lockdown saat ini, semua keluarga pasti juga sudah berkumpul bahkan setiap hari juga bersama. Ingin belanja, silaturrahim, ataupun jalan-jalan, tapi keadaan masih lockdown. Benar-benar harus putar akal menghempas rasa bosan jangan sampai mampir di jiwa kita.

Menilik postingan di akun sosial media teman-teman mahasantri Al Anwar 3 putri, mayoritas mereka memanfaatkan waktu luang dengan kreasi masakan, entah itu makanan yang sedang trending, minuman, bahkan membuat kue kering persiapan lebaran. Lain halnya dengan Wardatul Farisah; mahasantri asal Gresik dia memanfaatkan waktu luang untuk belajar usaha yang sedang digeluti sang ibunda. “Kalo gak kuliah, di rumah bantu-bantu mamak mbak. Ya, walaupun cuma masang kancing, hehehe” ngakunya ketika ditanya kegiatan yang dilakukan untuk menghilangkan bosan.

Minoritas mahasantri yang masih setia di pondok juga tak kalah kreatif. Meski dengan beragam batas yang sudah ditetapkan terkait lockdown, akal mereka terus berputar menciptakan beragam kreasi. “Video call keluarga , mulai pak e, buk e, pak dhe, mbah e, biar bosennya ilang” Ungkap Suad Helmina, mahasantri asal Purwodadi.

Masih beraneka ragam usaha yang telah dilakukan teman-teman mahasantri Al anwar 3 putri untuk mengusir rasa bosan, seperti membaca buku, mengaji, berkebun, memasak, dan kegiatan lainnya.

Semoga partisipasi lockdown ini dapat menyumbangkan sekian 0% dari langkah memutus rantai penyebaran Covid-19. Tak terhitung hikmah jika kita meluangkan waktu untuk meresapinya. Semangat memaksimalkan akal dan semakin kreatif ke depannya.

Oleh : Nur Alfiyah

BACA JUGA :  Sandalmu Sandalku
Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *