Thursday, October 22, 2020
Beranda > Keilmuan Islam > Alumni > Mereka Bertanya Barokah Itu Apa?

Mereka Bertanya Barokah Itu Apa?

Sewaktu keberangkatan saya ke Sarang beberapa waktu lalu, secara tidak sengaja saya duduk bersampingan dengan seseorang yang hendak melakukan perjalanan ke Bali untuk bekerja, katakanlah namanya AN.

Sepanjang jalan, AN banyak bercerita tentang kehidupannya yang serba ruet, serba tidak tenang. Kepergiannya adalah juga dalam rangka pencerahan dan penenangan jiwa, lari dari kehidupan rumahnya yang serasa tidak lagi berpihak. Dalam obrolan itu, saya sedikit bercerita perihal kehidupan di pesantren, mulai dari khidmah, kesadaran, sampai barokah.

Awal mula menginjakan kaki di Sarang, saya mengenal kehidupan santri yang unik, hampir semua urusan pesantren diurus oleh santri, mulai dari pembangunan, pelistrikan, pengairan, perdagangan, serta banyak hal lain. Dan semua itu mereka lakukan atas dasar khidmah dan ngalap berkah.
Saya juga tidak habis fikir, dalam pembangunan semisal, pesantren Sarang tiada henti melakukan pembangunan dan perluasan fisik. Tetapi saya tidak melihat lelah yang berarti dalam wajah Kang-kang Santri yang berkhidmah itu, setiap hari mereka terus bersemangat untuk membangun.

Bahkan, usia mereka itu beberapa sudah tidak lagi muda, tetapi masih aktif mendedikasikan hidupnya untuk pesantren. Dan juga banyak kawan-kawan saya yang lain yang berkhidmah, dan sedikit pun tak ada merasa rugi atau menjadi susah sebab khidmahnya itu, justru saya melihat ketentraman dari wajah mereka. Saya banyak belajar arti ikhlas, berkah, dan rasa syukur dari mereka. Lain waktu, saya ingin ceritakan pengalaman spesifik perihal tema ini.

Saya katakan padanya, saya merasa menjadi orang yang beruntung diantar oleh Bapak saya untuk mencicipi indahnya dunia pesantren. Ada banyak pelajaran yang saya dapatkan. Salah satunya adalah tentang barokah. Saya, adalah salah satu orang yang mempercayai bahwa Barokah bukanlah doktrin beku yang tidak berdampak sama sekali dalam diri seseorang.
Wajahnya membungah, “Wah Kang, aku dadi pengen mondok. Tapi aku kok wes tuo”. Saya tegaskan, bahkan ada guru saya yang sudah berkeluarga masih tetap berstatus santri Sarang. Anaknya saja baru lahir sudah jadi santri Sarang.  https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/t4c/1/16/1f642.png 🙂

Saya lanjutkan tentang barokah. Dalam pesantren, umumnya tidak ada pelajaran khusus tentang barokah. Banyak segmen di pesantren yang memang mengajarkan arti sebuah nilai bukan melalui teori tetapi melalui kehidupan praktis yang ada di pesantren, termasuk dalam menanamkan kepercayaan dan pemahaman terhadap barokah. Beberapa contoh praktik nyatanya adalah apa yang saya sebutkan di atas. Pesantren secara sukses telah mengajarkan esensi barokah tanpa berbelit dengan teori.

Lalu apa itu barokah?

Barokah didefinisikan secara singkat dengan bertambahnya suatu nilai kebaikan. Pengertian ini memang abstrak jika dipahami dari segi matematis. Sebab, hakekat dari barokah yakni bertambahnya kebaikan dalam diri seseorang. Ruang lingkup barokah tidaklah melulu pada takaran duniawi kebendaan. Dalam arti lain, barokah bisa kita maknai dengan nilai plus dari Allah bagi hamba-Nya baik secara langsung atau melalui perantara.
Nilai yang abstrak inilah yang membuat barokah sukar untuk dipahami atau bahkan diterima. Lha, bayangkan air minum sisa Kyai diminum, setelah itu apa dampaknya? Secara matematis, tidak bisa dibuktikan, tetapi secara psikologis, hal tersebut membawa dampak tersendiri bagi kami.

Kepercayaan terhadap barokah menjadi salah satu penanaman nilai karakter yang paling efektif dalam membangun karakter terpelajar. Kepercayaan tentang barokah ini pulalah yang paling membedakan antara santri dengan pelajar lembaga pendidikan lain.

Ilmu barokah tidaklah bisa dinalar. Makanya, rajin belajar itu penting. Tapi taat kepada kiai, pengasuh pesantren itu tak kalah penting. Karena itu bagian dari upaya memperoleh barokah.
Seseorang boleh jadi pintar, tetapi bila kurang barokah, ilmunya jadi kurang bermanfaat, kurang ada pengamalannya. Seseorang boleh jadi kaya, tetapi bila tidak berkah, ada saja yang tiba-tiba membuatnya cepat habis, serasa tetap merasa miskin di tengah tumpukan uang, atau justru uang tersebut membuatnya susah. Sebaliknya, meskipun miskin, tetapi bila hidupnya berkah, seseorang bisa merasa berkecukupan dan hidup dengan penuh penghambaan yang bersyukur.

Masih mbulet barokah itu apa? Halah, mungkin kopimu kurang pahit.

Sarang, 7 Juni 2017

Penulis : Akrom Adabi

BACA JUGA :  Ridha dan Qona'ah di Masa Pandemi*
Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *