Beranda > Keilmuan Islam > Nama-Nama Filosofis di Balik Kemuliaan Bulan Rajab

Nama-Nama Filosofis di Balik Kemuliaan Bulan Rajab

NAMA-NAMA FILOSOFIS DIBALIK KEMULIAAN BULAN RAJAB

Allah menjadikan setiap ciptaan-Nya bukan dengan tanpa sebab dan tujuan. Karena pada dasarnya, sekecil apapun benda yang diciptakan-Nya, memiliki unsur lain yang banyak tidak diketahui manusia. Unsur tersebut meliputi kelebihan, keistimewaan bahkan struktur nilai nilai hikmah, minimal sebagai bukti bahwa Allah tidak pernah menciptakan sesuatu melainkan terdapat nilai nilai kekuasaan yang teramat agung didalamnya. Terkadang untuk menandai sesuatu yang memiliki makna agung, manusia membekali sebuah benda atau hal, dengan memberikan nama padanya. Penamaan ini selain sebagai penanda, juga sebagai petunjuk makna mengenai suatu hal.

Nama menjadi tema penting bagi segala hal, karena dengan itu kita dapat mengenal secara jelas akan hal yang terdapat disekeliling kita. Sehingga dahulu Allah membekali Nabi Adam dengan ilmu yang tidak dibekalkan kepada mahluk yang lain, salah satu ilmu yang pertama kali Allah berikan pada Nabi Adam adalah mengenali segala hal yang terdapat disekelilingnya dengan petunjuk nama. Dengan mengenal nama-nama itu pula, nabi Adam menjadi lebih unggul dibanding dengan malaikat dalam hal mengenali nama-nama.

Mengenai hal ini, sejak jauh jauh hari al-Qur’an mengabadikan kisah tersebut dalam ayat :

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ ﴿البقرة: ٣١﴾

Dan Dia (Allah) ajarkan kepada Adam mengenai semua nama-nama, kemudian Dia perlihatkan kepada malaikat. Kemudian Dia berkata kepada mereka (malaikat): sebutkanlah kepadaku mengenai nama-nama benda itu, jika memang kalian benar.

Ayat tersebut mengajarkan kepada kita, manusia dijadikan mahluk yang dipercaya Allah sebagai khalifah dibumi, karena memiliki kemampuan untuk mengenali benda, hal, dan segala yang ada disampingnya. Kemampuan itu beragam bentuk dan jenisnya, sehingga ilmu manusia pun berbeda-beda kadar dan warnanya, karena penafsiran mengenai lafadz al-asma’ pada ayat tersebut mengalami berbagai macam penjelasan. Meski tidak dapat mengenali segala hal dengan persis, paling tidak kemampuan untuk memahami sebuah hal adalah sebuah keistimewaan yang dibekalkan kepada manusia.

Fakhruddin ar-Razi berusama memberikan pemaknaan mengenai lafadz al-asma’, belaiau mengatakan asma’ atau nama menurut beliau adalah, segala hal, baik sifat, unsur kekhususan, tanda, yang melekat pada hal-hal tertentu. Oleh karena itu, nama mengenai sebuah hal selalu memberikan interpretasi makna mengenai hal tersebut pula. Dan setiap nama akan membawa filosofinya masing-masing, untuk menunjukkan keistimewaan akan sebuah hal yang melekat pada nama tersebut.

 

Nama-Nama Bulan Rajab

Rajab, adalah salah satu bulan mulia yang begitu dihormati oleh Nabi Muhammad. Bukan sebuah kebetulan bulan tersebut dinamai sebagai Rajab, karena sesuatu yang memiliki kemulyaan, baik dari bentuk maupun penamaannya, pasti memiliki unsur lain, seperti sejarah yang melingkupi, faktor sosio-kultural masa lalu terkait Rajab, hingga kesan manusia, sehingga bulan Rajab memiliki kemuliaan bukan hanya sekedar sejak semula dia sudah mulia.

Nama Rajab memiliki unsur filosofis yang cukup dalam, mengingat pada masa sebelum kedatangan Islam, Rajab selalu dikenang dalam lingkup kehidupan jahiliyah, dan mereka memulyakan bulan ini. Memulyakan itu, dalam bahasa Arab berarti yurajjabu atau yang lebih amiliar lebih dikenal yu’adhdhamu yang artinya dimulyakan. Sehingga tradisi penyebutan ini – dalam satu pendapat – terus mengalir hingga datang era dimana Islam lahir dibawa oleh Nabi Muhammad, dan bulan mulia yang juga dimulyakan orang jahiliyah ketika itu, disebut juga dengan Rajab.

Mengenai nama-nama bulan Rajab, Abu al-Khattab Umar bin al-Hasan atau yang lebih masyhur dikenal dengan Ibnu Dihyah, menyebutkan beberapa nama yang secara pribadi dimiliki oleh bulan Rajab. Penyebutan ini tertulis dalam karya beliau berjudul Ada-u maa Wajaba min Bayani Wadh’i al-Wadhdha’ina fii Rajaba. Berikut beberapa nama dari bulan Rajab yang beliau sebutkan :

  1. Rajab
BACA JUGA :  Istighfar, Resep Mujarab Menjadi Generasi Bangsa Berakhlaqul Karimah

Dalam tradisi Arab Jahiliyyah, mereka cenderung gemar memulyakan bulan Rajab, dan kegiatan memulyakan tersebut mereka namai dengan yurajjabu, atau dalam istilah yang lebih falimiar kita kenal dengan yu’adhdhamu (dimulyakan). Dalam istilah Arab pula, rajaba memiliki makna yang sama dengan ‘adhama. Dan bentuk penghormatan orang jahiliyah terhadap tuhan-tuhan mereka, dengan menyembelih hewan-hewan, untuk diberikan kepada tuhan-tuhan mereka sebagai penghormatan.

  1. Ashamm

Pada saat datangnya bulan Rajab, telinga orang-orang kala itu ditulikan dari gangguan suara pedang yang berkecamuh pada saat perang. Artinya saat Rajab datang, tidak terjadi peperangan saat itu, dan momen itu mereka namani dengan Ashamm (menuli).

  1. Ashabb

Zaman dahulu terdapat sebuah suku yang terkenal dengan nama suku kafir Mudhar. Dalam beberapa literatur, mereka disebutkan sebagai suku yang sangat memulyakan bulan Rajab. Dan saat bulan Rajab telah datang, mereka mengatakan :

إن الرحمة تنصب فيه صبا

Sesungguhnya kasih sayang telah dilimpahkan dalam bulan Rajab dengan limpahan yang banyak.

Dari perkataan “shabb” inilah kemudian bulan Rajab dikenal juga dengan nama Ashabb.

  1. Rajam

Dinamakan Rajam, karena menurut sebuah pendapat, syaithan-syaithan dirajam pada saat datangnya bulan Rajab. Pendapat ini dikemukakan dan masyhur dalam tradisi suku Mudhar. Sehingga karena kepercayaan mereka, bahwa syaithan telah di rajam pada bulan Rajab, mereka juga menamai bulan ini dengan Rajam.

  1. Asy-Syahru al-Haram

Sebenarnya penamaan asy-Syahrul Haram ini sebuah nama yang khusus dimiliki oleh suku Mudhar juga. Alasan mereka menamai ini adalah karena kemulyaan yang terdapat dalam bulan tersebut, dan kepercayaan mereka (kaum Mudhar), ketika seseorang melakukan dosa dalam bulan Rajab, dosa tersebut bernilai sangat berat seperti halnya berbuat dosa di tanah Haram.

Ibnu Dihyah mengatakan, mengikuti pendapat ini hukumnya makruh, bahkan sangat dilarang. Karena kaum Mudhar ini memberi nama demikian, secara khusus hanya kepada bulan Rajab. Pada kenyataan yang sampai kepada kita saat ini, bulan haram bukan hanya Rajab semata, artinya Rajab adalah salah satu dari bulan haram itu, bukan satu-satunya.

  1. Harim

Harim (هرم) memiliki makna sesuatu yang telah terlampau jauh. Dinamai demilkian, karena kemulyaan yang melekat pada Rajab sudah terjadi sejak dahulu. Bahkan sejak zaman Mudhar bin Nizar bin Ma’d bin ‘Adnan, dimana Mudhar adalah salah satu tetua Rasulullah.

  1. Muqim

Dinamai demikian, karena memulyakan bulan Rajab adalah sebuah ketetapan yang tidak akan pernah hilang. Hal ini pasti, karena Rajab adalah salah satu dari empat bulan mulia. Sehingga mengingkari bulan Rajab, sama seperti mengingkari atas apa yang telah menjadi kesepakatan ulama’, bahwa Rajab adalah salah satu dari empat bulan mulia. Bahkan banyak literatur-literatur hadith yang juga menyatakan akan kemulyaan bulan Rajab.

  1. Mu’alla

Arti dari nama ini adalah sesuatu yang memiliki keluhuran. Dinamai demikian karena Rajab memiliki kemulyaan serta keluhuran. Bahkan dalam sebuah pendapat, diantara keempat bulan mulia itu, Rajab, Sya’ban, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, yang bagitu mulia adalah bulan Rajab.

  1. Fard

Arti dari nama ini adalah satu. Pengambilan nama demikian, salah satu alasan yang mengikat adalah logika secara syar’i, artinya bulan Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram. Dengan pengambilan nama ini, bukan berarti hanya Rajab yang memiliki kemulyaan, dengan menafikan bulan-bulan lain, namun karena satu disini bukan bermakna “satu-satunya”, melainkan memiliki makna “salah satu”.

  1. Munshilu al-Asinnah
BACA JUGA :  Keunikan Islam Nusantara dalam Buku “Islam Jawa: Kesalehan Normatif Versus Kebatinan”

Maksud dari nama ini hampir mirip dengan maksud yang terkandung dalam nama Ashamm, keduanya sama dalam hal meninggalkan perang. Munshilu al-Asinnah adalah sebuah istilah yang digunakan oleh orang-orang dahulu untuk mengekspresikan kegiatan mereka yang pada saat itu sedang tidak menggunakan tombak atau senjata perang untuk berperang. Kegiatan menanggalkan senjata perang ini, dimaksudkan untuk memulyakan bulan Rajab.

Dalam sebuah hadith yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari, melalui riwayat dari Abu Raja’ ‘Utharidi, disebutkan :

فَإِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَجَبٍ قُلْنَا مُنَصِّلُ الأَسِنَّةِ فَلاَ نَدَعُ رُمْحًا فِيهِ حَدِيدَةٌ ، وَلاَ سَهْمًا فِيهِ حَدِيدَةٌ إِلاَّ نَزَعْنَاهُ وَأَلْقَيْنَاهُ شَهْرَ رَجَبٍ.

Ketika bulan Rajab datang, kita berkata : munshilu al-asinnah, kita tidak menggunakan tombak, tidak pula menggunakan panah, kecuali kami tanggalkan itu, dan kami letakkan di bulan Rajab.

 

  1. Munshillu al-Alli

Nama ini memiliki arti yang sama dengan nama sebelumnya; munshilu al-Asinnah. Artinya, ketika bulan Rajab tiba, orang-orang dahulu menanggalkan senjatanya untuk tidak berperang.

  1. Munazzi’ al-Asinnah

Artinya adalah, ketika saat Rajab datang, orang-orang dahulu melepaskan peralatan perang mereka, meliputi tombak, panah, pedang, untuk menghormati bulan Rajab.

  1. ‘Atirah

‘Atirah memiliki arti menyembelih hewan. Hal ini senada dengan ungkapan suku kafir Mudhar sebelumnya, mereka merayakan kehadiran bulan Rajab dengan menyembelih hewan. Sehingga Ibnu Dihyah mengatakan :

العتر : بكسر العين العتيرة وهي شاة كانوا يذبحونها في رجب لألهتم

Al-‘Itr, dengan di kasrah ‘ain nya. ‘Atirah artinya adalah kambing. Mereka menyembelih kambing-kambing di bulan Rajab untuk tuhan-tuhan mereka.

  1. Mubarri-u

Arti dari penamaan ini adalah, kepercayaan orang dahulu, ketika mereka meninggalkan perang di bulan Rajab, maka mereka dikatakan telah bebas dari dosa.

  1. Muqasyqisy

Dinamakan demikian, karena dengan datangnya bulan Rajab, orang-orang yang serius menjalankan agamanya akan terjauhkan dari orang-orang yang gemar berperang, karena pada waktu itu, tidak terjadi peperangan dalam bulan Rajab.

  1. Syahrullah

Penamaan ini datang ketika Islam datang pula dibawa oleh Nabi Muhammad. Jika nama-nama sebelumnya lebih cenderung diambil dari kebiasaan orang-orang jahiliyah, maka ketika Islam datang, Rajab memiliki nama yang lebih sesuai, yaitu Syahrullah.

Begitulah nama-nama yang telah dijelaskan oleh Ibnu Dihyah dalam buah karyanya. Meski kebanyakan nama diambil dari kebiasaan orang jahiliah dan suku Mudhar, setidaknya kita dapat memetik pelajaran penting, – berdasarkan penamaan-penamaan yang mereka berikan -, tujuan mereka semua adalah baik, yaitu untuk memulyakan bulan Rajab.

Disinilah terlihat filosofi mulia dari bulan Rajab, sejak semula, bahkan sebelum Islam datang di tanah Arab, bulan Rajab sudah begitu mendapat perhatian khusus bagi komunitas setempat. Bahkan terdapat pula satu kaum Mudhar, yang hemat Ibnu Hajar al-‘Asqalani, adalah kaum yang begitu menghormati bulan Rajab, sehingga mereka mengatakan kemulyaan mengenai bulan ini melebihi segala bulan. Hingga datang sesudahnya tradisi Islam yang juga memulyakan bulan Rajab. Sehingga dengan tradisi-tradisi ini – baik dari jahiliyyah maupun dari Islam – kita memahami bahwa Rajab adalah bulan yang sejak dahulu sudah memiliki unsur istimewa dan dimulyakan oleh banyak manusia.

Sekian tulisan singkat ini, semoga dapat diambil manfaat.

Refrensi

Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari.

Fakhruddin ar-Razi, At-Tafsir al-Kabir : Mafatih al-Ghayb

Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari Syarah Sahih al-Bukhari

Ibnu Hajar al-Asqalani, Tabyiin al-‘Ajab bi maa Warada fii Fadhli Rajab.

Ibnu Dihyah, Kitabu Ada-i Maa Wajaba min Bayani Wadh’i al-Wadhdha’iina fii Rajaba.

Ibnu al-Mandhur, Lisan al-Arab

 

*Bayu Narimo

Salah satu Guru Muhadloroh Pondok Pesantren Al-Anwar 3 Sarang

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *