Tuesday, November 30, 2021
Beranda > Keilmuan Islam > Pengurus > MBAH MOEN; CINTA YANG TAK PERNAH TUNTAS

MBAH MOEN; CINTA YANG TAK PERNAH TUNTAS

KH Maimoen Zubair

Gerry Van Klinken membuka bukunya yang berjudul The Making of Middle Indonesia dengan pertanyaan; Apa yang mengikat Indonesia menjadi satu? Pertanyaan ini pernah tiba-tiba menjadi sedemikian mendesak ketika demonstran-demonstran yang meluas di tengah-tengah krisis ekonomi memaksa Presiden Soeharto yang otoriter mengundurkan diri pada bulan Mei 1998. Kata ‘disintergrasi tiba-tiba mencuat dalam berbagai pembicaraan kalangan beriringan dengan semakin kuatnya gerakan-gerakan separatif aktif di Papua, Aceh, dan Timor Timur.

Banyak yang berpikir, kala itu, bahwa masyarakat sudah sedemikian terpecah belah sehingga tanpa seorang pemimpin yang kuat di puncak, Indonesia akan terpecah-pecah seperti jazirah Balkan, jatuh kedalam fundamentalisme agama, atau terjerumus kedalam kekacauan ekonomi.

Beberapa orang yang telah lebih berpengalaman lama tentang negeri ini berbicara dengan lebih optimis mengenai kekuatan nasionalisme, bahasa yang satu, dan mengenai toleransi dan pluralisme yang selalu merupakan ciri khas penduduk Asia Tenggara ini. Namun di antara kelompok optimis dan pesimis terdapat kelompok yang merasa bahwa Indonesia, entah bagaimana akan mampu terus melangkah.

Dalam rentan dekade terakhir, Indonesia mengalami guncangan yang cukup keras. Kelompok-kelompok ektrimis mulai memperlihatkan kekuatannya dalam bentuk demonstrasi-demonstrasi, pemerintah terlihat mulai kehilangan kendali atas kapal yang tengah dinahkodainya. Memang tidak sedahsyat (atau memang belum sampai pada waktunya) pada tahun 1998 silam, tetapi kenyataannya Indonesia, diakui atau tidak, mulai membangun kembali dinding-dinding yang menjadi sekat antara satu kelompok masyarakat, dengan kelompok masyarakat yang lain.

Mungkin kita memang sudah seharusnya pesimis tentang keadaan Indonesia hari ini, dengan melihat kenyataan dan sejarah bangsa ini yang selalu dipenuhi konflik dan isu ‘disintegrasi’. Atau justeru seharusnya kita tetap optimis dengan kekuatan nasionalisme yang tengah mempertahankan keberadaannya dalam wacana kebangsaan. Entah, bangsa ini, seperti yang selalu dikatakan Clifford Geertz, sangat sulit untuk dibaca anatominya sebagai bangsa.

Kiyai Maimun Zubair, mungkin salah satu tokoh yang bisa merepresentasikan kelompok yang selalu optimis dengan Indonesia. Bahwa kekuatan nasionalisme bangsa ini tidak boleh diremehkan. Perasaan sensitif kita sebagai bangsa yang selama ini menjaga kita tetap bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya, meski konflik politik, ekonomi, dan sosial tengah berkecamuk.

Sulit menerka dari mana rasa optimisme Kiyai Maimun Zubair itu berasal. Semua tafsiran tentang kecintaan beliau terhadap negeri ini baik dari orang-orang terdekat maupun orang-orang yang merasa punya kedekatan dengan beliau, selalu tidak cukup untuk menjelaskan kedalaman hati Kiyai Maimun Zubair mencintai Indonesia.

Dalam satu kesempatan, ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya, saya secara langsung menjadi saksi betapa usia sepuh beliau bukan apa-apa jika dibandingkan cintanya kepada Indonesia. Dengan berpangku pada tongkat kayu, beliau berdiri, melawan sendiri usianya yang tak lagi muda.

Pertanyaan Klinken di awal tulisan ini, mungkin memang tidak akan pernah menemukan jawabannya secara argumentatif. Tetapi bagi sebagian orang (atau mungkin hanya saya), sosok Kiyai Maimun adalah jawabannya. Kesediaan beliau berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam keadaannya yang renta, adalah jawaban nyata bagi mata orang yang menyaksikannya. Bahwa ketika ada yang ragu tentang masa depan Indonesia sebagai bangsa, ketika perasaan mulai kehilangan keyakinannya terhadap kekuatan Panca Sila, sosok Kiyai Maimun merupakan jawaban yang tepat.

Hari ini telah genap 40 hari beliau pergi. Tetapi ada kekuatan yang sepertinya diwariskan kepada setiap orang yang pernah mengenalnya. Perasaan yang selalu dan akan terus hidup bahakan ketika beliau sudah tiada. Perasaan yang tak pernah terjelaskan, tentang keyakinan bahwa Indonesia, entah bagaimana, akan selalu mampu bertahan dan baik-baik saja.

Sugeng tindak, Yai..

*Habibussalam

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *