Beranda > Seputar Pondok > Meneladani Sikap Bersemangat dari Peringatan Isra` Mi’raj

Meneladani Sikap Bersemangat dari Peringatan Isra` Mi’raj

Isra' Mi'raj PP. Al Anwar 3

Isra` Mi’raj merupakan peringatan umat Islam yang tidak kalah istimewanya dengan peringatan umat Islam yang lain. Hampir setiap negara mayoritas Muslim melaksanakan peringatan Isra` Mi’raj.

Pada umumnya, masyarakat Muslim memperingati Isra` Mi’raj pada tanggal 27 Rajab. Namun, para ulama memiliki pandangan yang beragam terkait waktu terjadinya Isra` Mi’raj.

Sofiyurrahman Al-Mabarakfuri dalam kitabnya Rahῑq al-Makhtūm menyebutkan, ada enam pandangan ulama terkait waktu terjadinya Isra Mi’raj; (1) tahun kedua kenabian, (2) tahun kelima kenabian, (3) 27 Rajab pada tahun kesepuluh kenabian, (4) bulan Rabiul Awwal tahun ketiga belas kenabian, (5) sembilas belas bulan sebelum hijrah atau bertepatan dengan bulan Dzulqo’dah, dan (6) tanggal 27 Robiul Akhir satu tahun sebelum hijrah.

BACA JUGA :  Hasil Musyawarah Gabungan I MDT AL-ANWAR 3 PUTRA (Senin, 9 Oktober 2023)

Di Indonesia, masyarakat Muslim pada umumnya melaksanakan peringatan Isra` Mi’raj pada bulan Rajab. Peringatan itu sebagai teladan serta bentuk penghargaan terhadap nilai-nilai luhur peristiwa Isra` Mi’raj yang telah Allah anugerahkan kepada Nabi Muhammad Salla Allāh ‘Alaihi wa Sallam.

Salah satu teladan yang dapat diambil dari peristiwa Isra` Mi’raj adalah sikap semangat. Dr. KH. Abdul Ghofur, M.A -Gus Ghofur- mengingatkan bahwa peristiwa tersebut merupakan kelahiran baru bagi Nabi Muhammad dalam melaksanakan dakwahnya. Allah memberikan hadiah berharga kepada Nabi Muhammad untuk bertemu langsung dengan-Nya di Sidratul Muntaha.

Gus Ghofur bercerita, Nabi Muhammad sebagai utusan Allah diberikan tantangan dakwah yang sulit. Di dalam surah Al-Isra`, Allah berfirman:

وَمَا مَنَعَ النَّاسَ اَنْ يُّؤْمِنُوْٓا اِذْ جَاۤءَهُمُ الْهُدٰٓى اِلَّآ اَنْ قَالُوْٓا اَبَعَثَ اللّٰهُ بَشَرًا رَّسُوْلًا

BACA JUGA :  Halaqah Fiqh Haid : Realitas dan Problematikanya

94. Tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk datang kepadanya, selain perkataan mereka, “Mengapa Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?”

Nabi Muhammad merupakan manusia biasa (basyar), bukan sosok malaikat yang tanpa adanya rasa lelah. Itulah mengapa Allah memberikan semangat baru kepada Nabi Muhammad melalui peristiwa Isra` Mi’raj, perjalanan dari Makkah ke Masjid al-Aqsa hingga ke Sidratul Muntaha di waktu malam hari.

Semangat itu muncul setelah Nabi Muhammad mendapatkan kesempatan bertemu langsung dengan Allah Swt. Selain mendapatkan perintah salat, di dalam perjalanannya Nabi Muhammad dipertemukan dengan nabi-nabi terdahulu dalam rangka mendapatkan semangat menjalankan tugasnya sebagai Nabi yang terakhir.

[yu]

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *