Taman Pesantren Al-Anwar 3 PutriDalam sebuah tausiyahnya, Mama Nadia mengungkapkan dengan gaya guyonannya “Ini hotel suci ya, bukan penjara suci”. Ungkapan tersebut memiliki makna pengharapan yang cukup tinggi. Beliau menginginkan bagaimana pesantren ini menjadi tempat yang senyaman-nyamannya dan seindah mungkin, sehingga para santri lebih nyaman dalam beribadah, belajar dan melakukan aktifitas bermanfaat lainnya. Sebagaimana sudah maklum di kalangan semua orang, bahwa ketika menyebut kata “hotel”, pasti yang terbayang adalah tempat singgah yang menyuguhkan keindahan dan kenyamanan bagi penghuninya.Mama Nadia mengajak para santri untuk mengubah gaya hidup menjadi lebih baik. Salah satunya adalah dengan penggalakan program “diet sampah”. Beliau pernah secara langsung memberikan arahan kepada para santri mengenai gaya hidup baru yang akan diterapkan di pesantren serta memberikan instruksi prosedur diet sampah ini.Sebelum diterapkan program diet sampah, para santri membuang sampah tanpa memilah di tempat yang telah disediakan di setiap sudut komplek, yang kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir. Bisa dibayangkan, setiap harinya berapa banyak sampah yang turut disumbangkan oleh pesantren dengan jumlah santri yang hampir mencapai seribu.Hal ini mungkin terlihat telah menyelesaikan persoalan sampah di pesantren, tetapi nyatanya justru melahirkan masalah baru. Sampah yang terkumpul di pembuangan akhir akan dikirimkan ke TPA (Sulang, Rembang). Sedangkan setiap harinya sampah akan terus bertambah tanpa adanya penyelesaian. Persoalan ini sangat beresiko bagi bumi yang sudah cukup terganggu dengan berbagai macam sampah yang susah diurai oleh tanah.Berikut adalah perubahan gaya hidup diet sampah yang diterapkan di Pesantren Al-Anwar 3: 1. Menerapkan PlasticlessMenggunakan kantong plastik saat belanja atau membawa apapun menjadi hal yang biasa kita lakukan saat ini. Selain mampu menampung banyak barang, kantong plastik juga lebih aman karena tidak menyerap air. Nyatanya bukan hanya air yang kesulitan untuk menembus kantong plastik, bahkan bumi kita pun kesulitan untuk mengurai kantong plastik yang kita gunakan. Saking sulitnya, bumi kita sampai membutuhkan waktu 10 sampai 1000 tahun untuk menghancurkan sampah kantong plastik ini.
Pertama kali yang menerapkan plasticless ini adalah kantin dan koperasi pesantren, dengan tidak menyediakan plastik, baik untuk makanan, minuman ataupun kebutuhan lain yang dibeli. Sejak saat itu, para santri selalu membawa gelas untuk membeli minuman, membawa piring atau mangkuk untuk membeli makanan. Bahkan, tak jarang para santri membawa tas ketika berbelanja di kantin atau koperasi layaknya berbelanja di minimarket. Pada mulanya, santri merasa keberatan dengan peraturan yang ada, namun seiring berjalannya waktu, santri sudah terbiasa dan merasa enjoy turut berkontribusi menyukseskan program plasticless ini. Bahkan akan terlihat aneh dan menjadi sorot pandang ketika ada santri yang menggunakan plastik.
Shopping Membawa Tas Kain (plasticless)Demi berjalannya misi, pihak kantin pun turut bekerjasama dengan para penyetok jajanan dari luar pesantren untuk tidak menggunakan plastik sebagai pembungkus jajan. 2. Menerapkan “Memilah dan Mengolah Sampah”Pembuangan sampah yang diterapkan oleh pesantren Al-Anwar 3 di kategorikan berdasarkan organik atau tidaknya sampah tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam memilah dan melakukan daur ulang terhadap sampah yang ada.- Sampah Organik
![]() | ![]() |
- Sampah non-organik
![]() | ![]() |







