Thursday, October 22, 2020
Beranda > Senggang > Memoar GC. AMB: Perubahan Itu Pasti!

Memoar GC. AMB: Perubahan Itu Pasti!

Ada yang bilang: perubahan itu pasti, sebab kehidupan akan terus berjalan ke depan. Kehidupan tidak akan berada di tempat. Tentu perjalanan itu bisa belok, bisa juga lurus. Kalau ingin tidak kelimpungan, ya harus mau berubah. Jangan menjadi batu adas yang tidak bisa berubah. Akhirnya tersingkir gara-gara tidak mau berubah dan tidak bisa berubah. Sangat disayangkan bukan?

Setelah saya pikir ulang, omongan itu ternyata ada benarnya juga. Bayangan saya: bisa-bisa mampus, kalau tidak mau berubah. Apalagi kalau ternyata lingkungan setelahnya sama sekali beda dengan lingkungan sebelumnya. Ibaratnya anda dipaksa ganti kutub. Sebelumnya utara, sekarang selatan. Kalau tidak berubah, bisa mati kejang-kejang sambil berdiri. Kan ya nggak lucu juga melihatnya. Hahaha.

Ada banyak kenangan yang bikin ngakak watu saya masih mengenyam pendidikan di Al-Anwar 1. Kenangan-kenangan itu kalau diingat-ingat, bikin perut mules juga. Lumayan, buat mengenang masa-masa indah itu, saya membuat memoar ini. Terkadang dalam lamunan saya berpikir: kok bisa ya waktu itu enjoynya minta ampun. Meskipun sebenarnya situasinya tidak enjoy-enjoy banget, tapi tetap saja kita enjoynya tidak ketulungan. Ibaratnya, kita itu “Mbahe Enjoy” pada waktu itu. Hahaha.

Sekarang saya tanya: apakah Anda pernah tertawa gara-gara tidak ada hal yang lucu? Apakah Anda pernah tertawa terbahak-bahak, terpingkal-pingkal sampai perut anda mules gara-gara seesuatu yang tidak lucu? Saya kira jawabannnya, “Tidak Pernah!”. Masak iya ada kelucuan yang bikin ngakak timbul dari ketidak lucuan? Umumnya yang bikin ngakak ya yang lucu itu. Tapi ini beda. Khusus kelucuan yang tidak lucu akan saya tulis dalam memoir berikutnya.

Beda sama sekali. Tidak untuk sekumpulan kami. Grombolan penongkrong GC. AMB. Kumpulan anak GC. AMB yang super kocak. Yang terdiri dari para tetua waktu itu. Ada Wak Shobbah, Bos Amik, Mang Nam, Pung, Towel, Romli, Temom dan sebagainya. Kalau sama orang-orang ini, jangan tanya lucunya dari mana. Jangan pernah berpikir, “Kok bisa ya ketawa ngakak seperti itu? Padahal tidak ada yang lucu!” Bisa-bisa kamu yang tanya akan menjadi kelucuan gila bagi mereka.

 

BACA JUGA :  Menuju Diriku Sendiri

Saya ingat: sewaktu pagi yang cerah di bumi Sarang, kami―wak Shobbah, Pung, Towel Dkk―melakukan nongkrong bareng di DT. Momen yang sangat sayang dilewatkan kalau tidak dipakai nongkrong. Karena momen yang begituan itu momen langka. Pagi-pagi melek, banyak uang. Plus rokoknya juga enak―soalnya rokoknya wak Shobbah bisa didogol juga, wkwkwk. Ada gorengan yang masih anget-angetnya. Maklum karena momen yang begituan tidak bisa muncul setiap hari ada. Sebab lebih banyak bangkongnya dari pada meleknya. Atau kalau tidak bangkong, ya bokek. Wkwkwk.

Seperti biasa, obrolan dimulai dengan hal-hal ringan dan sederhana. Mulai tentang tadi malam ngelatih anak-anak, baik Battery line ataupun Brass Line; anggota yang perlu dilist; evaluasi kelembagaan dan sebagainya. Sampai ngobrolin bagaimana agar performance GC. AMB bisa lebih baik.

Di tengah obrolan itu, Pung membuka candaan: Aku wingi lo wak, karo Towel mari di palak pengamen neng Terboyo, cerita dia sambil ngebull rokok Sampoerna kretek.

Seraya keheranan, kami bertanya: La kok iso Pung. Piye ceritane?

“Bukane awakmu cah cilik Pung? Mosok yo pengamene tego malak awakmu?”, celutuk Wak Obah. Kami pun langsung tertawa ngakak.. hahaha. Maklum, emang orangnya kan kecil bin imut. Hahaha.

“Yo ancen cilik sih wak. Ijek pantes TK malahan!”, jawab Pung disambung ngakak kami.. wkwkwk.

Kemudian si Pung melanjutkan cerita:

“Maslahe gak ngunu wak… masalahe kui, aku seng gawe emosi tapi Towel seng dipancal. Hahahaha”, ngakak binalnya mulai kelihatan.

Kitanya pun langsung ikut ngakak. “Eidhan kuwe Pung….”, Hahahaha..!

Dengan penuh penasaran kami menuntut:

Terus kui piye ceritane?

“Awale kan ono wong ngamen wak. Ono sekitar cah telu. Seng loro iseh do neng ngarep. Seng siji mulai nariki wong-wong. Mari iku wonge nekani aku. Terus ngomong, “Mas, sak iklase mas”. Terus aku kan yo ngomong to wak: sepurane mas. Lagi nggak ndue duwet, prei..! lha mosok tak omongi ngunu tok wae kok ngamuk to wak? Kan yo aneh”, kenang dari si Pung.

Masih dalam ketegangan, si Pung melanjutkan cerita:

“Pas wonge ngamuk-ngamuk, terus deloki aku. Mari kui wonge maju, tapi kok balek mengguri maneh. La kok moro-moro ngamu-ngamuk. Terus ngomong ngalur-ngidul gak jelas. Ngunu kui terus ngomong neng Towel, “Omongi kui koncomu seng cilik kui. Sek sopan!”. Mari ngunu kok langsung mancal Towel wak. Towel yo langsung glepak neng kursi. Towel wae pas wayah kui yo langsung mules wetenge. Rodok jengkeng karo nyekeli weteng,” pungkas Pung.

Kami denger ceritanya itu, langsung tancap ngakak, “Huahahahahhaha…! Wo……… cah cilik, cah cilik!”

Tanpa basa-basi, Wak Obah langsung nanya ke Towel.

“Emange pas wayah kui awakmu ngeroso loro ta ura Wel?”
Dengan spontan dia menjawab, “Yo loro lah wak…! Ono ta piye dipancal kok gak loro?”

Akhirnya kami pun tertawa lagi, “Hahahaha” dan tertawa lagi sampai tidak tahu caranya ketawa. Lantas kita kembali ke Basecamp, menjalani rutinitas seperti biasanya, yaitu istirahat. Maklum, kan malamnya ndak tidur. Dan itu sebagai gantinya. Hahaha.

Bagi saya yang biasanya hidup dalam kondidi super kocak, kemudian pindah ke kondisi yang menegangkan, itu harus ekstra berubah, meskipun sulit minta ampun. Kondisi yang serius tidak pernah terbayang sebelumnnya. Atau malahan saya malas membanyangkannya. Itu ngeri Vroh! Bagi saya, ndak banget deh hidup yang kayak gitu seriusnya. Bahkan kalau waktu itu saya membayangkan, saya tidak habis pikir apa yang akan saya perbuat.

Tapi itulah kehidupan. Dia tidak pernah jalan di tempat. Dia akan selalu maju dan berputar. Siklusnya pasti akan berubah. Entah anda menginginkan atau tidak, semua pasti akan berubah. Saya ada nasehat yang sampai saat ini masih saya kenang. Nasehat itu muncul dari Wak Obah yang saat itu sedang menyidang anggota yang masih terlihat kekanak-kanakan.

“Kamu tidak bisa mengelak dari perubahan. Perubahan itu pasti. Sama seperti halnya perubahan dari masa muda ke masa tua. Itu pasti. Sebab semua orang pada waktunya akan tua juga. Tapi satu hal yang tidak pasti, yaitu adalah kedewasaan. Dengan kedewasaan, seseorang bisa bertanggung jawab”

Dengan nada yang agak ada penekanan, dan suara yang melirih―dan ini khas Wak Obah―, dia membuat closing:

“…Tua itu pasti. Sementara dewasa adalah pilihan!”

Untuk kondisi yang seperti ini: menjelas Ujian Akhir Semester (UAS), saya harus memantabkan kembali apa saja usaha yang akan saya lakukan agar nilainya tidak tejungkal lebih dalam.

Apalagi kalau ada tuntutan dari orang tua sambil mengancam,
“Awas kalau nilai kamu jeblok. Bisa-bisa gak dikasih mantu. *Eh uang saku!”, ngeri juga dengernya.

Kondisi yang seperti ini jelas sama sekali beda dengan konsidi pada 2 tahun yang lalu. Bagi kami waktu itu: ujian itu adalah liburan yang tertunda. Sebenarnya sudah libur. Tapi cuman dikasih acara ngisi soal, hehe. Makanya tidak ada ceritanya anak Muhadloroh menjalani hari ujian dengan muka masam. Muka cemberut. Apalagi pasang muka panik gara-gara tidak tahu kisi-kisinya. Jelas itu bukan anak Muhadloroh banget! Wkwkwk.

 

BACA JUGA :  Kipet

Yang ada malahan: siapa yang bisa mengerjakan soal dengan finish tercepat, berarti itu yang cerdas. Sedangkan yang ngerjain kok nyampek akhir, pasti akan mendapat julukan, “…Ketoro bento kui”. Atau setidak-tidaknya, “Mbah Wali”. Makanya waktu ngerjain soal pasti, rata-rata cepet neumpuknya. Masuk akhir, keluar awal. Kalau perlu ngerjainnya cuman 5 menit. Wkwkwk.

Tapi itu dulu. Sangat tidak tepat untuk sekarang. Makanya saya berusaha sekuat tenaga merubahnya, meskipun dibuat sempoyongan dan agak gila. Terlebih di SMT 5 ini. SMT yang terkenal dengan “Master Tugas”. Ups… maaf keceplosan. Hehehe. Dengan ini Saya tegaskan: saya akan merubahnya agar tidak terjungkal. Demi kebaikan. Demi tidak menjadi batu adas.(*)

*Oleh : Hasyim MQ. Essais, Kolomnis dan Pegiat Literasi.

 

BACA JUGA :  Burhan dan Anak Kecil Yang Mencari Selimut

Note:
*Cerita di atas mengalami beberapa penyesuaian, sebab tidak teringat secara detail.

*Dikutip dari laman Ujung Pena tahun 2017

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *