Beranda > Keilmuan Islam > Santri > Kesulitan Mendatangkan Pelajaran

Kesulitan Mendatangkan Pelajaran

kesulitan

Setiap manusia pasti tidak bisa lepas dari cobaan baik berupa kenikmatan maupun kesulitan. Keduanya memiliki hakikat yang sama, yaitu berasal dari Allah, Yang Maha Baik. Artinya, keduanya pasti bisa menarik banyak kebaikan. Namun, banyak manusia tidak menyadari akan hal itu. Mereka selalu bertanya “Kenapa kita tidak bisa menghindar dari merasakan sebuah keadaan di mana berbagai cobaan dan ujian datang silih berganti, berbagai musibah datang menerpa, berbagai kesulitan hidup menghimpit jiwa dan menyesakkan dada?”. Kemudian bertanya kembali “Kenapa ini bisa terjadi ?” “Apakah kita bisa melewati semua ini ?” “Seberapa kuat mental dan hati kita, padahal berbagai upaya telah ditempuh, berbagai ikhtiar dan doa telah dilakukan. Akan tetapi, permasalahan itu tak kunjung selesai, hanya tinggal kepasrahan kepada kehendak Allah yang menyelimuti pikiran kita?”. Semua pertanyaan tersebut selalu menyelimuti di dalam pikiran manusia tanpa ada jawaban yang menyertainya, sehingga menciptakan pengaruh yang negatif dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini merupakan sebuah dinamika hidup yang harus kita jalani. Sesungguhnya setelah kelaparan ada kenyang, setelah dahaga ada kesejukan, setelah bekerja ada istirahat, setelah sakit ada sembuh. Yang sesat akan menemukan jalannya, yang telah melalui kegelapan akan menemui secercah cahaya terang. Bagaimanapun hidup manusia, pastikan jangan membuat kita sedih. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sebagaimana firman Allah :

BACA JUGA :  Ngaji Zero Waste: Sebuah Gaya Hidup untuk Menjadi Manusia Positif

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ  اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ

“Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. al-Insyirah: 5-6).

Cobaan dan ujian yang pernah kita alami, juga pernah dialami oleh para kekasih Allah, para nabi yang tak akan luput dari berbagai permasalahan kehidupan. Rasulullah juga pernah mengalami berbagai cobaan dalam hidupnya. Percobaan pembunuhan, pelecehan, cacian hingga pemboikotan pun pernah ia rasakan. Namun, sungguh luar biasa ketabahan dan keoptimisan Rasulullah dalam menghadapi itu semua. Oleh karena itu, sebagai seorang mukmin, kita harus yakin bahwa setelah kesulitan akan datang kemudahan. Setiap musibah akan mendatangkan anugerah dan harus yakin bahwa apabila himpitan dan kesulitan itu telah mencapai puncaknya, maka insya allah akan berakhir dan terlewati dengan hadirnya kemudahan dan kelapangan, kemudian disusul dengan berbagai kebaikan, termasuk pelajaran.

Setiap manusia harus yakin akan adanya kabar gembira bagi malam yang gelap bahwa esok pagi akan terbit fajar terang dari puncak gunung dan celah-celah lembah. Maka, jika kita telah mendapatkan kebahagiaan, berilah kabar gembira bagi mereka yang dalam keadaan gelisah dan goncang bahwa akan muncul kegembiraan dan ada kelembutan tersembunyi di balik penderitaan itu.

Analoginya sederhana, ketika kita hendak menuju Jakarta dari Surabaya, dapat dipastikan bahwa kita tidak akan bisa langsung melihat Kota Jakarta pada langkah-langkah awal. Setapak demi setapak, hanya akan terlihat di depan mata kita berbagai pemandangan yang jaraknya hanya sekian meter dari posisi kita. Namun, bila kita terus berjalan, maka Jakarta akan segera terlihat oleh mata dan sampai pula kita di sana. Sesungguhnya, setiap muara ada hulunya atau sebaliknya. Ada ujung ada pangkalnya. Ada kesulitan, pasti setelah itu ada kemudahan. Ada musibah, pasti setelah itu ada anugerah dan hikmah. Ada penderitaan, pasti setelah itu ada kelapangan dan pelajaran. Karena hakikatnya kesulitan mendatangkan pelajaran.

BACA JUGA :  TAKBIRAN DENGAN SOUND HOREG PERSPEKTIF FIKIH

Jadi, apabila ada seseorang yang menimpakan madharat atau kerugian kepada kita atau ujian sedang datang kepada kita, maka lihatlah dari sisi lainnya. Apabila kamu melihat kegelapan, carilah titik terangnya. Apabila kamu dijamu oleh seseorang dengan secangkir jeruk nipis yang asam, maka tambahkanlah gula di dalamnya agar terasa manis. Apabila melihat hujan yang deras dan petir yang menyambar, maka sabarlah sebentar dan carilah pelangi yang akan muncul. Oleh karena itu, berusahalah melihat dan mengambil sisi baiknya dalam setiap keadaan, bisa jadi sesuatu yang terlihat buruk mengandung kebaikan di dalamnya, sebagaimana Allah berfirman

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216)

Oleh: Abdullah

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *