Thursday, October 22, 2020
Beranda > Senggang > Puisi Santri > TIRADE PENGUASA

TIRADE PENGUASA

Tiba-tiba sore menjadi kecil, dingin dan hijau

Ketika gerimis datang dan petang menjelang

Dari sebuah hari yang jauh, teramat jauh

Aku memandang orang-orang lari, terbirit-birit

Dari runcingnya hari

Aku ingat, seseorang pernah berkata:

Tidakkah ini hidup amatlah berharga?

Tapi dengan apa tuan, kata mereka

Haruskah kami hargai hidup ini

Bila yang berharga saja dapat dibeli?

Lantas, aku kembali bertanya

Pada daun-daun yang terpengkur di hadapan angin

Pada sisa hujan di ranting yang mengepul dingin

Adakah para penguasa merasa?

Wajah keruh seorang anak yang tengah berkaca

Wajahnya belepotan air mata

Menangis tersedu, diseduh wajah sedih anak itu

Hingga langit bermata teduh jatuhkan jutaan luh

Adakah para penguasa merasa?

Di pinggir-pinggir jalan suara nista menyatu bibir para pencibir

Dengan seribu bayang-bayang janji

Mereka kerap kali bermimpi

Demi kenangan pahit orang-orang diperbudak rasa sakit

Lantas, aku kembali bertanya

Pada dingin yang turun ke lorong-lorong waktu

Juga embun yang rebah pada tangkai patah yang mendesah

Adakah para pengusa merasa?

Para jelata yang hanya bisa memilin tangis

Berteriak histeris dan memukul-mukul tanah

Terasing, merebah lelah pada gundukan tanah

Adakah para penguasa merasa?

Dusta yang bertengger di pusat semesta

Padahal Tuhannya telah menitahkan

Dan segalanya adalah titipan

Wahai kau penguasa!

Kau pembohong!

Pendusta!

Pengkhianat!

Tidakkah kau saksikan bagaimana rasulmu mengajarkan?

Tentang amanat bukan khianat!

Tentang janji pasti bukan korupsi!

Tidakkah kau saksikan bagaimana rasulmu mengajarkan?

Ah.. pendusta, pembual!

Sampai kapan kau nikmati ilusi itu?

Padahal kelak kau kan kembali

Tanpa apapun, tanpa siapapun

Hingga akhirnya kau kan kembali

Menghirup udara tanah yang sepi

Bersama angin panjang dan batu rerumputan

Dalam pusara nestapa yang tak kau tahu…

“Puisi yang dibacakan dalam pentas maulid semalam, penulis sadar masih terdapat kekurangan dalam karyanya, dan penulis masih mengharapkan kritik & saran untuk karyanya yg lebih baik.”

Ummi Muizzah, Santri Pesantren Al-Anwar 3 Puteri, asal Senori Tuban

BACA JUGA :  Mahasiswa yang Kasmaran pada Makalahnya
Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *