Beranda > Keilmuan Islam > Pengurus > Silogisme Santri: Keadaan dan Gagasan

Silogisme Santri: Keadaan dan Gagasan

Dalam dunia pendidikan, kita sering dihadapkan dengan kerangka silogisme, terlebih era modern saat ini. Era ini menyakini bahwa tanpa adanya silogisme yang jelas suatu pemikiran tidak akan keluar dengan kualitas yang memadai. Bahkan sesuatu gagasan besar pun musatahil tercipta tanpa adanya silogisme dalam berpikir. Dengan tren yang demikian menimbulkan adagium “sesuatu yang muncul tanpa melalui silogisme yang benar, maka suatu hal tersebut perlu disangsikan”. Melalui adagium ini saya teringat adagium lain yang sangat fenomenal yaitu “man lam ya’rifil mantiq laa tsiqqota bi ‘ilmihi”.

Dewasa ini kita sering mendengar beraneka ragam silogisme―silogisme merupakan bentuk, cara berpikir atau menarik simpulan yg terdiri atas premis umum, premis khusus, dan simpulan―yang selalu ditemukan dan dikembangkan dari masa ke masa, meskipun sebenarnya silogisme satu dengan yang lainnya hanya memiliki perbedaan yang tipis. Namun inilah pendidikan, dunia yang mewajibkan para civitasnya untuk memacu kreativitas dalam berpikir. Sehingga metode dalam memahami suatu hal yang efektif dan efisien dapat menciptakan gagasan yang besar merupakan tujuan pokoknya. Dengan demikian tidak heran, jika dewasa ini banyak sekali alternative silogisme dapat kita temukan. Mulai dari rasionalisme, empirisme, kritisisme dan sebagainya.

 

Berbicara mengenai silogisme yang banyak berkembang dewasa ini, ada hal yang tak banyak diketahui oleh orang-orang luar. Bahwasanya komunitas yang disebut sebagai “Kaum Santri” pun memiliki silogisme yang khas. Dalam system pendidikan pesantren―menurut saya pribadi―terdapat mata pelajaran yang menjadi acuan dasar silogisme kaum santri selama ini. Mata pelajaran tersebut ialah ushul fiqih, mantiq serta balaghoh. Ketiga mata pelajaran tersebut memberi peran sendiri-sendiri yang dapat membentuk pilar-pilar silogisme yang kokoh. Secara garis besar, usul fiqih berperan sebgai penyeleksian sekaligus analisa teks begitupun pemahannya, mantiq sebagai sitematika berpikir, sedangkan balagoh berperan sebagai analisa kandungan teks secara mendalam.

BACA JUGA :  Filosofi Bulan Muharram dan Keistimewaannya

Bagaimana perkembangan silogisme santri? Bagaimana civitas santri mengembngaknnya? Dengan antusiaskah kita mengembangaknnya? Bagaimana progresnya? Saya berharap semuanya terus berjalan dan penuh semangat, terutama kawan-kawan yang ada di forum kajian fathul qorib serta kajian fathul mu’in. Saya merindukan atmosfir tersebut! Ditambah dengan akan diadakannya forum kajian fathul qorib di Al Anwar 3, maka keberlangsungan proses penjagaan dan pengembangan silogisme tetap akan menemukan momentumnya.

Dalam berapa bulan yang lalu, saya dengan sahabat saya MI atau lebih terkenal sebgai om istihar―cie elah yang udah om om. Wkwkwk―pernah membicarakan topik ini. Seandainya saja ketika mata pelajaran tersebut dapat dirumuskan hingga menjadi system silogisme, maka akan sangat baik sekali. Dengan memandang bahwa ketiga mata pelajaran tersebut sangat fenomenal. Kalau boleh meminjam istilah kang Dhiya’ “kita butuh metodologi yang fresh” yang dpat kita terapkan dalam dunia modern ini. Saya rasa gagasan tersebut akan terjawab melalui penyatuan ketiga mata pelajaran tersebut. Bahkan saya menyakini, penyatuan ketiga unsur tersebut akan menjadi alternatif silogisme kritis yang tak tertandingi.

BACA JUGA :  Hawa Dan Nafsu

 

Beberapa minngu yang lalu saya pernah bertanya kepada kawan yang aktif dalam forum kajian FQ dan FM, bagaimna antuiasme kawan-kawan, terutama dalam mendiskusikan ketiga mata pelajaran tersebut dalam forum? Dengan mencoba mendengarkan secara seksama, saya merasa belum puas dengan jawaban kawan saya tersebut, bahkan dalam hati saya timbul keresahan akan eksistensinya. Tapi ah sudahlah, semoga itu hanya persaaan saya yang serat akan penilaian subyektif dan terlalu peka―cie elah, sok sokan peka lagi, wkwk.

Bagaimnanpun system pendidikan pesantren harus tetap eksis dan terus dikembangkan, terutama system silogisme. Berusaha mengingat tulisan yang dulu pernah saya buat, bahwa “tidak ada satupun aliran-aliran filsafat dan agama yang betul-betul mandeg selama 6 abad.” Saya yakin akal pengakuan tersebut. Namun pada dasarya, kita sebagai pewaris hazanah keilmuan harus terus mengupayakan peningkatan mutu silogisme dan memastikan upaya pengembangan terus berlanjut.

Akankah kita hanya bertahan pada kondisi saat ini? Kondisi yang tak kalah dan tak menang, terlebih dalam mutu pendidikan secara umum? Akankan kita hanya memiliki jurus (silogisme) yang begini-begini saja dan tak pernah diupgrade? Mengapa tidak mencoba mentrasformasikan agar jurus tersebut bisa lebih mapan dibanding silogisme lainnya? Jawabannya ada di diri kita semua. Silahkan dijawab. (*)

*Hasyim MQ, Pegiat Literasi dan Penikmat Kopi.

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *