Friday, January 28, 2022
Beranda > Senggang > Cerpen Santri > Mahasiswa yang Kasmaran pada Makalahnya

Mahasiswa yang Kasmaran pada Makalahnya

Nafas mana yang berusaha mengejeknya? Setelah beberapa lamanya berhibernasi.

Karena tidak mau dianggap lemah dan diejek sabagai orang yang malas, maka kali ini ia putuskan untuk membuat makalah. Sebagai mahasiswa, ia harus keren dan ramah pada teman-temanya yang pandai, saat nilainya sudah ada di ujung kematian. Maka mahasiswa kita ini mulai rajin menganyamkan sambat-nya di Keyboard, sedikit demi Sedikit setiap malam di sambi sesekali Mencari Dan translate bahasa mata perempuan yang sedari dulu ia tak pandai memahaminya.

‘Okelah. Setelah cukup lumayan sambatnya di tulis sembari copas sana copas di sini. Akirnya mahasiswa kita ini bisa membuat makalah sendiri.

Makalah kertas fotocopy saja, model-model yang murah dan menentramkan hati. Dan beberapa halaman berisi langit, tak tampak jelas langit-mendungnya.

MAKALAH INI DITUJUKAN UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN HIDUP’ tulisnya. Tetapi ia lupa daftar pustakanya. Ah, tak mengapa, meskipun tak sempurna, mahasiswa kita ini tetap bangga, ia tak mencari yang sempurna, cukup dengan yang nurut dan tak suka nyakitin hati, katanya. Apalagi ini adalah makalah yang pertama kali ia ketik dengan ujung jarinya sendiri. Maklum, mahasiswa berjiwa bendahara, bukan sekertaris.

Kini dengan sikap yang cool, setelah nge-print ia pulang ke rumahnya, ia melihatkan makalahnya ke tukang sampah, pengendara yang berhenti di lampu merah, ibu-ibu yang menyapu di depan rumah, sesekali juga memeasuki kamar lurah-lurah “Gimana bapak/ibu, Apa saya sudah layak menjadi lurah? Begitu sepanjang hari hingga ia sampai ke ke rumahnya. Ia juga menyapa bapaknya, “Bapak! Apa bapak perlu makalah untuk di sawah atau ibu perlu makalah untuk memikat hati om Darman ketika bapak ke sawah? …. Maaf Ibu, aku keceplosan.

“Oke, tak ada yang perlu makalah tak apa-apa….,” batinnya. Itu memang ciri khas mahasiswa kemana-mana membawa makalah dan ngerasani dosen-dosen yang ah tak perlu kiranya mengutip sifatnya, Kenapa kamu gak bisa membaca kitab? Kamu dari SMA katholik yaaaaa?!?!, Segitu saja contohnya.

* * *

Duka telah reda, kini malam kembali membuka cadarnya di awal hari minggu ini. Di depan kaca spion astrea-nya ia pandangi kembali wajahnya yang kerut, padahal ia masih muda kiranya. Setelah beberapa kali menyibak rambutnya yang tak beraturan seperti baris-berbaris di beberapa kampus swasta, dan sesekali menghilangkan kuning-kining di giginya. Ia men-cangking makalahnya dan cabut ke rumah kekasih hatinya.

Yuhuuuuuuuuu….. Sayanggg….. L’m comingggggggg”, Pacarnya membuka pintu kemudian duduk di teras rumahnya.

“Lihat sayang, Abang bawa apa?” Sambil melihatkan makalahnya. Kekasihnya diam. Sekarang aku sudah bisa membuat makalah sendiri, ia sangat cantik sepertimu” . Kemudian kekasihnya mengambil dan melihat makalahnya. Kekasihnya malah cemberut kompilasi tahu makalahnya tak ada daftar pustakanya.

Membayangkan sebuah hubungan dengan tanpa kejelasan, hanya menggugurkan kegengsian jomblo belaka. Kemudin mahasiswa kita mengambil lagi makalahnya, mengelus, dan menciumnya pelan-pelan dengan mata terpejam. Tak tahu mengapa, kekasihnya tiba-tiba hilang dari hadirnya, pintu tertutup, dan tiada lagi gorden terbuka.

Semakin terlihat cantik saja makalah itu. Menatapnya sangat lama mahasiswa kita itu tau, jika makalah itu punya hati seperti kita. Kapan ia bertanya-tanya sendiri, mengapa ia bisa kasmaran pada makalah yang meminta betah dan tergila-gila? Ketika makalah itu terkena angin dari jendela rumahnya, ia merasakan debaran jantung yang belum pernah sama sekali ia rasakan sebelumnya. Ia terkadang juga sedih karna diputus kekasihnya, tetapi tak mengapa, batinnya. Karna kini ia punya makalah yang sabar,dan pengertian, dan mau diajaknya kemana-mana.

Seharusnya ia harus memiliki lebih banyak makalah agar bisa selalu menemani. Pikirnya. Kemudian malam pun sempurna, kelopak demi kelopak terbuka. Mahasiswa kita tidur di ranjang dibaringkan makalah itu sangat dekat. Dipeluknya dengan penuh gairah dan malam pun habis.

* * *

Mahasiswa kita ini nampak semakin jatuh cinta dengan makalahnya. Setiap ia melihati makalah semakin manis dan molek saja, mengenakan yang putih dan baju-bajunya yang hijau tipis nerawang-nerawang membuat hasratnya semakin menggelora. Ia sering memeluk-meluknya, terkadang kertas-kertas itu terasa basah seperti tubuh kekasihnya yang berkeringat. Dipicu kebanggaannya, ia sering memamerkan makalahnya itu ke teman-teman sekelas di kuliah. “Cukuplah kamu jadi penulis status-status di twitter dan facebook, jangan lagi nulis makalah yang malah membuatmu gila!” hardik teman-teman. Sebagian kawannya menggapnya harus gila karana harus mengerjakan tugas review pembicaraan sekali dari dosen baru itu, setiap satu tugas harus mendapat referensi. Ah, mampus.

Malam itu, setelah beberapa malam kemarin Ia tak tertidur, kini Ia tertidur pulas. Dalam tidurnya ia  melihat beberapa tokoh yang ia tulis keluar begitu saja dari makalah. Satu diantaranya ke kamar mandi entah mau apa, sedangkan yang lainnya ramai menonton televisi di bagian tengah rumahnya. Ia tak berani membuka matanya, hampir setiap hari kejadian itu terjadi. Hari demi hari berlalu serasa semakin tua saja, dan hari ini waktunya makalah itu dikumpulkan.

Mahasiswa kita  bingung dan cemas, apakah ia akan dipisahkan dengan dambaannya? Setelah makan di Angkringan Deso dekat rumahnya, ia memilih tidur bersama makalahnya lagi dan tidak masuk kelas, bergitu berminggu-minggu lamanya. Hingga akhirnya di pagi hari, ketika datang musim sunyi, makalahnya hilang dari pelukannya.

“Pasti dosen baru itu yang mengambilnya. Awas Saja!”, bengisnya.

 

(Kamar 14)

# نَدْوَةٌ عَرَبِيَّةٌ! حَيٌّ فَائِزٌ

BACA JUGA :  Bangunan Pesantren Turut Memberikan Tarbiyah: Sejarah Singkat Bangunan Pondok Pesantren Al-Anwar 3 Puteri
Fahrur Razi
Santri aktif pondok pesantren Al Anwar 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *