Beranda > Seputar Pondok > Kajian Fiqh > Hasil Musyawarah Gabungan I MDT AL-ANWAR 3 PUTRA (Senin, 9 Oktober 2023)

Hasil Musyawarah Gabungan I MDT AL-ANWAR 3 PUTRA (Senin, 9 Oktober 2023)

Najis

HP MUTANAJIS

Diskripsi Soal

Supri merupakan seorang cattle breeder (peternak sapi) yang terkenal sukses di daerah Palembang, Sumatra Selatan. Sebagai seorang cattle breeder, ia banyak menghabiskan hari-harinya untuk megurusi hewan ternaknya, mulai dari memberi makan, membersihkan kandang, dan mengontrol kesehatan ternaknya. Pada suatu hari, ketika dia sedang membersihkan kandang ternaknya dia tidak sengaja menjatuhkan handphone Oppo Find N2 Flip yang baru saja dibelinya pada tumpukan kotoran sapi yang masih basah. Meskipun sebagai seorang peternak, Supri juga tahu bahwa kotoran sapi adalah sesuatu yang najis. Sehingga, setiap yang terkena kotoran sapi (najis) wajib disucikan. Akan tetapi, masalah baru muncul buat Supri, bahwa handphone merupakan alat teknologi yang pada lumrahnya tidak bisa dibasuh dengan air. Oleh karena itu, Supri memilih membersihkan handphonenya itu dengan menggunakan tisu, kemudian menyemprotkan sedikit pengharum sebagai penghilang bau kotorannya.

Pertanyaan: Bagaimana cara mensucikan hp yang mutanajis?

Jawaban:

Menyikapi permasalahan di atas, ulama’ berbeda pendapat:

  1. Al-Nawāwī dalam Majmū’-nya mewajibkan harus dibasuh. Berdasarkan pendapat ini, maka membersihkan najis menggunakan tisu tidak dianggap cukup. Pendapat ini juga disampaikan oleh Imam Ahmad dan Imam Daud.

المجموع شرح المهذب (2/ 599)

(الثالثة) إذا أصابت النجاسة شيئا صقيلا كالسيف والسكين والمرآة ونحوها لم تطهر بالمسح ولا تطهر الا بالغسل كغيرها وبه قال احمد وداود

  • Menurut qaul mukhtār (pendapat yang dipilih) cukup dengan diusap saja, baik itu berupa najis ‘ain atau tidak, atau berupa najis basah atau kering.

الدر المختار وحاشية ابن عابدين (رد المحتار) (1/ 310) – دار الفكر-بيروت

وإنما اكتفى بالمسح؛ لأن أصحاب رسول الله – صلى الله عليه وسلم – كانوا يقتلون الكفار بسيوفهم ثم يمسحونها ويصلون معها؛ ولأنه لا تتداخله النجاسة، وما على ظهره يزول بالمسح بحر. (قوله: مطلقا) أي: سواء أصابه نجس له جرم أو لا، رطبا كان أو يابسا على المختار للفتوى شرنبلالية عن البرهان.

قال في الحلية: والذي يظهر أنها لو يابسة ذات جرم تطهر بالحت والمسح بما فيه بلل ظاهر من خرقة أو غيرها حتى يذهب أثرها مع عينها، ولو يابسة ليست بذات جرم كالبول والخمر فبالمسح بما ذكرناه لا غير، ولو رطبة ذات جرم أو لا فبالمسح بخرقة مبتلة أو لا

BACA JUGA :  Momen Maulid Nabi Muhammad di Al-Anwar 3, KH. Ahmad Nawawi Kholil Tegaskan Identitas Santri

Walhasil, cara untuk menyucikan Hp yang terkena najis seperti pada masalah di atas adalah dengan cara menghilangkan ain najisnya terlebih dahulu (jika berupa najis ain), kemudian membilasnya dengan air. Atau lebih gampangnya “mengubah najis ain menjadi najis hukum”. Hal ini di dasarkan pada pendapat Sulaiman al-Azhari, salah satu ulama’ dari madzhab Syafi’i, dalam Hasyiyah-nya dia berkata:

حاشية الجمل على شرح المنهج = فتوحات الوهاب بتوضيح شرح منهج الطلاب (1/ 162

)قوله فتكفي غسلة لنجس وحدث) محل ذلك إذا كانت النجاسة حكمية أو عينية وزالت أوصافها بتلك المرة هذا محل خلاف الشيخين وإلا، فإن كانت عينية، ولم تزل أوصافها ‌وجب ‌لصحة ‌الغسل تقديم إزالتها عليه باتفاقهما اهـ شيخنا ح ف.

Air Kobokan Kaki PP. Al-Anwar 3

Diskripsi soal

Salah satu kebiasaan santri al-Anwar 3 adalah seringkali nyeker ketika melintasi halaman pondok, baik ketika ro’an membersihkan sampah, kuliah, nge-lap, kegiatan muhadarah, dan lain sebagainya. Selain itu, setelah melintasi halaman pondok dengan nyeker, sebagian mereka bergegas membersihkan kakinya ke kobokan kaki, namun tidak sedikit dari mereka dengan santainya langsung naik ke kamar. Kebiasaan seperti ini bisa dikatakan kebiasaan yang kurang baik, karena dampak yang ditimbulkan adalah mengotori lantai pondok, dan musalla al-Anwar 3. Selain itu, kebiasan ini bisa jadi menjadi salah satu faktor paling mendominasi berubahanya warna air di kobokan kaki.

Pertanyaan

  1. Apakah air kobokan kaki yang telah berubah warna karena dampak nyeker santri masih berstatus suci mensucikan?

Jawaban

Air kobokan yang berubah sifatnya disebabkan oleh debu tetap dihukumi suci mensucikan dengan beberapa alasan:

  1. Debu  merupakan benda yang mujawir (dapat terpisah dari air). Hal ini mengacu pada pendapat al-Aḍhār seperti yang dikutip oleh imam Ibn Hajar di dalam kitab Tuhfah al-Muhtāj,

Berikut redakasi lengkapnya:

تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي (1/ 73)

(وَكَذَا) لَا يَضُرُّ فِي الطَّهُورِيَّةِ (مُتَغَيِّرٌ بِمُجَاوِرٍ) طَاهِرٍ عَلَى أَيِّ حَالٍ كَانَ (كَعُودٍ وَدُهْنٍ) وَإِنْ طَيِّبًا وَكَحَبٍّ وَكَتَّانٍ وَإِنْ أُغْلِيَا مَا لَمْ يُعْلَمْ انْفِصَالُ عَيْنٍ فِيهِ مُخَالَطَةٌ تَسْلُبُ الِاسْمَ إلى -أن قال- (أَوْ بِتُرَابٍ) طَهُورٍ بِنَاءً عَلَى أَنَّهُ مُخَالِطٌ، وَإِلَّا فَلَا فَرْقَ كَمَا هُوَ وَاضِحٌ خِلَافًا لِمَنْ وُهِمَ فِيهِ، وَمِثْلُهُ فِي جَمِيعِ مَا يَأْتِي الْمِلْحُ الْمَائِيُّ لَا الْجَبَلِيُّ إلَّا إنْ كَانَ بِمَمَرٍّ أَوْ مَقَرٍّ (طُرِحَ) لَا لِتَطْهِيرِ مُغَلَّظٍ، وَإِلَّا لَمْ يَصِرْ طِينًا لَا يَجْرِي بِطَبْعِهِ وَإِلَّا أَثَّرَ جَزْمًا (فِي الْأَظْهَرِ) إذْ التَّغَيُّرُ بِالْمُجَاوِرِ

BACA JUGA :  DO’A BABAH KETIKA DI TANAH SUCI, “ALLAHUMMARHAM UMMATA MUHAMMAD”

Di dalam redaksi tersebut, Ibn Hajar menegaskan bahwa di dalam mengkatagorikan debu apakah termasuk benda yang mukhalit atau benda yang mujawir para ulama berbeda pendapat.

  1. Debu merupakan benda yang mukhālit.
  2. Debu merupakan benda yang mujāwir.

Di dalam redaksi tersebut, Ibn Hajar juga menegaskan bahwa air yang berubah sebab debu yang suci hukumnya tetap suci mensucikan, baik mengacu pada pendapat yang mengkatagorikan debu sebagai benda mukhalit, maupun pendapat yang mengkatagorikan debu sebagai benda mujawir.

Perbedaan pendapat tersebut terlihat fatal ketika dihadapkan pada permasalahan air yang berubah sifat-sifatnya sebab memasukkan debu yang musta’mal secara sengaja. Menurut pendapat yang pertama, syarat debu yang sengaja dimasukkan ke dalam air tidak sampai menghilangkan status kemutalakan adalah jika debu tersebut suci. Sedangkan menurut pendapat yang kedua, debu yang dimasukkan ke dalam air secara sengaja tidak dapat menghilangkan status kemutlakan air, baik debu yang suci, atau debu yang musta’mal.

  • Debu memengaruhi air hanya sebatas mengeruhkan air

Menurut Ibn Hajar, sebatas mengeruhkan air tidak sampai menghilangkan status kemutlakan air.

تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي (1/ 73)

أَمَّا مُجَرَّدٌ كَدَوْرَةٍ لَا تَمْنَعُ الِاسْمَ فَعَلَيْهِ هُوَ مُجَاوِرٌ

Dalam literatur lain dijelaskan bahwa pengaruh debu terhadap air hanya bersifat sementara, artinya, debu memiliki ciri-ciri yang dimiliki oleh benda-benda mujawir, yaitu dapat dipisahkan dari air. Seperti keterangan di dalam kitab al-Wasīt fi al-Mazhab karya al-Ghazāli

الوسيط في المذهب ١/‏١٣٤ — أبو حامد الغزالي (ت ٥٠٥) الجزء ١←فروع أربعة

الأول فى الْمُتَغَيّر بِالتُّرَابِ الْمَطْرُوح فِيهِ قصدا فِيهِ وَجْهَان

أَحدهمَا أَنه لَيْسَ بِطهُور لِأَنَّهُ مُسْتَغْنى عَنهُ وَهُوَ ضَعِيف فَإِن التَّغَيُّر بِالتُّرَابِ لَا يسلب اسْم المَاء وَيعلم أَن الْأَوَّلين كَانُوا إِذا رَأَوْا مَا متغيرا بِالتُّرَابِ لم يبحثوا عَن سَببه وَلِأَن التُّرَاب مجاور لَهُ فَإِنَّهُ يرسب على الْقرب وينفصل عَن المَاء

Editor: Lajnah Musyawarah MDT

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *