Tuesday, November 30, 2021
Beranda > Keilmuan Islam > Duta Nabi dan Pandemi

Duta Nabi dan Pandemi

Islam meluas ke berbagai penjuru dunia sudah sejak masa kenabian. Hal demikain adalah karena Nabi mempunyai strategi yang baik dalam mendakwahkan ajaran mulia tersebut. Seperti membangun sarana ibadah, membentuk persaudaraan baru, membentuk pranata sosial dan pemerintahan serta mengirim duta ke pelosok negara.

Duta-duta Nabi adalah sahabat pilihan yang telah dipersiapkannya sejak awal, dan tentunya adalah merupakan tugas yang mulia. Mereka rela meninggalkan tanah kelahirannya bahkan rela berpisah dengan Nabi yang mereka cintai demi menegakkan agama Allah.

Mu’ādz bin Jabal, Duta Nabi untuk Yaman

Salah satu duta Nabi adalah Mu’ādz bin Jabal. Salah seorang Sahabat Anshor yang terkenal dengan ketampanan dan kecerdasannya. Sosok pemuda yang patut untuk diteladani sebab gelora dan semangatnya yang tinggi. Tak heran jika ia dikenal sebagai ahli fikih, mufti, ataupun mujtahid.

Nama lengkapnya Mu’ādz bin Jabal bin ‘Amr bin Aus al-Khazrajī, dikenal dengan nama kunyah/ panggilan Abu ‘Abd al-Rahman. Ayahnya bernama Jabal bin ‘Amr bin Aus, sedang ibunya adalah Hindun bin Sahl yang berasal dari Qabilah Juhainah. Sepeninggal ayahnya, ia bersama ibunya pindah ke lingkungan yang kurang baik, yaitu Bani Salimah. Ibunya menikah lagi dengan al-Jadd bin Qois, salah seorang pembesar di Bani Salimah.

Al-Jadd bin Qois sendiri terkenal dengan sosok yang bakhil, hal ini juga diakui oleh masyarakatnya sendiri. demikian dapat tergambarkan dari pertanyaan Nabi yang terdapat dalam Sirāh ibn Hisyam:

مَنْ سَيِّدُكُمْ يَا بَنِي سَلِمَةَ؟ فَقَالُوا: الْجَدُّ بْنُ قَيْسٍ، عَلَى بُخْلِهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَأَيُّ دَاءٍ أَكْبَرُ مِنْ الْبُخْلِ!

Namun lingkungan yang kurang baik tersebut tidak serta merta mempengaruhi pribadi Mu’ādz bin Jabal, nantinya ia tetap menjadi pemuda yang tangguh dalam menyebarkan Islam.

Di umur yang tergolong muda Mu’ādz bin Jabal 18 tahun, masuk Islam. Dan di tahun itu juga tepatnya pada musim haji, ia bersama rombongan Anshor pergi ke Makkah untuk berbai’at pada Nabi atau sering dikenal dengan bai’at al-‘aqabah al-tsaniyyah.

Pasca berbaiat itulah diri Mu’ādz bin Jabal mulai terbentuk menjadi sosok yang kokoh dalam menyebarkan Islam. Hal tersebut bisa dilihat dengan apa yang dilakukannya pasca kembali ke Madinah. Tidak hanya berdakwah kepada kalangan Yahudi, Mu’ādz bin Jabal juga berani menghancurkan bahkan menghilangkan berhala-berhala yang ada di Madinah.

Berkat kegigihannya, tidak heran jika Mu’ādz bin Jabal memiliki kedudukan yang tinggi di mata Nabi. Mu’ādz bin Jabal merupakan salah satu dari sahabat yang banyak mulazamah dengan Nabi. Nabi pun hingga bersumpah atas nama Allah dalam mengungkapkan rasa cintanya pada Mu’ādz bin Jabal:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، أَنَّ رَسُولَ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ، وَقَالَ:يَا مُعَاذُ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ

“Diriwayatkan dari Mu’ādz bin Jabal bahwa Rasulullah memegang dengan tangannya dan berkata: Wahai Mu’ādz bin Jabal, demi Allah aku mencintaimu, demi Allah aku mencintaimu.(Sunan Abi Dawud/1522)

Setelah perang Tabuk, Nabi mengirim Mu’ādz bin Jabal ke Yaman. Hingga nanti, sekembalinya dari Yaman ia tidak dapat bertemu dengan Nabi lagi, sebab Nabi telah wafat.

Dalam biografi yang ditulis oleh ‘Abd al-Hamīd dengan judul Mu’ādz bin Jabal Imam lil’Ulamā wa Mu’allim al-nās al-khair disebutkan bahwa ada kesepakatan ulama tentang waktu diutusnya Mu’ādz bin Jabal untuk menjadi duta di Yaman, yaitu pada waktu akhir hayatnya Nabi. Hanya saja terdapat beberapa pendapat tentang perinciannya. Ibnu Hajar dalam Fath al-Bāri menyebutkan bahwa hal tersebut terjadi pada tahun 10 H.

 

BACA JUGA :  Al-Imam Al-Jazuli (Muallif Dalail Al-Khairat)

Dikirimya duta-duta terbaik ke Yaman bukanlah tanpa alasan, sebab Nabi sendiri menyukai kekuatan Islam yang ada di negara tersebut. Sehingga duta yang dipilih pun sahabat-sahabat yang mempunyai gelora semangat yang tinggi. Selain Mu’ādz bin Jabal, ada Abu Musa al-Asy’ari, Malik bin Ubadah dan lainnya.

Untuk membekali Mu’ādz bin Jabal sebagai duta yang dikirimnya, Nabi memberikan pesan-pesan yang nantinya akan dijadikan pegangan oleh Mu’ādz bin Jabal. Pesan-pesan tersebut meliputi beberapa aspek.

Terkait dengan masalah pengadilan dapat dilihat dari hadis riwayat Abi Dawud/3592:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا أَرَادَ أَنْ يَبْعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ قَالَ: كَيْفَ تَقْضِي إِذَا عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ؟، قَالَ: أَقْضِي بِكِتَابِ اللَّهِ، قَالَ: فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي كِتَابِ اللَّهِ؟، قَالَ: فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَا فِي كِتَابِ اللَّهِ؟ قَالَ: أَجْتَهِدُ رَأْيِي، وَلَا آلُو فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدْرَهُ، وَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ، رَسُولِ اللَّهِ لِمَا يُرْضِي رَسُولَ اللَّهِ

Terkait dengan dakwah, Nabi berpesan untuk memberikan kemudahan kepada umat, mengasihi dan tidak memecah belah. Hal ini dapat dilihat dalam riwayat Imam Muslim/1733:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَهُ َمُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ، فَقَالَ: «يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا، وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا، وَتَطَاوَعَا وَلَا تَخْتَلِفَا

Dan masih banyak lagi pesan-pesan Nabi untuk Mu’ādz bin Jabal sebagai bekal dakwahnya di Yaman. Sehingga ini membuktikan bahwa duta yang dikirim oleh Nabi adalah benar-benar telah disiapkan dan dibekali dengan hal yang mapan.

 

Tahun ke 11 H Mu’ādz bin Jabal kembali dari Yaman. Ia sampai di Makkah saat musim haji. Saat itulah Mu’ādz bin Jabal bertemu dengan ‘Umar bin Khaṭāb yang ditunjuk oleh Abū Bakr sebagai pemimpin rombongan haji.

‘Abd al-Hamīd menggambarkan pertemuan keduanya dengan indah. Keduanya saling berpelukan dan menghibur sebab Rasulullah telah tiada. Kemudian keduanya berbincang bersama sambil mengenang pesan-pesan dari Rasulullah.

Mu’ādz bin Jabal segera kembali ke Madinah, berziarah ke makam Rasulullah, cucuran air mata dan kesedihan tak dapat dibendungnya. Terlebih saat mengingat tutur mulia Rasulullah sebelum ia berangkat ke Yaman.

Kesediahan tersebut terus berlanjut, Mu’ādz bin Jabal menghabiskan hari-harinya di masjid, tak jauh dari makam Nabi. Hingga akhirnya ia mendapatkan izin dari Abu Bakar untuk kembali berjihad di negara Syam.

Sebelum benar-benar pergi ke Syam sebanarnya ‘Umar bin Khaṭāb tidak setuju dengan Abu Bakar perihal izin yang telah ia berikan pada Mu’ādz bin Jabal. Sebab Mu’ādz bin Jabal lebih dibutuhkan oleh masyarakat muslim Madinah. Namun Abū Bakr tetap memeberikan izin sebab melihat kesungguhan yang ada dalam diri Mu’ādz bin Jabal.

Pilihan Mu’ādz bin Jabal untuk pergi ke Syam, sepulangnya dari yaman ini barangkali disebabkan oleh do’a yang pernah dituturkan oleh Rasulullah mengenai dua negara tersebut. Seperti riwayat dalam Ṣaḥīh al-Bukhārī/7094:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا

 

Mu’ādz bin Jabal: Thā’ūn adalah rahmat

Mu’ādz bin Jabal merupakan salah satu sahabat yang meninggal sebab wabah ‘Amawās (Ṭā’ūn ‘āmāwas). ‘Āmāwas sendiri adalah daerah kecil di Palestina, terletak diantara Yarusalem dan al-Ramlah. Daerah ‘Āmāwas ini menjadi masyhur sebab wabah tersebut dinisbatkan kepadanya. Dari kejadian ini, menurut al-Wāqidī ada 1.025 orang Islam di Syam yang meninggal. Pendapat lain mengatakan sebanyak 3.000 orang.

Namun yang menarik, Mu’ādz bin Jabal menganggap wabah ‘Āmāwas sebagai bentuk rahmat yang diberikan Allah pada hambanya. Bahkan Mu’ādz bin Jabal sendiri berdo’a agar wabah tersebut menimpanya.

عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّهُ لَمَّا وَقَعَ الْوَجَعُ عَامَ عَمَوَاسَ قَالَ أَصْحَابُ مُعَاذٍ: هَذَا رِجْزٌ قَدْ وَقَعَ. فَقَالَ مُعَاذٌ: أَتَجْعَلُونَ رَحْمَةً رَحِمَ اللَّهُ بِهَا عِبَادَهُ كَعَذَابٍ عَذَّبَ اللَّهُ بِهِ قَوْمًا سَخِطَ عَلَيْهِمْ؟ إِنَّمَا هِيَ رَحْمَةٌ خَصَّكُمُ اللَّهُ بِهَا وَشَهَادَةٌ خَصَّكُمُ اللَّهُ بِهَا. اللَّهُمَّ أَدْخِلْ عَلَى مُعَاذٍ وَأَهْلِ بَيْتِهِ مِنْ هَذِهِ الرَّحْمَةِ. مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَمُوتَ فَلْيَمُتْ مِنْ قَبْلِ فِتَنٍ سَتَكُونُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَكْفُرَ الْمَرْءُ بَعْدَ إِسْلامِهِ أَوْ يَقْتُلَ نَفْسًا بِغَيْرِ حِلِّهَا أَوْ يُظَاهِرَ أَهْلَ الْبَغِيِّ أَوْ يَقُولَ الرَّجُلُ مَا أَدْرِي عَلَى مَا أَنَا إِنْ مُتُّ أَوْ عِشْتُ أَعَلَى حَقٍّ أَوْ عَلَى بَاطِلٍ.

Dari dawud bin Hushoin, ia mendapatkan kabar bahwa ketika terjadi penyakit wabah ‘Āmāwas beberapa sahabat Mu’ādz bin Jabal berkata: ini adalah adzab yang menimpa. Maka Mu’ādz bin Jabal berkata: Apakah kalian mau menjadikan rahmat yang diberikan Allah seperi halnya azab-Nya pada sebuah kaum yang dibenci-Nya? Ini adalah rahmat dan bukti yang Allah khususkan pada kalian. Ya Allah berikanlah Mu’ādz bin Jabal dan keluarganya rahmat ini. Siapa saja dari kalian yang ingin mati, maka matilah. Sebelum datangnya fitnah, kufurnya orang setelah yang sebelumnya telah memeluk Islam, dibunuhnya seseorang yang tidak berhak untuk dibunuh, terlihatnya berbagai kejahatan, atau seseorang berkata: aku tidak mengerti dalam hidup dan matiku apakah berada dalam kebenaran atau kebatilan. (Thabaqat al-Kubra 2/442)

Dari hal di atas dapat di lihat bahwa Mu’ādz bin Jabal memandang wabah sebagai sebuah rahmat dan bukti kebesaran Allah, bukan sebagai ujian ataupun bencana. Namun, dibalik hal tersebut kita tidak semestinya menarik sebuah kesimpulan bahwa pemahaman Mu’ādz bin Jabal bisa ditiru atau bahkan disamakan dengan pandemi dunia saat ini.

Kata-kata serta do’a Mu’ādz bin Jabal di atas sebenarnya terdapat beberapa kemungkinan yang harus diperhatikan. Sehingga tidak dipahami secara parsial. Yaitu, Mu’ādz bin Jabal pada waktu itu telah mengetahui bahwa dalam waktu yang tidak lama akan segera terjadi fitnah, peperangan dan juga perselisihan, yaitu pasca wafatnya ‘Umar bin Khaṭāb.

Sehingga do’a Mu’ādz bin Jabal agar ditimpa wabah di atas adalah dilatarbelakangi oleh kekahwatiran akan jatuh dalam jerat fitnah yang akan segera terjadi, selain itu juga karena Mu’ādz bin Jabal lebih mementingkan keselamatan agamanya.

Jika bukan kerena hal itu, maka Mu’ādz bin Jabal tentu akan menganggap wabah sebagai cobaan dari Allah, sementara seorang muslim dilarang mengharap tertimpa cobaan, justru harusnya meminta perlindungan pada Allah.

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ، فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مُتَمَنِّيًا فَلْيَقُلْ: اللهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

Janganlah kalian berharap mati sebab sebuah bencana yang sedang terjadi, maka jika memang harus dilakukan, hendaknya ia berdo’a: ya Allah berilah aku kehidupan selagi itu adalah hal yang baik bagiku, dan ambillah nyawaku selagi itu adalah hal yang baik bagiku (Ṣāḥiḥ Muslim/2680)

lantas dari mana Mu’ādz bin Jabal mengetahui fitnah yang segera menimpa umat Muslim tersebut? Jawabannya adalah bahwa dalam hadis seringkali Nabi bercerita tentang fitnah yang belum terjadi, namun pasti terjadi di waktu kemudian. Nabi banyak mengingatkan para sahabat, termasuk Mu’ādz bin Jabal tentang hal ini. Jadi, do’a Mu’ādz bin Jabal di atas tidak sedang menganjurkan kita untuk meminta tertular wabah.

Do’a Mu’ādz bin Jabal di dengar oleh Allah. Rahmat yang ia minta dikabulkan oleh Allah. Putranya pun ikut tertular wabah hingga akhirnya meninggal. Tek selang lama, istrinya juga tertular dan juga Mu’ādz bin Jabal sendiri terkena wabah tersebut.

Hingga akhirnya pemuda dengan gelora Islam dan semangat yang tinggi tersebut syahid di tahun 18 H. Umurnya tak panjang, hanya sekitar 33 tahun. Namun, mempunyai jasa yang besar dalam penyebaran Islam ke berbagai Negara.

 

BACA JUGA :  Dahsyatnya Nabi Kita

Duta Kiai Untuk Nusantara

Semenjak kemunculannya di Wuhan-China sekitar tiga bulan terakhir, wabah Coronavirus Disease-2019 yang kemudian dikenal dengan Covid-19 banyak menarik perhatian masyarakat. World Health Organization (WHO) telah menetapkan virus tersebut menjadi Pandemi sejak 11 Maret 2020.

Hampir semua sektor kehidupan manusia terkena imbasnya. Ekonomi, industri, sosial, agama terlebih pendidikan. Demi menjaga meluasnya virus ini, banyak lembaga pendikan mulai dari yang paling bawah hingga teratas meliburkan kegiatan belajar mengajar dengan tatap muka.

Tak jauh beda dengan yang terjadi di pesantren-pesantren Indonesia sejak seminggu terakhir, yang memulangkan ribuan santrinya yang berasal dari segala penjuru daerah. Hal ini dilakukan demi kebaikan bersama, walaupun sebenarnya sebagian santri masih tetap ingin bersama dengan kiai-kiainya.

Bahasa “memulangkan santri” sebenarnya tidak begitu tepat untuk menggambarkan hal ini. Sebab jika dicermati, rata-rata para Kiai sebelum pemberangkatan armada yang mengantar santri untuk kembali, mengadakan semacam acara untuk memberikan bekal untuk mereka. Disitulah sosok Kiai memberikan pesan-pesan luhur, tidak hanya tentang waspada Corona, namun lebih luas lagi.

Selain tentang anjuran untuk mengamalkan ilmu-ilmu agama yang diperoleh selama di pesantren, Kiai juga memberikan pesan tentang kebersihan, cara menjalin hubungan sosial dan tentunya tentang hidup yang bermanfaat bagi masyarakat masing-masing.

Untuk sekedar mengambil contoh, pesantren Al-Anwar 3 misalnya, yang sejak Kamis, 26 Maret 2020 resmi menarapkan sistem Lockdown serta memulangkan santri-santrinya hingga tanggal 29 Mei 2020 demi meningkatkan kewaspadaan serta kebaikan bersama.

Ratusan santri yang berasal dari banyak daerah (Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatra, Kalimantan, Lombok, Jabodetabek dan lain-lain) berbondong-bondong kembali kerumahnya masing-masing. Sebelumnya, pada kamis siang, pengasuh memberikan pesan-pesan serta bekal bagi para santri, yang sekali lagi bukan hanya anjuran untuk waspada Corona. Pengasuh juga memberikan pesan tentang kebersihan, sosial serta kemanfaatan bagi sesama.

Dari hal itu, tak berlebihan jika santri-santri tersebut kita sebut sebagai “Duta Kiai Untuk Nusantara” yang telah dipersiapkan selama masa belajar di Pesantren. Seperti halnya Mu’ādz bin Jabal yang telah dipersiapkan oleh Nabi untuk menjadi Duta di Yaman.

Teriring do’a, semoga apa yang terjadi di dunia saat ini segera kembali normal. Semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran atas fenomena ini. Sehingga bisa menjadi manusia yang lebih baik dikemudian hari.

 

BACA JUGA :  Masjid Al-Kuu’; Yang Tersisa dari Perjalanan Umrah

Catatan: Kata “duta” yang penulis gunakan untuk menyebut sahabat Mu’ādz bin Jabal hanya sekedar mempermudah pemahaman saja. Terdapat perbedaan tentang jabatan Mu’ādz bin Jabal saat di Yaman. Apakah seorang pemimpin, hakim atau pengajar. Dalam Tārikh al-Ṭabarī/3:228 disebutkan bahwa Mu’ādz bin Jabal saat di Yaman adalah seorang pengajar di dua kota yaitu, Yaman dan hadramaut. Adapun dalam Mu’ādz bin Jabal Imam lil’Ulamā wa Mu’allim al-nās al-khair /61 dengan melihat wasiat-wasiat Nabi sebelum mengutus Mu’ādz bin Jabal disebutkan bahwa Mu’ādz bin Jabal saat di Yaman lebih dari sekedar pengajar, ia juga menjadi seorang Hakim. ‘alā kulli ḥāl kritik dan saran tulisan kami harapkan.

*Mahfud Sulqi, Santri asal Ponorogo

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *