Thursday, October 22, 2020
Beranda > Keilmuan Islam > Catatan tentang Sebuah Pandemi: COVID-19

Catatan tentang Sebuah Pandemi: COVID-19

Catatan tentang Sebuah Pandemi: COVID-19

Tahun 2016 silam Sony Pictures Entertainment merilis Inferno, karya keempat dari serial Robert Langdon, menjadi sebuah film dengan judul yang sama. Bagi yang menyukai karya-karya Dan Brown, khususnya serial Robert Langdon seperti saya, film yang disutradarai oleh Ron Howard ini sungguh sangat seru. Utamanya ketika Bertrand Zobrist yang diperankan oleh Ben Foster, memaparkan pemikirannya tentang “over populating theory”. Dengan nada yang sangat meyakinkan dan sekaligus bercampur kecemasan, Zobrist mengatakan, “humanity is the disease, inferno is the cure”. Zobrist yakin bahwa cara untuk menyelamatkan umat manusia dari over populating adalah dengan menyebarkan wabah penyakit menjadi endemik dan selanjutnya secara otomatis akan mengurangi separuh dari populasi manusia.

Pernyataan Zobrist tentang wabah penyakit membuat saya mengaitkannya dengan wabah Corona yang tengah menjadi semacam keresahan internasional. Pada tanggal 11 Maret, WHO (World Health Organization) mengumumkan covid-19 ini sebagai sebuah pandemi. Sudah lebih dari 100.000 kasus terjadi dan bahkan telah menelan ribuan korban jiwa. Dari statistik angka kematian, Italia sejauh ini mencatatkan rekor tertinggi, dengan 368 korban yang meninggal dunia hanya dalam tempo satu hari saja. Di Indonesia sendiri, pandemi ini juga mulai memperlihatkan kenaikan angka kasus per harinya. Bahkan data terakhir menempatkan Indonesia di urutan kedua negara yang paling besar persentase kematiannya setelah Italia.

Di satu sisi, sebagai penggemar serial Robert Langdon, saya berpikir bahwa apa yang dikatakan Zobrist ada benarnya, bahwa hanya wabah virus semacam covid-19 inilah yang bisa mengontrol populasi manusia. Wabah Corona bagaikan ‘pembersih massal’ bagi masalah terbesar bumi yang kita diami, yaitu over populating. Terbukti bahwa dalam rentan waktu beberapa bulan setelah China menerapkan lockdown total, tingkat polusi di sana menurun drastis. Tetapi di sisi lain, sebagai orang yang mengenyam bangku pendidikan pesantren, saya tentu meyakini realitas semacam ini merupakan bagian dari Qada dan Qadar Allah. Keyakinan itu kemudian menimbulkan semacam keingin-tahuan tersendiri di benak saya tentang bagaimana Islam memandang Corona.

Kebetulan saya adalah seorang mahasiswa semester akhir fakultas ushuluddin, jadi satu-satunya kapasitas yang saya punya utnuk membahas isu ini adalah pengetahuan saya seputar agama Islam, khususnya tafsir dan hadits. Ini penting untuk saya sampaikan agar tulisan ini memiliki perspektif yang jelas, lebih-lebih agar tidak jadi bahan bully netizen karna tidak punya latar akademis sains yang memadai. Jadi tulisan ini murni hasil dari keingintahuan saya tentang bagaimana agama saya menghadapi realitas semacam ini. Karena ini merupakan rasa keingintahuan, maka penting untuk menyertakan pertanyaan mendasarnya. Pertanyaan-pertanyaan itu berupa: pertama, pernahkah dalam sejarah Islam, umat muslim mengalami realitas yang sama? Dalam hal ini wabah penyakit yang menimpa banyak orang. Kedua, bagaimana realitas itu diahadapi oleh Islam?.

Kita mulai dari pertanyaan pertama, pernahkah dalam sejarah Islam, umat muslim mengalami realitas yang sama? Untuk menjawab pertanyaan pertama ini, saya memilih untuk menelusurinya dari kitab-kitab hadits seperti Ṣahih Bukhary dan Ṣahih Muslim. Karena selain menjadi sumber hukum kedua setelah Al-Qur’ān, hadits Nabi juga merupakan rekaman historis yang paling valid karena memuat dinamika dan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam itu sendiri. Kata kunci yang saya gunakan untuk menelusurinya adalah ‘wabah’. Dalam bahasa Arab berati الوباء. Dalam Ṣahīh Bukhary dan Ṣahīh Muslim ada sekitar sepuluh hadits yang mengandung terma al-Wabā’. Salah satu dari hadits itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdul ‘Azīz bin ‘Abdillah, dari Mālik, dari Muhammad bin Munkaẓir, dari Abi al-Naḍr, dari ‘Umar bin ‘Ubaidillah, ‘Āmir bin ‘Ubaidillah bin Abi Waqqāṣ, dari ayahnya yang bertanya kepada Usāmah bin Zayd tentang wabah (al-Wabā’) berupa al-Ṭā’ūn. Kemudian Uṣāmah menuturkan apa yang dikatakan Nabi Muhammad saw.:

الطَّاعُونُ رِجْسٌ أُرْسِلَ عَلَى طَائِفَةٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ، أَوْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ، فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ، وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا، فِرَارًا مِنْهُ[1]

“Al-Ṭā’ūn adalah azab (siksaan) yang diturunkan atas golongan bani Israil, atau atas orang sebelum kalian, Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kalian berada, maka jangan tinggalkan tempat itu, lari darinya”

 

BACA JUGA :  MBAH MOEN; CINTA YANG TAK PERNAH TUNTAS

Sampai di sini kita bisa melihat fakta sejarahnya, bahwa wabah penyakit menular yang menimpa masyarakat memang sudah ada sejak dulu, bahkan sebelum Islam hadir. Dalam konteks hadits di atas, wabah yang berupa al-Ṭā’ūn (semacam penyakit benjolan disekujur tubuh yang yang apabila pecah dapat menimbulkan pendarah, dan penyakit ini bersifat menular) diartikan sebagai azab atau siksaan kepada golongan tertentu yang berasal dari Allah. Ini tentu merupakan statement teosentris sebagai pemeluk agama Islam yang saya pun meyakini demikian. Di luar itu, saya juga meyakini bahwa wabah penyakit yang diturunkan Allah bukan tanpa alasan, hal ini bisa juga sebagai bentuk ujian bagi umat muslim. Tetapi ketika beranjak ke wilayah sosial, wabah penyakit merupakan sebuah realitas yang mesti dihadapi manusia secara umum. Dalam wilayah sosial inilah saya ingin mengajukan perspektif keislaman saya.

Sekarang kita masuk kepertanyaan kedua, bagaimana Islam menghadapi realitas pandemi Corona? Ada sebuah kisah yang menarik untuk disampaikan, kisah ini masih terkait dengan hadits yang telah disinggung sebelumnya. Masih dari sumber yang sama, yaitu Ṣahīh Bukhāry. Di bab lain, hadits di atas kembali diceritakan tetapi dengan latar yang berbeda. Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Yūsuf, dari Mālik, dari Ibn Syihāb, dari Abdul Hamīd bin ‘Abdurrahman bin Zayd bin al-Khaṭṭāb, dari ‘Abdullah bin al-Hārits bin Nawfal, dari ‘Abdullah bin ‘Abbās yang menceritakanyaitu bahwa ketika Khalifah ‘Umar bin al-Khāṭṭāb melakukan perjalanan menuju Syam, di tengah perjalanan ‘Umar beserta rombongan bertemu dengan rombongan Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrāh, gubernur Syam saat itu yang mengabarkan kepada ‘Umar bahwa Syam tengah terjangkit wabah al-Ṭā’ūn. Setelah mendengan kabar itu, ‘Umar meminta pendapat dari kalangan Muhajirin dan Anṣar tentang bagaimana seharusnya tindakan yang di ambil. Terjadi perbedaan pendapat diantara para sahabat tentang apa yang harus mereka lakukan antara tetap melanjutkan perjalanan ke Syam atau tidak. Di tengah perbedaan pendapat itu Abu ‘Ubaidah menaggapi pendapat yang menyarankan untuk tidak melnjutkan perjalanan, ia berkata أَفِرَارًا مِنْ قَدَرِ اللَّهِ؟ (apakah engkau akan lari dari takdir Allah?).

Untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Abu ‘Ubaidah, ‘Umar memberikan pertanyaan sekaligus analogi yang menurut hemat saya sangat bagus, ‘Umar berkata:

نَعَمْ نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ إِلَى قَدَرِ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ لَكَ إِبِلٌ هَبَطَتْ وَادِيًا لَهُ عُدْوَتَانِ، إِحْدَاهُمَا خَصِبَةٌ، وَالأُخْرَى جَدْبَةٌ، أَلَيْسَ إِنْ رَعَيْتَ الخَصْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللَّهِ، وَإِنْ رَعَيْتَ الجَدْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللَّهِ؟[2]

“Ya, kita lari dari satu takdir Allah ke takdir-Nya yang lain. Seandainya engkau memiliki unta dan ada dua lahan, satu subur dan satu lagi kering, kemana akan engkau arahkan unta itu, bukankah laha subur itu adalah takdir Allah, dan yang kering juga takdir-Nya?”

Kemudian ‘Umar mengutip hadits yang telah di paparkan diawal tulisan ini.

Dari kisah perjalan ‘Umar bin al-Khaṭṭāb di atas, sekali lagi kita disuguhkan fakta historis tentang wabah penyakit yang bahkan di zaman para sahabat juga pernah terjadi. Di luar itu, kita juga bisa melihat bagaimana Islam yang termanifestasi dengan sosok ‘Umar menghadapi realitas semacam itu. Dua hadits di atas mengindikasikan bahwa sejarah Islam juga pernah berada dalam posisi yang hampir sama dengan keadaan kita hari ini. Hadits pertama mengindikasikan bahwa sebenarnya untuk menghadapi wabah penyakit, hal yang paling dianjurkan oleh Rasulullah adalah Social Distancing. Mengurangi interaksi dengan masyarakat luas, baik bagi yang belum terjangkiti ataupun yang sudah. ‘Umar juga melakukan hal yang sama dengan apa yang disampaikan Nabi, sebagai Khalifah di masa itu, ia lebih memilih untuk tidak melanjutkan perjalannya untuk meminimalisir penyebaran wabah semakin meluas. Jadi apabila ada yang bertanya apakah Social Distancing melawan sunnah Rasul atau tidak, jika kita masih sepakat bahwa definisi dari kata sunnah itu adalah mā uḍifa ila al-nabiy min qaulin aw fi’lin, aw ṣifatin, aw taqrīrin (sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad baik berupa ucapan, perbuata, sifat, atau ketetapan) maka sudah pasti bahwa Social Distancing itu merupakan salahsatu dari sunnah Rasul dalam hal menghadapi wabah penyakit.

Sebagai sebuah langkah penanggulangan, Social Distancing merupakan langkah yang paling memungkinkan yang bisa diambil oleh setiap individu secara khusus, dan pemerintah yang memiliki otoritas secara umum. Fakta bahwa posis ‘Umar dalam hadits di atas adalah sebagai seorang Khalifah yang memiliki otoritas dan tanggung jawab yang besar kepada segenap warganya di masa itu, menunjukkan bahwa ‘Umar turut mempertimbangkan konsekuensi yang akan di hadapi tidak hanya oleh dirinya, tetapi juga oleh masyarakatnya. Saya pribadi membayangkan, bagaimana jadinya kalau ‘Umar dengan serta merta sepakat dengan apa yang di sampaikan Abu ‘Ubaidah, maka potensi penularan wabah yang tengah menjangkiti Syam itu akan dengan sangat mudah dan cepat penyebarannya, dan akan banyak masyarakat di luar Syam yang akan terjangkiti. Tentu ini hanya sebatas bayangan saja, saya tidak punya kapasitas untuk mengukur sampai sejauh itu.

Lalu bagaimana dengan Abu ‘Ubaidah? Seseorang yang sangat dihormati oleh Khalifah ‘Umar sendiri. Apakah keyakinannya tentang wabah yang tengah menimpa Syam merupakan takdir Allah yang harus diterima, adalah hal yang keliru? Keyakinan Abu ‘Ubaidah itu mungkin bisa sangat tergambarkan dengan pengalaman pribadi saya ketika mengikuti Istighatsah membaca Hizb al-Bahr bersama KH. Abdullah Ubab Maimun, yang juga dihadiri oleh KH. Abdul Ghofur Maimun, KH, Abdurro’uf Maimu, dan juga KH. Muhammad Idror Maimun. Sebelum memulai Istighatsah, Beliau KH. Abdullah Ubab Maimu, yang akrab di kenal dengan panggilan Abah Ubab di kalangan para santri Al-Anwar, Srang, Jawa Tengah, memberikan pengantar yang salah satu poinnya menyinggung isu pandemi covid-19 ini.

 

BACA JUGA :  FOBIA

Abah Ubab meyakini bahwa tidak ada satu perkara pun yang terjadi kecuali dengan seizin Allah. Saya pribadi memahami dawuh beliau sebagai sebuah peneguhan keimanan sebagai seorang muslim. Bahwa memang tidak ada satu hal pun yang luput dari Qada dan Qadar Allah. Tidak terkecuali wabah yang tengah dihadapi umat muslim secara khusus, dan umat manusia secara umum hari-hari ini. Tetapi meletakkan keyakinan Abu ‘Ubaidah dan Abah Ubab ke dalam posisi dikotomis dengan apa yang diyakini Khalifah ‘Umar seperti yang tergambar dalam hadits di atas, menurut saya merupakan hal yang perlu di pertimbangkan. Jangan sampai ada kesan bahwa apa yang dilakukan ‘Umar, dan kebanyakan masyarakat dunia hari ini dalam hal menyikapi pandemi, merupakan bentuk ketidakteguhan iman seseorang. Sebaliknya, jangan sampai apa yang diyakini oleh ‘Umar ini menimbulkan kesan bahwa apa yang di yakini oleh ‘Abu ‘Ubaidah dan Abah Ubab adalah bentuk lemahnya seseorang dalam hal Ikhtiyār. Dua keyakinan di atas seharusnya diletakkan kedalam posisi yang bersifat sinergis satu-sama lain, bahwa keyakinan yang satu, melengkapi keyakinan lainnya.

Di luar nalar ‘nakal’ saya tentang Film Inferno di awal tulisan ini, yang sempat membawa saya kepada pikiran bahwa pandemi covid-19 yang tengah melanda puluhan negara di seluruh belahan dunia ini, adalah cara alam untuk menyeimbangkan kembali populasi makhluk paling berbahaya di muka bumi ini, yaitu manusia, saya yakin bahwa agama Islam adalah agama yang bertujuan menyebarluaskan kemaslahatan seluas-luasnya. Dalam kasus pandemi covid-19 ini pun Islam tentunya memberikan jalan maslahat yang paling memungkinkan. Tetapi tentu hal ini merupakan sesuatu yang bersifat ikhtiyāri, yang artinya solusi bagi semuanya tergantung kepada sejauh mana usaha dan doa kita. Seperti kisah ‘Umar di atas, pada akhirnya jawaban atas pertanyaan ‘Umar kepada Abu ‘Ubaidah memang sangat bergantung kepada individu masing masing. Wallāhu A’lam. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu ridha dengan takdir Allah, semoga kita termasuk orang-orang yang selalu didekatkkan kepada kebaikan, Āmīn.

Bacaan:

Muhammad bin Ismā’īl Abu ‘Abdillah al-Bukhāry al-Ja’fiy, Ṣahīh Bukhāry, (ttp: Dār Ṭawq al-Najāh, 1422 H.).

Muslim bin al-Hujāj Abu al-hasan al-Qusyairy al-Nīsābūry, Ṣahīh Muslim, (Beirut: Dār Ihyā’ al-Turāts, tth).

Harry Stevens, Whay Outbreaks Like Coronavirus Spread Exponentially, and How to ‘Flatten the Curve’, dalam “THE WASHINGTON POST”, Washington DC, 14 Maret 2020.

Washington Post Staff, Mapping the Spread of the Coronavirus in the U.S. and Worldwide, dalam “THE WASHINGTON POST”, Washington DC, 15 Maret 2020.

  1. Hadits ini di keluarkan oleh Imam Bukhāry dalam kitab Ṣahīh Bukhāry, bab Hadītsu al-Ghār, juz 4, halaman 175, nomor hadits 3473. Dikeluarkan oleh Imam Muslim, dalam kitab Ṣahīh Muslim, bab al-Ṭā’ūn wa al-Ṭayrat wa al-Kaḥānat wa Nahwihi, juz 4, halaman 1742, nomor hadits 2219, dari jalur Yahyā bin Yahyā).
  2. Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Bukhāry, dalam kitab Ṣahīh Bukhāry, bab Mā yaḍkuru fi al-Ṭā’ūn, juz 7, halaman 130, nomor hadits 5729).

*Habibussalam
Salah satu pengurus Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *