Beranda > Keilmuan Islam > Alumni > HILANGNYA HARMONISME MAULID NABI

HILANGNYA HARMONISME MAULID NABI

hilangnya harmonisme maulid nabi

Maulid Nabi atau Rabiul Awal merupakan bulan yang sangat membahagian sekaligus bulan harmonisme di mana lahirnya Nabi Muhammad, Nabi Muhammad. Semua makhluk ikut bahagia dengan penuh keharmonisan menyambut kelahiran Nabi. Tetapi harmonisme ini akhir-akhir ini telah hilang karena beberapa hal.

Para malaikat pun turun ikut andil dalam penyambutan tersebut. Langit, bumi, dan semua planet membaca sholawat kepada beliau, Nabi. Muhammad, itulah namanya, Sang pembawa kabar gembira.

Pada bulan ini semua umat Muslim di seluruh dunia merayakan hari kelahiran beliau. Ada yang merayakannya dengan pembacaan shalawat Nabi, sirah Nabi, wejangan para ulama, serta bersedekah kepada orang-orang yang menghadiri peringatan tersebut.

Bahkan, ada di suatu pulau, yang terletak di paling timur pulau Jawa, merayakan maulid Nabi sebulan penuh. Ini menandakan bahwa pada bulan ini adalah bulan yang penuh dengan kebahagiaan.

Meski peringatan Maulid Nabi murni kebaikan, tetapi bukan berarti tidak perlu mendapatkan koreksi, sebagai catatan agar peringatan yang baik ini menjadi lebih baik lagi.

BACA JUGA :  التعليم على الإنترنيت في فترة الوباء: هل هو الحل أو إدراك الطموح ؟

Pertama, peringatan Mulid Nabi di sebagian daerah yang ada di Indonesia masih sebatas seremonial belaka, dan minim bahkan nihil akan harmonisme penghayatan dan pemaknaan.

HARMONISME MAULID NABI HILANG

Dalam memperingati maulid Nabi biasanya membaca sholawat atau diba’an. Dibaca dengan penuh penghayatan, seakan-akan beliau hadir dihadapan semua orang. Tapi kenyataannya banyak orang ketika membaca sholawat tidak dengan penghayatan dan harmonisme.

Mereka membaca seperti menyanyikan sebuah lagu india, pop, bahkan parahnya dibaca dengan lagu koplo. Sebab, tanpa penghayatan, kendati Maulid dilaksanakan setiap tahun, ia tidak akan memberikan pengaruh dan perubahan yang berarti pada kehidupan nyata. Padahal perubahan riil itulah yang sangat kita harapkan.

Sebagai tashowwur, konon pada zaman Sultan Salahuddin al-Ayubi, pembacaan Maulid dijadikan sebagai pemantik semangat juang para tentara Islam, sehingga mereka bisa merasakan perjuangan Nabi di medan perang.

BACA JUGA :  Teori Imam Ghazali Perspektif Babah Ghofur: Kewajiban Fardhu ‘Ain Di Atas Kewajiban Fardhu Kifayah

lalu semangat juang Baginda Nabi itu merasuk ke dalam sanubari masing-masing individu tentara Muslim, yang selanjutnya mereka berhasil memukul mundur pasukan salib.

Dengan demikian, seharusnya Maulid juga bisa menyuntukkan semangat yang sama kepada setiap individu Muslim yang berjuang di berbagai bidang yang berbeda-beda, khususnya pendidikan.

Kedua, sangat disayangkan masih ada kelompok dari umat Islam yang mengumpat-umpat peringatan Maulid Nabi. Mereka tidak henti-hentinya berceloteh di habitat-habitat mereka, lalu disebar luaskan di medsos, bahwa peringatan Maulid Nabi tidak berguna, dan termasuk bid’ah yang harus dihapuskan.

Padahal, faktanya peringatan Maulid Nabi diperingati oleh hampir setiap umat Islam di berbagai belahan dunia.Jika demikian halnya, maka seharusnya tidak ada masalah sama sekali dengan peringatan Maulid Nabi.

Masalah itu justru terletak pada kelompok anti Maulid itu sendiri, yang sengaja mengucil dari mayoritas umat, membuat paham dan amalan yang berbeda, dan membuat Islam terkotak-kotak.

Oleh: Fahrur Razi, S. Ag

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *