Tuesday, November 30, 2021
Beranda > Keilmuan Islam > PESANTREN SEBAGAI SARANA PEMBANGUN KARAKTER

PESANTREN SEBAGAI SARANA PEMBANGUN KARAKTER

pesantren sebagai sarana pembangun karakter

Pembahasan mengenai pendidikan karakter atau pendidikan yang berbasis pada pembangunan karakter peserta didik akhir-akhir ini menjadi wacana yang ramai dibicarakan di dunia pendidikan maupun di kalangan masyarakat umum. Kebutuhan akan pendidikan yang dapat melahirkan generasi bangsa yang berkarakter sangat dirasakan, mengingat bangsa ini belakangan mengalami dekadensi moral yang terus menerus terjadi. Keadaan tersebut dibuktikan dengan membudayanya praktek korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), konflik suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), meningkatnya kriminalitas setiap harinya, kasus narkoba yang banyak menjangkiti generasi muda, menurunnya etos kerja, dan masih banyak lagi. Jalan keluar dari berbagai permasalahan tersebut berakar pada kualitas karakter yang dimiliki para penerus peradaban bangsa ke depan. Oleh karenanya, pendidikan karakter menjadi kunci utama terwujudnya bangsa Indonesia yang harmonis dan mempunyai citra bangsa yang berkualitas.

Dalam menjawab hal tersebut, pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan mempunyai peran vital dalam membentuk kualitas karakter bangsa. Salah satu pesantren yang concern terhadap pendidikan karakter adalah pesantren Al-Anwar 3. Upaya pembangunan karakter yang dilakukan oleh pesantren Al-Anwar 3 adalah melalui program-program kegiatan kepesantrenan dan madrasah yang terkoordinir dan komprehensif serta berdasar pada pembelejaran kitab kuning. Program-program tersebut seperti membiasakan bangun pagi, salat berjamaah, mengaji Al-Qur’an, ngaji bandongan, sorogan, musyawarah, muhadloroh, menegakkan kedisiplinan, membersihkan lingkungan, rasa kepedulian terhadap sesama teman, dan mentaati hukum atau peraturan pesantren, semuanya berorientasi pada upaya penanaman nilai-nilai kedisiplinan dan pembiasaan karakter positif.

Lebih lanjut, pembangunan karakter tersusun atas tiga komponen dasar, yaitu: (1) Pengetahuan tentang moral (moral knowing) mencakup hal-hal yang penting untuk diajarkan; (2) Perasaan tentang moral (moral feeling) yang berarti harus menanamkan emosi dengan sifat-sifat seorang yang berkarakter; (3) lalu perbuatan moral (moral doing) yang tentu harus dibuktikan dalam bentuk kegiatan atau perilaku.

 

BACA JUGA :  Kebiasaan Hidup di Pesantren untuk Bekal Hidup

Dalam konteks proses pendidikan karakter di pesantren, tahapan moral knowing disampaikan oleh Kyai dan para pengajar melalui contoh perilaku atau melalui tausyiah dan pelajaran-pelajaran di dalam kelas. Adapun moral feeling dikembangkan melalui pengalaman langsung para santri dalam konteks sosial dengan teman-teman atau dengan masyarakat sekitar. Sedangkan moral action meliputi setiap upaya pesantren dalam rangka menjadikan pilar pendidikan karakter sebagai landasan utama dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan.

Beberapa konsep yang telah disebutkan di atas, terasa sangat ideal bagi pembentukan karakter seseorang. Akan tetapi, konsep tersebut tidak akan berguna apabila tidak mendapat timbal balik positif dari pelaku kegiatan. Timbal balik yang positif dibutuhkan karena upaya pembentukan karakter tidak bisa dilaksanakan oleh salah satu pihak saja. Dukungan dan kesadaran dari santrilah yang menjadi indikator utama terealisasinya misi pesantren sebagai sarana pendidikan karakter. Namun, belakangan diketahui bahwa respon yang diberikan oleh santri Al-Anwar 3 tidak berbanding lurus dengan semangat dari pihak pesantren, yang terwakili oleh pengurus dan pengasuh. Semangat santri dalam menyukseskan misi pendidikan karakter melalui kegiatan sehari-hari pesantren masih belum maksimal, hal tersebut terbukti dari masih banyaknya peraturan yang dilanggar, kegiatan yang sepi, dan kebersihan yang kurang terjaga. Seseorang lebih gemar ngopi dan menghabiskan banyak waktu dengan berkutat pada wifi, tetapi seperti alergi ketika berurusan dengan ngaji. Lebih semangat mengikuti kegiatan ekstra, dibanding kegiatan pesantren. Fakta-fakta tersebut merupakan sebuah ironi, mengingat salah satu tujuan utama dari pendidikan pesantren adalah pembangungan karakter.

Maka dari itu, kunci terwujudnya karakter santri yang berkualitas adalah melalui peningkatan kesadaran dalam mengikuti kegiatan. Sehingga kegiatan pesantren bukan lagi melalui paksaan, tetapi kesadaran bahwa hal tersebut merupakan sebuah kebutuhan.

*NNG

 

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *