Beranda > Keilmuan Islam > Masjid Al-Kuu’; Yang Tersisa dari Perjalanan Umrah

Masjid Al-Kuu’; Yang Tersisa dari Perjalanan Umrah

masjid al-Kuu'; yang tersisa dari perjalanan umrah

Oleh: Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen, M.A
Perbedaan dalam cara beragama merupakan kelaziman. Sama sekali tak dapat dihindari. Salah satu faktor penentunya adalah perbedaan karakter manusianya. Meminjam istilah Habib Ali Al-Jufri, pendakwah kesohor dari Yaman, al-Insaniyah qabla at-tadayyun—dengan sedikit mengubah pemaknaannya—faktor kemanusiaan seseorang sangat mempengaruhi model keberagamaannya. Perbedaan ini bahkan bisa terjadi dalam satu keluarga, bahkan antara ayah dan anak. Kisah berikut barangkali bisa menjadi contoh:

Imam Al-Bukhari meriwayatkan, Umar ra. mendatangi Hajar Aswad, menciumnya, lalu berkata, “Saya tahu engkau adalah batu yang tak bisa memberi madharrat dan manfaat. Andai saja saya tidak melihat Rasulullah saw. menciummu, niscaya saya tak akan menciummu.”

Tampaknya Umar ra. mengedepankan berhati-hati dalam hal ini. Bahkan mencium Hajar Aswad yang oleh banyak umat Islam, jika tidak semuanya, dianggap sakral, ia pernah melakukannya dengan memberi semacam catatatan.

BACA JUGA :  Review Kitab Al-Ulamā’ Al-Mujaddidūn

Sikap yang ditampilkan oleh Umar ra. tampak bertolak-belakang dengan sikap putranya, Abdullah bin Umar. Ibn Qudamah Al-Maqdisi meriwayatkan dalam kitanya, Al-Mughni, bahwa ia (Ibn Umar) meletakkan tangannya pada tempat duduk Rasulullah saw. di Mimbar, lalu meletakkan itu pada wajahnya. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Musa bin Uqbah, bahwa Salim, putra Abdullah bin Umar, menelisik tempat-tempat di jalanan lalu melakukan salat di situ. Ia meniru ayahnya yang juga salat di sana. Ayahnya bercerita bahwa ia melihat Baginda Rasul saw. salat di tempat-tempat ini.

Dua karakter ini tampaknya selalu ada di setiap era. Tak ada gunanya mempertentangkannya. Yang harus dilakukan adalah upaya untuk saling memahami, saling silaturrahim, dan tentu saja saling mengingatkan karena tak ada manusia yang sempurna. Demikian juga karakter-karakter lainnya yang sudah pasti juga tak seragam. Kegaduhan yang sering melanda umat ini tidak saja merugikan satu kelompok, akan tetapi merugikan umat secara keseluruhan.

BACA JUGA :  Filosofi Bulan Muharram dan Keistimewaannya

+++

Masjid Kuk Thaif
Masjid Kuk Thaif

Keterangan:

Menurut sebuah cerita, Rasulullah—saat datang ke Taif untuk berdakwah—beristirahat di bawah gunung Abi Zubaida. Beliau bersandar dengan sikunya (al-Kuu’) pada sebuah batu. Tempat ini lalu diabadikan dalam bentuk sebuah masjid yang kemudian terkenal dengan nama “Masjid al-Kuu’”. Yang mengabadikannya tampak meneruskan model keberagamaan Abdullah bin Umar. Akan tetapi, rupanya ada pihak-pihak yang tak nyaman dengannya. Masjid ini, menurut berita, pernah terbakar, bahkan tidak hanya sekali. Ada kecurigaan terhadap pihak-pihak tertentu (yang memang tak menyukainya).

Entah sampai kapan umat ini terus gaduh oleh perbedaan-perbedaan yang ada. Yang rugi tentu tidak hanya satu kelompok saja, akan tetapi seluruh umat Islam, yang diserang dan yang menyerang. Allaahummarham ummata Muhammad .. Yaa Allah, rahmati umat Kanjeng Nabi Muhammad saw.

Wallaahu A’lam bi ash-Shawaab

Fahrur Razi
Santri aktif pondok pesantren Al Anwar 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *