Friday, January 28, 2022
Beranda > Keilmuan Islam > AKHLAK DAN CITA-CITA PANCASILA

AKHLAK DAN CITA-CITA PANCASILA

Pendidikan merupakan proses untuk mencetak generasi muda di masa depan. Satrijo Budiwibowo dalam artikelnya berjudul “Membangun Pendidikan Karakter Generasi Muda Melalui Budaya Kearifan Lokal di Era Global” menegaskan bahwa Tolak ukur keberhasilan suatu negara atau bangsa adalah keberhasilan generasi muda di masa yang akan datang, karena mempertahankan keberhasilan biasanya lebih sulit daripada merebut keberhasilan iu sendiri. Sebagai wadah yang dipercaya untuk mencetak generasi, sudah sewajarnya pendidikan harus bekerja keras untuk meningkatkan kualitas produknya.

Nurani Soyomukti mengutip dari R.S. Peters dalam bukunya The Philosophy of Education menyatakan bahwa Pada hakikatnya pendidikan tidak mengenal akhir karena kualitas manusia terus meningkat. Hal ini tidak pernah dipungkiri memang benar adanya. Jika manusia berhenti untuk berjalan, habislah sudah kehidupan. Manusia harus terus berinovasi jika tidak ingin kelam dalam kejayaan, terus berjalan agar tidak tertinggal. Untuk itulah manusia harus tetap belajar walaupun tidak dalam bangku sekolah. Mengapa Satrijo Budiwibowo mengatakan mempertahankan keberhasilan lebih sulit? Karena pendidikan bersifat dinamis, dimana pendidikan harus memfilter perubahan-perubahan yang kian detik semakin mencengangkan.

Tantangan globalisasi yang semakin kuat dan beragam, menuntun dunia pendidikan untuk lebih mementingkan penguasaan pengetahuan saja tanpa menyadari apa yang dihasilkannya. Hingga baru kini, dunia pendidikan mulai terbangun untuk menanamkan karakter sedini mungkin. Tetapi, dengan catatan tidak meninggalkan ranah pengetahuan. Manusia tanpa pengetahuan akan terasa gelap dunia yang telah terang ini.

Thomas Lickona dalam bukunya Education for Character menyatakan bahwa, Sebenarnya pendidikan karakter bukanlah sebuah topik hangat dalam pendidikan. Pada kenyataanya, pendidikan karakter sudah seumur pendidikan itu sendiri. Rasulullah Ṣallā Allāh ‘Alayhi Wa Sallam, bersabda:

انّما بُعثْتُ لِأُتمم مكارم الأخلاق

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak

Hadist ini menjadi bukti bahwa memang akhlak (baca: pendidikan karakter) sudah ada sejak zaman Rasulullah Ṣallā Allāh ‘Alayhi Wa Sallam atau mungkin lebih lama, hanya saja tidak banyak yang menyadari itu. Rasulullah Ṣallā Allāh ‘Alayhi Wa Sallam adalah bukti dari kesempurnaan akhlak dan sebagai umatnya kita harus meneladaninya.

 

BACA JUGA :  Dahsyatnya Nabi Kita

Cerdas dan berakhlakul karimah bukanlah dua kata yang sama, tetapi keduanya dapat berjalan beriringan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya ayat Alqur’an dan hadist yang mewajibkan belajar dan menuntut ilmu pengetahuan, diantaranya:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ اَلَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ اْلاِنْسَانَ مِنْ عَلَقِ ( 2 (اِقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلاَكْرَمُ (3) اَلَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ اْلاِسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ (5)

“ Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Yang kemudian Rasulullah Ṣallā Allāh ‘Alayhi Wa Sallam, menegaskan tentang pentingnya akhlak dalam pendidikan.

مَن لا أدب لهُ لا علم لهُ

“Seorang tidak bermoral, berarti tidak berilmu”

Seperti yang telah kita ketahui manusia memang berkewajiban mencari ilmu, bahkan berilmu. Akan tetapi penyempurna ilmu itu sendiri tak lain adalah akhlak. Tanpa akhlak tiada artinya ilmu bagi perwujudan manusia. Syaikh Abdul Qadir pernah berkata “Aku lebih menghargai orang yang beradab daripada orang yang berilmu, karena kalau hanya berilmu Iblis-pun lebih tinggi ilmunya daripada manusia”.

Disini jelas, akhlak membedakan kedudukan manusia berilmu diantara makhluk-makhluk yang berilmu lainnya. Subhanallah. Dengan akhlak pula, sebagai manusia berilmu akan tahu bagaimana meletakkan dan tahu kapan ia harus menggunakan ilmunya.

Adanya akhlak yang menyertai ilmu, menjadikan penggunanya lebih berwibawa. Dikarenakan ilmu tanpa akhlak tidak menutup kemungkinan menjadikan si pemilik berbangga hati dan merendahkan sesamanya. Orang yang benar-benar berilmu tidak akan menggunakan ilmu yang dimilikinya hanya sekedar untuk berorasi belaka yang menyebabkan perpecahan tetapi menciptakan solusi dengan suatu kebijakan.

 

BACA JUGA :  Review Kitab Al-Ulamā’ Al-Mujaddidūn

Indonesia sebagai bangsa dengan mayoritas penduduk muslim yang menobatkan pancasila sebagai dasar negara. Salah satu komponennya yakni pendidikan. Pendidikan dipercaya sebagai lembaga yang memperkenalkan pancasila kepada masyarakat. Pancasila hadir bukan sekedar sebagai dasar negara, tapi mencerminkan cita-cita bangsa. Tak terkecuali ilmu dan akhlak, keduanya adalah kunci realisasi dari sila-sila pancasila. Dengan terciptanya akhlak dan ilmu akan tercipta generasi yang percaya adanya Tuhan Yang Maha Esa, menjadi manusia yang bermoral, mementingkan persatuan, bermusyawarah dalam kemufakatan, serta tidak memandang kasta sebagai tingkat kehormatan.

 

*Nur Alfiyah, Ketua Pondok Pesantren Al-Anwar III Puteri Gondanrojo Sarang

**Gambar merupakan para pendidik akhlak di Sekolah Islam Umar Harun

 

BACA JUGA :  Menghadapi Kesulitan Bersama Nabi Muhammad Saw.

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *