- Lalu, kepada siapakah (dengan letak sawah yang berbeda-beda) Farid harus memberikan zakat tersebut?
Jawaban: Menurut madzhab al-Syāfi’ī, selama pembagian zakat itu dilakukan sendiri (tidak dipasrahkan kepada ‘Āmil zakat), maka wajib hukmnya kepada Farid memberikan zakat hasil sawahnya kepada mustaḥiqqus zakāt (orang yang berhak menerima) di daerah di mana hasil panen itu berada. Syekh Nawawi al-Bantanī menjelaskan, bahwa yang dimaksud tempat di sini adalah tempat penyimpanan hasil panen dalam kurun waktu satu tahun.
وَفهم من ذَلِك أَن مُقْتَضى الْمَذْهَب حُرْمَة نقل الزَّكَاة من مَحل وُجُوبهَا مَعَ وجود الْمُسْتَحقّين بِهِ إِلَى مَحل آخر وَالْمرَاد بالمستحقين من كَانُوا فِيهَا فِي ذَلِك الْوَقْت وَإِن لم يَكُونُوا من أَهلهَا دون غَيرهم وَمحل الْوُجُوب شَامِل للبلد والقرية وَالْبَحْر وَالْبر حَتَّى لَو حَال الْحول وَالْمَال فِي الْبَحْر حرم نَقله إِلَى الْبر وَالْمرَاد بِمحل الْوُجُوب الْمحل الَّذِي حَال الْحول وَالْمَال فِيهِ بِالنِّسْبَةِ لزكاة المَال.
(نهاية الزين- ص:182)
Dr. Musṭofā Khan mengatakan, memindah alokasi zakat dari mustaḥiqqus zakāt pada suatu daerah kepada mustaḥiqqus zakāt di daerah yang lain tidak diperbolehkan, karena dapat menyakiti perasaan mustaḥiqqus zakāt yang berada di daerah di mana hasil panen itu berada (daerah yang pertama).
لا يجوز نقل الزكاة إلى غير البلد التي وجبت فيه ـ وهو محل المال ـ طالماً أنه يوجد مستحقوها في ذلك البلد، وإن قربت المسافة، لأن في ذلك إيحاشاً وإيلاماً لمستحقيها في بلد وجوبها، إذ إن أطماعهم تمتد إليها، وآمالهم تتعلق بها.
(الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي – ص:64 ج 2)
Alhasil, dapat disimpulkan bahwa zakat sawah yang dikeluarkan Farid harus diberikan kepada mustaḥiqqus zakāt yang berada di tempat tinggal Farid, karea pada realitanya, setiap hasil panen yang diperoleh seorang petani akan di simpan di tempat tinggal sendiri, meskipun sawah tempat taninya berada di loksi (desa) yang berbeda-beda. Akan tetapi, ketika di tempat tinggal Farid tidak ditemukan mustaḥiqqus zakāt sama sekali, maka ia boleh memberikan zakat panennya kepada mustaḥiqqus zakāt yang berada di daerah yang dekat dengan tempat di mana ia tinggal. Syekh Nawawi al-Bantanī mengatakan:
فَإِن عدمت الْأَصْنَاف فِي مَحل وُجُوبهَا أَو فضل عَنْهُم شَيْء وَجب نقلهَا أَو الْفَاضِل إِلَى مثلهم بأقرب بلد إِلَيْهِ فَإِن عدم بَعضهم أَو فضل عَنهُ شَيْء رد نصيب الْبَعْض أَو الْفَاضِل عَنهُ على البَاقِينَ إِن نقص نصِيبهم عَن كفايتهم فَإِن لم ينقص نقل ذَلِك إِلَى ذَلِك الصِّنْف بأقرب بلد إِلَيْهِ.
(نهاية الزين- ص:182)

2. JUAL BELI MAKANAN EXPIRED
Deskripsi Masalah
Bu Tukiem adalah salah satu pengusaha toko kelontong di daerah Sarang Jawa Tengah. Bu Tukiem memulai usahanya sejak tahun 2017 dan terus berlanjut hingga sekarang. Seperti toko kelontong pada umumnya, toko milik Bu Tukiem juga menyediakan pelbagai jenis barang kebutuhan manusia, khususnya kebutuhan sehari-hari seperti peralatan makan, peralatan mandi, hingga makanan ringan seperti roti seharga 2000-an. Karena factor tempat yang kurang strategis, seringkali produk-produk makanan ringan seperti roti tidak terbeli hingga melewati tanggal expired, bahkan tidak sedikit ditemukan makanan-makanan ringan yang sudah berjamur.
- Rumusan Masalah
Apa hukum menjual makanan-makanan yang sudah melewati tanggal expired , dan sudah berjamur seperti di dalam diskripsi?
- Jawaban
Sah, dan boleh
Menjual makanan-makanan yang sudah melewati tanggal expired bisa dihukumi sah dan boleh dengan dua pertimbangan
- Jika kedua belah pihak (penjual dan pembeli ) sama-sama mengetahui bahwa makanan yang diperjual belikan telah expired.
Dalam suatu hadis dijelaskan bahwa standar keabsahan suatu akad jual beli adalah kesepakatan dan kerelaan kedua belah pihak.
Berikut redaski hadisnya:
سنن ابن ماجه (2/ 737)
حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ الْوَلِيدِ الدِّمَشْقِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ دَاوُدَ بْنِ صَالِحٍ الْمَدَنِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ»
Pengetahuan dari dua belah pihak akan sifat makanan yang dijual dengan tanpa ada pengingkaran dari salah satu pihak cukup mendiskripsikan kerelaan ini. Selain itu, dalam suatu hadis, nabi memperbolehkan menjual makanan yang cacat dengan catatan adanya penjelasan dari penjual atas aib tersebut.
سنن ابن ماجه (2/ 755)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ: سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ أَيُّوبَ، يُحَدِّثُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شُمَاسَةَ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ بَاعَ مِنْ أَخِيهِ بَيْعًا فِيهِ عَيْبٌ إِلَّا بَيَّنَهُ لَهُ»
Muslim adalah saudara bagi saudaranya yang muslim. Tidak halal bagi seorang muslim menjual barang yang cacat kepada saudaranya kecuali telah menjelaskan kecatatan tersebut.
Secara mantūq hadis, nabi melarang terhadap praktik penjualan barang yang cacat, selama tidak ditemukan komfirmasi terkait kecacatan. Maka, jika penjual telah mengkomfirmasi unsur cacat di dalam barang yang dijual, maka diperbolehkan.
- Jika pembeli telah menjelaskan tujuan penggunaan makanan expired ini untuk difungsikan sebagai pakan ternak, bukan untuk dikonsumsi sendiri. Karena dalam hal ini, syarat al-intifa’ di dalam makanan expired dapat tergambarkan.
Lalu bagaimana jika makanan expired dikonsumsi oleh manusia?
Secara kedokteran, Makanan kadalurasa adalah makanan yang masa produktifnya telah berakhir sehingga jika dimakan akan menyebabkan gangguan kesehatan. Dilansir dari https://www.klikdokter.com/info-sehat/kesehatan-umum/bahaya-mengonsumsi-makanan-kedaluwarsa bahwa menkonsumsi makanan expired akan menimbulkan beberapa efek yang buruk bagi kesehatan. Di antaranya adalah keracunan, infeksi pencernaan, mual muntah dan diare, berbahaya bagi janin, dan lain-lain.
Melihat dari beberapa efek mengkonsumsi makanan expired di atas, maka menjual makanan expired kepada pembeli yang dapat dipastikan akan menggunakan makan tersebut untuk dikonsumsi, adalah fasid dan haram. Dikatan fasid karena tidak terpenuhi syarat al-intifa’ di dalam makanan expired, dan haram karena memandang madarat yang ditimbulkan dari makanan tersebut.
Refrensi:
فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب = القول المختار في شرح غاية الاختصار (ص: 163)
(البيوع ثلاثة أشياء): أحدها (بيع عين مشاهدة) أي حاضرة (فجائز) إذا وجدت الشروط من كون المبيع طاهرا منتفعا به، مقدورا على تسليمه، للعاقد عليه ولاية.
الفقه الإسلامي و أدلته ج ٤ ص ص ١٨١
وَالضَّابِطُ عِنْدَهُمْ أَنَّ كُلَّ مَا فِيْهِ مَنْفَعَةٌ تَحِلُّ شَرْعًا فَإِنَّ بَيْعَهُ يَجُوْزُ لِأَنَّ اْلأَعْيَانَ خُلِقَتْ لِمَنْفَعَةِ اْلإِنْسَانِ
الأشباه والنظائر للسيوطي (ص: 83)
الْقَاعِدَةُ الرَّابِعَةُ: الضَّرَرُ يُزَالُ
الزواجر عن اقتراف الكبائر 1/400:
فذلك أعني ما حكي من صور ذلك الغش التي يفعلها التجار، والعطَّارون، والبزَّازون، والصوَّاغون، والصَّيارفة، والحيَّاكون، وسائر أرباب البضائع، والمتاجر، والحرف، والصنائع، كله حرام شديد التحريم، موجب لصاحبه أنه فاسق غشاش، خائن يأكل أموال الناس بالباطل، ويخادع الله ورسوله وما يخادع إلا نفسه، لأن عقاب ذلك ليس إلا عليه
صحيح مسلم:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم مر على صبرة طعام, فأدخل يده فيها فنالت أصابعه بللًا فقال: ما هذا يا صاحب الطعام؟ قال: أصابته السماء ، يا رسول الله، قال: ألا جعلته فوق الطعام كي يراه الناس؟ من غش فليس مني لا ضرر ولا ضرار (رواه ابن ماجه)
أسنى المطالب في شرح روض الطالب (1/ 569-570)
(فَصْلٌ يَحْرُمُ) تَنَاوُلُ (مَا يَضُرُّ) الْبَدَنَ أَوْ الْعَقْلَ (كَالْحَجَرِ وَالتُّرَابِ وَالزُّجَاجِ وَالسُّمِّ) بِتَثْلِيثِ السِّينِ وَالْفَتْحُ أَفْصَحُ (كَالْأَفْيُونِ) ، وَهُوَ لَبَنُ الْخَشْخَاشِ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ مُضِرٌّ وَرُبَّمَا يَقْتُلُ، وَقَالَ تَعَالَى {وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ} [النساء: 29] وَقَالَ تَعَالَى {وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ} [البقرة: 195] (إلَّا قَلِيلَهُ) أَيْ السُّمِّ كَمَا فِي الْأَصْلِ أَوْ مَا يَضُرُّ، وَهُوَ أَعَمُّ فَيَحِلُّ تَنَاوُلُهُ (لِلتَّدَاوِي) بِهِ (إنْ غَلَبَتْ السَّلَامَةُ) وَاحْتِيجَ إلَيْهِ كَمَا صَرَّحَ بِهِ الْأَصْلُ. (وَيَحِلُّ أَكْلُ) كُلِّ (طَاهِرٍ لَا ضَرَرَ فِيهِ) كَفَاكِهَةٍ وَحَبٍّ وَسُمٍّ إنْ تُصُوِّرَ أَنَّ آكِلَهُ لَا يَتَضَرَّرُ بِهِ كَمَا صَرَّحَ بِهِ الْأَصْلُ عَنْ الْإِمَامِ قَالَ تَعَالَى {قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ} [الأعراف: 32]



