Pada hari Kamis (25/6), bertepatan pada acara Haflah Tasyakur atau Akhirusanah Madrasah Diniyah Takmiliyah Al-Anwar 3 (10 Muharom 1448 Hijriah), Babah Ghofur, dalam sambutannya mengulas akan pentingnya menjaga ilmu tidak hanya di kepala, tetapi juga di hati. Selain itu, Babah juga menceritakan kisah Imam Syafi’i saat di Basrah. Pada poin pertama, beliau melandaskannya pada QS. al-Syu’ara ayat 193-194;
نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُۙ عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ
Malaikat Jibril disebut “al-ruh” sebab dialah yang membawa wahyu. Bahkan di lain kesempatan, malaikat Jibril diartikan sebagai spirit.
“Sehingga artinya, manusia itu bisa hidup kalo ada wahyunya” ungkap Babah.
Lalu, “ala qolbika” bermakna “atas hatimu Muhammad” yang artinya cara menjaga Al-Qur’an tidak cukup dengan kepala tetapi juga dengan hati.
Kemudian Babah menceritakan kisah perjalanan Imam Syafi’i di dua negara yang berbeda, yaitu Mekkah dan Basrah. Imam Syafi’i merasakan pengalaman keilmuan yang berbeda di kedua tempat tersebut.

Sumber: Multimedia Al-Anwar 3
Masa kecil di Mekkah
Imam Syafi’i memang terlahir di Gaza. Namun, beliau menghabiskan masa kecilnya di kota suci, Mekkah. Syafi’i kecil sangat luar biasa hafalannya. Beliau mampu menghafalkan al-Qur`an pada usia belia, 7 tahun. Dan Kitab al-Muwaṭṭa` pada umur 12 tahun.
Babah menjelaskan bahwa hal ini tidak serta merta karena anugerah yang diberikan oleh Allah Subhānahu wa ta’āla. Namun lingkungan sekitarnya sangat ikut berperan dalam membentuk kecerdasaan hafalan Syafi’i kecil.
Kota Mekkah merupakan pusat keilmuan. Atmosfer ilmu sangat terasa di kota Mekkah. Hal-hal negatif jarang bahkan sulit dijumpai di kota ini pada masa itu, sehingga suasana ini berperan dalam menguatkan keilmuan yang dimiliki oleh Sang Imam. Keadaan ini bertahan dan terus berkembang hingga pada akhirnya Sang Imam menjadi figur yang disegani, dan menjadi penajabat pemerintahan di daerah Yaman.
Fitnah gerakan makar
Sayangnya, keadaan ini berubah semenjak tuduhan palsu yang dialamatkan kepada beliau. Imam Syafi’i dituduh melakukan makar (pemberontakan) terhadap kekhalifahan dinasti Abbasiyah. Fenomena ini merupakan hasil propaganda penguasa zalim yang membenci kejujuran dan integritas Sang Imam. Dinasti Abbasiyyah pada saat itu di bawah kepemimpinan Khalifah Harun al-Rasyid. Sang raja memerintahkan pasukan untuk menangkap dan membawa Imam Syafi’i ke Basrah (Irak). Setelah diproses hukum di mahkamah negara, Imam Syafi’i dinyatakan tidak bersalah atas kesaksian ulama besar murid Abu Hanifah, Muhammad bin Hasan.
Setelah proses persidangan, Khalifah Harun al-Rasyid melihat potensi besar yang dimiliki oleh Imam Syafi’i. Sang khalifah menawarkan posisi yang strategis untuk Imam Syafi’i, tetapi Imam Syafi’i lebih memilih untuk melanjutkan pengembaraan ilmunya di tempat yang baru, yaitu Basrah.
Hidup di kota Metropolitan, Basrah.
Basrah merupakan Ibu kota negara dan termasuk kota metropolitan yang semuanya serba ada. Basrah sangat jauh berbeda dengan Mekkah, Madinah, dan Yaman. Perkembangan ilmu pengetahuan di kota ini sangat pesat. Para tokoh intelektual berkumpul di setiap penjuru kota. Hanya saja, seperti kota metropolitan pada umumnya, hal-hal negatif dan kemaksiatan juga turut meramaikan atmosfer kota. Inilah letak perbedaan antara Basrah dan kota-kota yang pernah disinggahi Imam Syafi’i.
Lebih lanjut, Babah menjelaskan bahwa hal-hal negatif tersebut sangat dikeluhkan oleh Imam Syafi’i, karena lingkungan yang terdapat unsur negatifnya mampu berpengaruh terhadap hati seseorang. Sang Imam merasa hati dan dirinya di Basrah bukanlah hati dan dirinya saat berada di Mekkah, Madinah, dan Yaman.
Keluhan sang Imam dan Syair terkenal
Keluhan ini dituangkan oleh Imam Syafi’i dalam bentuk syair yang sangat terkenal saat bertemu dengan ulama besar, al-Imam Waqi’.
شَكَوتُ إلىَ وَكيعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ
فَأَرْشَدَنِيْ إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِيْ
فَأَخْبَرَنِيْ بِأَنَّ الْعِلمَ نُوْرٌ
وَ نُوْرُ اللّٰهِ لَا يُهْدَى لِلْعَاصِيْ
Pada akhir sambutan, Babah berpesan bahwa ilmu yang kita pelajari merupakan ilmu yang bersambung atau punya nasab dengan wahyu, sehingga cara menjaganya harus dengan hati yang bersih. Hati yang bersih bisa diperoleh dengan berada di tempat yang steril (tidak terkontaminasi dengan hal-hal negatif). Dan sudah barang tentu bahwa hati yang bersih tidak berada pada tubuh yang sering bermaksiat kepada Allah. Selain itu, Babah juga berpesan bahwa jangan hanya menjaga ilmu dengan intelektualitas, tapi juga dengan spiritualitas.
Oleh: Multimedia Al-Anwar 3




