Makna Pengorbanan dalam Khotbah Iduladha Babah Ghofur: Cinta kepada Allah di Atas Segalanya

KH. Abdul Ghofur Maimoen, pengasuh PP. Al-Anwar 3, melaksanakan salat iduladha bersama para santrinya di gedung Sport Center STAI Al-Anwar pada Rabu pagi, 27 Mei 2026. Dalam khotbahnya, Babah – sapaan akrab santri kepada KH. Abdul Ghofur Maimoen menyampaikan makna pengorbanan sebagai bentuk besarnya cinta hamba kepada Tuhannya.

Pada kesempatan tersebut, Babah memulai khotbahnya dengan mengingatkan bahwa iduladha merupakan momen yang sangat tepat untuk kembali menelusuri kisah para nabi-nabi dan mengambil ibrah dari kisah tersebut. “Iduladha merupakan momen untuk mengingat dan mengenang kembali kisah-kisah perjuangan para nabi dan orang-orang mulia”. Dawuh Babah di depan para santri.

Secara garis besar, khotbah Babah menjelaskan bahwa seorang hamba harus memprioritaskan cintanya kepada Allah. Babah berpesan “Cinta kita kepada Allah harus jauh lebih tinggi daripada cinta kita kepada yang lain”. Setiap orang sudah barang tentu memiliki skala prioritas. Hanya saja dalam hal cinta, Allah harus menjadi prioritasnya. Dalam menjelaskan maksud pesan ini, Babah menceritakan tiga kisah Nabi yang berkaitan dengan pesan ini.

KH. Abdul Ghofur Maimoen ketika menyampaikan khotbah iduladha di hadapan para santri. Sumber: Multimedia Al-Anwar 3

Nabi Ibrahim Mengorbankan Cinta Terbesarnya

Kisah pertama adalah kisah Nabi Ibrahim ‘Alayhis salām. Ibrahim diberi rezeki berupa seorang putra oleh Allah Subhānahu wa ta’āla  di usia senja. Putra itu ia rawat, ia didik, dan ia besarkan sepenuh hati. Kemudian Allah memerintahkan Ibrahim untuk mengorbankan putra tersayangnya itu. Kisah ini diabadikan dalam QS. al-Ṣaffāt [37]: 102;

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

“Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

Babah berkata: “Pelajaran berharga dari kisah ini adalah cinta kita kepada Allah Subhānahu wa ta’āla  harus lebih besar daripada cinta kita kepada yang lainnya”. Tidak ada yang bisa mengalahkan besarnya cinta orang tua terhadap buah hatinya. Namun Allah ingin melihat seberapa besar cinta Ibrahim kepada putranya, Ismail. Apakah sudah sampai pada taraf mengalahkan cintanya kepada Tuhannya? Ternyata Nabi Ibrahim rela dan ikhlas untuk mengorbankan putra kesayangannya demi perintah Tuhan.

Godaan Keabadian dan Kelalaian Nabi Adam

Adapun kisah kedua adalah kisah Nabi Adam ‘Alayhis salām. Adam ‘Alayhis salām  dan istrinya, Sayyidatina Hawa diperintahkan oleh Allah Subhānahu wa ta’āla  untuk tinggal dan menetap di surga. Pesan Allah kepada Adam ‘Alayhis salām  ketika tinggal di surga adalah larangan untuk mendekati pohon buah khuldi.

Baca Juga :  Pertamina Laksanakan Zikir dan Pengajian Kali Kedua Bersama Masyayikh

وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَاۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ

“Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, dan janganlah kamu dekati pohon ini, sehingga kamu termasuk orang-orang zalim!”

Di surga Nabi Adam bertemankan keabadian. Seluruh yang ada di surga bersifat abadi. Hal ini membuat Nabi Adam cinta dengan keabadian. Titik lemah ini yang menjadi senjata Iblis untuk menjerumuskan Nabi Adam dan membuat Nabi Adam acuh dan lupa terhadap perintah dan larangan Allah.

فَوَسْوَسَ اِلَيْهِ الشَّيْطٰنُ قَالَ يٰٓاٰدَمُ هَلْ اَدُلُّكَ عَلٰى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلٰى

“Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya. Ia berkata, “Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi (keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa?””

Kisah kedua ini mengajarkan bahwa cinta kita tidak boleh mengalahkan perintah dan larangan Allah Subhānahu wa ta’āla. Nabi Adam menjadi contoh yang sangat baik, karena setelah itu ia bertaubat kepada Allah dan menjadi salah satu utusan Allah.

‘Ām al-Ḥuzn dan Keteguhan Rasulullah

Selanjutnya adalah kisah Nabi Agung Muhammad Sālla allāhu ‘alayhi wa sallam. Nabi Muhammad memiliki dua orang yang menjadi tambatan hatinya. Hati Nabi Muhammad sangat bergantung keoada dua orang ini. Kedua orang itu adalah istrinya, Sayyidatina Khadijah dan pamannya, Sayyidina Abu Ṭālib. Kemudian Allah menginginkan ketergantungan hati Muhammad kepada Allah lebih besar dari kedua orang yang dicintanya. Sehingga Allah memanggil kedua orang yang dicintai Muhammad untuk kembali menghadap-Nya dan pada tahun tersebut terkenal dengan istilah ‘Ām al-Ḥuzn (Tahun Kesedihan). Sebagai seorang Nabi dan Rasul, Muhammad tidak boleh berlarut dalam kesedihan dan meratapi nasibnya. Ia tidak boleh hanya memikirkan Makkah sebagai kota penuh kenangan dengan kedua orang tersebut. Ia juga harus memikirkan Taif, Madinah, dan seluruh kepentingan umat, alih-alih kepentingan pribadi.

Dengan demikian, kisah Nabi Muhammad mengajarkan bahwa kita harus bisa berpikir melebihi diri sendiri. Maknanya harus berusaha memikirkan kepentingan umat manusia. Kita harus bisa melepaskan kenyamanan-kenyamanan pribadi.

Babah mengakhiri khotbah dengan menjelaskan makna sejati dari pengorbanan pada hari raya iduladha. “Pengorbanan tidak hanya bermakna mengorbankan kambing dan sapi. Pengorbanan sejati adalah pengorbanan yang dilakukan para Nabi sebagaimana kisah di atas”. Pungkas Babah.

Oleh: Multimedia Al-Anwar 3

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Tim Multimedia PP. Al Anwar 3

Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Articles: 209

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *