Musyawarah Gabungan MDT Putri: Suami hilang kabar, istri menikah lagi, bolehkah???

  • Deskripsi Soal Kedua: Intiqal al-Madzhab

Sebagai umat Islam terkhusus di Indonesia tentunya sudah tidak asing dengan acara memperingati haul ulama’ terkenal, seperti acara memperingati haul (hari meninggalnya) salah seorang ulama’ Kalimantan yaitu almarhum KH. Tuan Guru Zaini bin Abdul Ghani. Banyak sekali umat Islam yang berdatangan dari berbagai daerah bahkan dari luar negeri untuk ikut serta memperingati haul ulama’ tersebut. Banyaknya peserta yang hadir menjadikan interaksi antara laki-laki dan perempuan saling bercampur tanpa adanya penghalang.

  • Pertanyaan
  • Bagaimana hukum wudhu seseorang dari tempat wudhu menuju ke tempat salat dengan kondisi tempat yang sangat berpotensi terjadinya sentuhan kulit antar lawan jenis yang bukan mahram?
  • Dalam keadaan apakah seseorang diperbolehkan untuk berpindah madzhab?
  • Jawaban Soal I: Hukum Wudhunya Tidak Batal

Secara umum, mayoritas ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa bersentuhan kulit dengan lawan jenis yang bukan mahram menyebabkan batalnya wudhu sebagaimana pendapat paling shahih dari mayoritas madzhab Syafi’i. Sedangkan sebagian ulama yang lain, seperti al-Furānī dan Imam al-Ḥaramayn mengatakan tidak batal.

Berkaitan dengan haul, seramai apapun suatu acara, pasti diberikan batas salat antara laki-laki dan perempuan dan secara pakaian, maka orang yang hadir dalam acara haul pastilah memakai pakaian yang tertutup, baik laki-laki ataupun perempuan. Jikalau sudah begitu, seharusnya masing-masing individu ber-iḥtiyāṭ atau berhati-hati dalam menjaga wudhunya.

Namun demikian, acara seperti dalam deskripsi yang dinyatakan hingga mencapai ribuan jamaah bahkan jutaan itu sangat dimungkinkan bersentuhan antara lawan jenis, karena sanking banyaknya jamaah yang hadir. Melihat kondisi yang demikian, mungkin akan mejadi problem bagi sekelompok orang yang ketika hendak menuju tempat shalat dalm keadaan sudah wudlu dan situasi sekitar begitu ramai, kemudian tanpa disengaja menyentuh lawan jenis. Mereka akan kesulitan jika harus kembali lagi ke tempat wudlu dengan jalan melawan arus, dan mungkin tidak semua tempat wudlu dekat, di sisi lain setelah mengambil air wudlu yang ke-dua juga masih dimungkinkan mereka bersentuhan dengan lawan jenis karena tentu situasi masih sangat ramai.

Dengan kondisi yang demikian, mungkin ada baiknya jika dari panitia acara membuat aturan pemisahan tempat dan jalur antara putra dan putri. Namun, menimbang yang hadir begitu banyak pasti akan ada yang kelepasan dari aturan tersebut dan kembali menjadi problem bagi sekelompok orang.

Baca Juga :  Hasil Musyawarah Gabungan Kelas 1

Oleh karena itu, untuk merespon dan memberi solusi dari kejadian yang semacam itu boleh mengikuti pendapat yang dinyatakan oleh al-Imam al-Ḥaramayn.

Berkaitan dengan fenomena ini, seyogyanya bagi seseorang tetap bersikukuh dengan madzhab yang dianut. Problematika yang mendesak seseorang, sebaiknya mencari pendapat-pendapat lain dari lingkup madzhab yang dianut terlebih dahulu. Hal ini sebagaimana yang didawuhkan oleh mbah Maimoen

“Selemah-lemahnya suatu qaul, pilihlah yang masih dalam pendapat mazhab syafi’iyah.”

  • Referensi

Al-Ghurar al-bahiyah fi syarh al-bahjah al-wardiyah: Jilid 1/137-138

( قَوْلُهُ: وَسَوَاءٌ إلَخْ ) وَلَنَا وَجْهٌ أَنَّهُ لَا يُنْتَقَضُ وُضُوءُ الْمَلْمُوسِ ، وَوَجْهٌ أَنَّ لَمْسَ الْعُضْوِ الْأَشَلِّ أَوْ الزَّائِدِ لَا يَنْقُضُ ، وَوَجْهٌ لِابْنِ سُرَيْجٍ أَنَّهُ يُعْتَبَرُ الشَّهْوَةُ فِي الِانْتِقَاضِ قَالَ الْحَنَّاطِيُّ وَحُكِيَ هَذَا عَنْ نَصِّ الشَّافِعِيِّ ، وَوَجْهٌ حَكَاهُ الْفُورَانِيُّ وَإِمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَآخَرُونَ أَنَّ اللَّمْسَ لَا يَنْقُضُ إلَّا إذَا وَقَعَ قَصْدًا ، وَأَمَّا تَخْصِيصُ النَّقْضِ بِأَعْضَاءِ الْوُضُوءِ فَلَيْسَ وَجْهًا لَنَا بَلْ مَذْهَبُ الْأَوْزَاعِيِّ وَحُكِيَ عَنْهُ أَنَّهُ لَا يَنْقُضُ إلَّا اللَّمْسُ بِالْيَدِ كَذَا فِي الْمَجْمُوعِ

Nihāyah al-maṭlab fi dirāyah al-madzhab: Jilid 1/125-126

فنقول: قد اختلف قول الشافعي في أن من لمس واحدةً من محارمه هل تنتقض طهارته؟ ونحن نذكر في توجيه القولين ما يمهد قاعدةَ المذهب. فمن قال بانتقاض الوضوء، اتبع مطلق الاسم، وقال: المحارم تندرج تحت اسم النساء، ومعتمدُ المذهب ظاهر القرآن، وقد قال الله تعالى: {أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ}. ومن قال: لا ينتقض الوضوء -وهو الأصح عندي- احتجّ بأن اسم النساء وإن كان يتناول المحارم، فإذا ذكرت الملامسة، وأضيفت إلى النساء، أشعر ذلك بلمس اللواتي يُعنَيْن، ويُقصدْن باللمس، ويُعْدَدْنَ محلاً للمس الرجال، واستمتاعهم.

ويعتضد هذا بأمرين: أحدهما - أن من المفسرين من حمل الملامسة على المجامعة، ومنهم من حملها على الجس باليد، ولم يختلفوا في المحل، فليقع الجس عند من يحمل الملامسة عليه في محلّ المجامعة. والثاني - أن الملامسة مذكورة في سياق الأحداث، وهذا يُخيِّل لمساً هو مظنة الاستمتاع. هذا قاعدة المذهب

Multimedia Putri
Multimedia Putri
Articles: 38

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *