MENELADANI ADAB SAFAR: PANDUAN ETIS DALAM PERJALANAN MENURUT IMAM AL-GHAZĀLĪ

Hari-hari liburan pondok semakin dekat. Dalam waktu yang tak lama lagi, para santri Pondok Pesantren Al-Anwar 3 akan meninggalkan pondok untuk kembali ke rumah masing-masing. Momen ini menjadi waktu yang dinanti untuk berkumpul bersama keluarga, sanak saudara, kerabat, dan sahabat, sekaligus melepas rindu setelah sekian lama berada di lingkungan pesantren. Sebagai seorang yang familiar dengan kajian-kajian Islam, sudah seharusnya, seorang santri untuk mengetahui dan mengamalkan adab-adab yang berkaitan dengan perjalanan.

Mengamalkan adab-adab safar sangat penting bagi seorang santri. Hal ini tidak hanya sebagai bentuk tatbīq (pengamalan) ilmu yang telah dipelajari di pesantren, tetapi juga sebagai cerminan dari identitas dan karakter yang telah dibentuk selama menjalani pendidikan. Adab-adab ini bukan sekadar amaliah yang bersifat sunah, tetapi sebuah usaha untuk membawa nilai-nilai pesantren ke dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam situasi yang tampaknya sepele seperti perjalanan pulang.

Dalam hal ini, Murabbi Ruhina, Babah Ghofur pernah menyampaikan suatu maqalah yang begitu mendalam. Beliau mengatakan: "Salah satu ciri khas pendidikan pesantren adalah ilmu itu jangan hanya berhenti di kepala, tetapi harus tertanam dalam hati. Oleh karena itu, kita harus melatih diri kita. Jika kita melaksanakan salat, jangan hanya yang fardu saja, tetapi tambahkan dengan yang sunah. Jika kita berpuasa, jangan hanya terbatas pada puasa Ramadan, tetapi usahakan juga melaksanakan puasa-puasa sunah yang mampu kita lakukan." Nasihat ini mengajarkan bahwa seorang santri tidak hanya cukup dengan menjalankan kewajiban-kewajiban agama, tetapi juga perlu memperkaya amalnya dengan menjalankan amaliah sunah.

Salah satu bentuk amaliah sunah yang dianjurkan adalah amaliah-amaliah sunah yang berkaitan dengan safar (perjalanan). Hal ini penting karena perjalanan merupakan bagian dari kehidupan yang juga membutuhkan perhatian khusus agar tetap dalam bingkai nilai-nilai Islam.

Tema adāb al-safar merupakan topik yang sering dibahas dalam literatur-literatur akhlak dan tasawuf. Salah satu kitab yang membahas tema ini adalah kitab Ihya’ Ulum al-Din, karya monumental Imam Al-Ghazali. Dalam kitab tersebut, beliau secara khusus membahas topik ini dalam pembahasan yang diberi judul Kitāb Adāb al-Safar (etika-etika perjalanan). Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengulas seluruh adab-adab safar dalam kitab tersebut. Tulisan ini hanya setetes dari lautan kitab Iḥyā’. Sekalipun singkat, penulis berharap tulisan ini dapat bermanfaat untuk para pembaca.

Di antara adab-adab atau etika-etika safar yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali adalah sebagai berikut:

  • Seorang musafir hendaknya memulai perjalanannya dengan menyelesaikan hal-hal berikut: mengembalikan hak-hak orang lain yang pernah dizalimi (rad al-maẓālim), melunasi hutang, menyediakan nafkah bagi orang-orang yang menjadi tanggungannya, serta mengembalikan barang titipan.
  • Membawa bekal yang halal dan baik.
  • Membantu musafir lain yang membutuhkan bantuan dengan memberikan bekal, kendaraan atau sesuatu lain yang dibutuhkan.
  • Menjaga perkataan yang baik, berbagi makanan, dan menunjukkan akhlak yang terpuji.
  • Memilih seseorang sebagai teman perjalanan.

Terkait adab ini, Al-Ghazālī mengutip sebuah pepatah, فَالرَّفِيقُ ثُمَّ الطَّرِيقُ (pilihlah teman sebelum bepergian). Al-Ghazālī juga menganjurkan untuk memilih teman perjalanan yang dapat membantu dalam menjalankan agama, mengingatkan temannya ketika lupa, dan membantunya ketika ia sedang mengingat Allah.

  • Berpamitan kepada teman-teman di tempat tinggal, keluarga, dan sahabat-sahabat serta berdoa pada saat perpisahan dengan doa Rasulullah berikut ini:

زَوَّدَك اللهُ التقوى وغَفَر ذنبَك ووجَّهَك الى الخير حيثٌ توجَّهتَ

Semoga Allah senantiasa membekali Anda dengan takwa, mengampuni dosa-dosa Anda, dan menunjukkan jalan kebaikan di mana pun Anda berada.

  • Sebelum melakukan safar dianjurkan melakukan salat istikharah
  • Membaca doa di bawah ini sebelum bepergian. Doa ini dibaca ketika sesorang berada di depan pintu rumah.

بِسْمِ اللَّهِ توكلت على الله ولا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أجهل أو يجهل علي

  • Membaca doa berikut ini ketika telah melangkah menuju kendaran
Baca Juga :  Pesantren Preneur 2019, Gus Yasin: Upaya Menumbuhkan Wirausaha Pesantren

اللهم بك انتشرتُ وعليك توكلتُ وبك اعتصمتُ وإليك توجهتُ اللهم أنتَ ثِقَتي وأنتَ رَجائِي فاكْفِني ما أَهَمَّنِي وما لا أهْتَمُّ به وما أنتَ أعلمُ به مِنِّي عَزَّ جارُك وجلَّ ثناؤُك ولا إلهَ غيرُك اللهم زوِّدْنِي التقوى واغفِر لي ذَنْبِي ووجِّهْني للخير أينما توجهتُ

  • Kemudian ketika telah berada di kondaraan, hendaknya berdoa:

بسم الله وبالله والله أكبر توكلتُ على الله ولا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ ما شاءالله كان وما لم يشأ لم يكن سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا له مُقْرِنين وإنا إلى ربنا لَمُنقَلِبون

  • Berangkat dari rumah di pagi hari. Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa Nabi mendoakan berkah untuk umatnya yang melakukan aktifitas yang baik di pagi hari. Hadis tersebut adalah:

روى جابر أن النبي صلى الله عليه وسلم رحل يوم الخميس وهو يريد تبوك وقال اللهم بارك لأمتي في بكورها (1)

Jabir meriwayatkan bahwa Nabi Ṣallā ‘Allah Alayhi Wa Sallam melakukan perjalanan ke Tabuk pada hari Kamis. Ia berdoa, “Ya Allah, berkahi umatku di pagi hari”

  • Memulai perjalanan pada hari Kamis. Adab ini mengacu pada fi’il Nabi Muhammad. Dalam suatu hadis dijelaskan bahwa mayoritas perjalanan Nabi dilakukan pada hari Kamis.

فقد روى عبد الله بن كعب بن مالك عن أبيه قال قلما كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يخرج الى سفر إلا يوم الخميس

Abdullah bin Ka’ab meriwayatkan dari ayahnya, bahwa ayahnya berkata bahwa Nabi Muhammad sering melakukan perjalanan pada hari Kamis.

  • Membawa enam barang yang pernah dibawa oleh Nabi Muhammad. Enam barang tersebut adalah cermin, botol celak, gunting, siwak dan sisir. ‘Aisyah Raḍiya Allāh ‘Anhā berkata;

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سافر حمل معه خمسة أشياء المرآة والمكحلة والمقراض والسواك والمشط

ketika bepergian, Rasulullah Ṣalla Allāh Alayhi wa Sallam membawa lima barang: cermin, botol celak, gunting, siwak, dan sisir.

  • Membaca doa yang diajarkan oleh Nabi ketika kembali dari suatu perjalanan. Nabi ketika kembali dari peperangan, haji, umrah, atau perjalanan lainnya, beliau mengucapkan takbir tiga kali di setiap tempat yang tinggi di bumi, dan berdoa:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ سَاجِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ صَدَقَ اللَّهُ وَعْدَهُ ونَصَر عبدَه وهزَم الأحزابُ وحدَه

Tidak ada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya seluruh kerajaan dan segala pujian bagi-Nya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kami kembali, bertobat, beribadah, bersujud kepada Tuhan kami, memuji-Nya. Allah telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan golongan-golongan yang bersekutu.

  • Membaca doa berikut ini ketika perjalanan telah mendekati tempat tujuan. Doa tersebut adalah:

اللهم اجْعَلْ لنا بها قَرارا ورِزقاً حسَناً

Ya Allah, jadikanlah kota ini sebagai tempat kediaman kami, dan berikanlah kami rezeki yang halal.

  • Mengirimkan seseorang atau pesan untuk memberi kabar gembira kepada keluarganya tentang kedatangannya agar tidak datang secara mendadak dan melihat hal yang tidak mereka inginkan.
  • Ketika musafir sampai pada tempat tujuan, ia dianjurkan untuk melakukan salat dua rakaat sebelum kemudian masuk ke rumah.
  • Ketika telah masuk ke dalam rumah, maka dianjurkan membaca doa

تَوْباً توباً لِرَبِّنا أَوْبًا أَوْبًا لا يُغادِرُ علينا حَوْبًا

Wahai Tuhan kami, kami meminta tobat kepada-Mu, kami kembali kepada (jalan)-Mu, jangan tinggalkan dosa untuk kami.

  • Membawa oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat, berupa makanan atau barang lainnya, sesuai dengan kemampuan.  Al-Ghazālī menyebutkan hal ini dilakukan untuk memberikan kegembiraan pada keluarga dan kerabat, dan menampilkan perhatian hati yang penuh untuk mereka.

Wallahu ‘Alam

Reference: Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ Ulūm al-Dīn, Vol. 2 (Beirut: Dār al-M’'rifah, t.th), p. 251-257.

Autor: Abdullah Halim (Santri PP. Al-Anwar 3 Sarang Rembang)

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Tim Multimedia PP. Al Anwar 3

Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Articles: 207

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *