Silaturahmi bersama Alumni: Babah Jelaskan Esensi Saling Memaafkan

Masih dalam suasana lebaran, tepatnya 14 Syawwal 1447 atau 2 April 2026, Pondok Pesantren Al-Anwar 3 mengadakan silaturrahmi kiai Abdul Ghofur Maimoen dengan para alumni. Para alumni dengan domisili yang tidak terlalu jauh dengan pondok dengan antusias menghadiri acara silaturrahmi ini. Acara dilaksanakan di Ndalem kiai Abdul Ghofur pada pukul 20.00 WIB. Acara ini diawali dengan pembacaan Maulid Diba’i dan Mahallul Qiyam bersama-sama diiringi alunan rebana dari para alumni. Setelah itu, masuk pada acara mauidhah hasanah. Dalam mauidahnya, Babah- sapaan akrab kiai Abdul Ghofur Maimoen menjelaskan esensi dari silaturrahmi dan saling memaafkan dalam momen lebaran.

Para Alumni dalam acara silaturrahmi bersama pengasuh. Sumber: Multimedia Al-Anwar 3

Dalam hal ini, Babah menerangkan makna dari QS. Ali Imran [3]: 133-134 yang berbunyi;

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Pemaknaan Babah atas QS. Ali Imran [3]:133-134

Babah menjelaskan bahwa diksi wa sâri‘û ilâ maghfiratim mir rabbikum bukan berarti segera mendapatkan ampunan Tuhan sebagaimana makna literalnya, karena itu di luar kendali manusia. Namun diksi itu menjelaskan bahwa manusia harus segera untuk melakukan perbuatan yang menjadikan Allah mengampuni dosa manusia. Adapun diksi jannatin menjelaskan bahwa surga itu setelah adanya ampunan dari Allah. Maknanya, orang bisa masuk surga ketika diampuni oleh Allah karena tidak ada manusia yang bersih dari dosa. Pada akhir ayat 133, Allah menyebutkan bahwa ampunan dan surga itu ditujukan kepada mereka yang bertaqwa kepada Allah.

Babah dalam menyampaikan mauidhah hasanahnya. Sumber: Multimedia Al-Anwar 3

Ayat 134 merupakan penjelas dari ayat sebelumnya. Dalam hal ini dikenal dengan istilah al-Qur`an yufassiru ba’duha ba’dan (Al-Qur`an menafsiri sebagian al-Qur`an yang lain). Ayat 134 menjelaskan siapa itu al-Muttaqîn yang Allah kehendaki dalam ayat sebelumnya.

Standart bermanfaat untuk alumni

Secara literal redaksi yunfiqûna fis-sarrâ’i wadl-dlarrâ’i, ditujukan kepada mereka yang berinfak atau bersedekah. Namun Babah memperluas cakupannya dengan mengartikan sebagai memberi kemanfaatan kepada diri dan orang lain. Infak dan sedekah tidak hanya diperuntukkan kepada hal yang bersifat materiil, seperti uang atau kebutuhan pokok. Namun bisa juga diartikan sebagai kelebihan pribadi yang tidak dimiliki orang lain, semisal ilmu. Menurut Babah, ini merupakan makna awal dari infak (memberi sebagian yang dimiliki, tidak terbatas apakah besifat materiil atau tidak).

Baca Juga :  Rayuan Para Pendengkur

Selanjutnya, Babah juga menekankan bahwa standart kemanfaatan para alumni adalah memberi kemanfaatan bagi dirinya dan orang lain. Kemanfaatan ini dikembalikan kepada kemampuan masing-masing dari para alumin. Babah juga sangat berharap bahwa alumni bermanfaat bagi dirinya dan orang sekitarnya.

Tahapan dari memaafkan

Marah dan jengkel kepada orang lain merupakan hal yang manusiawi. Namun Babah mengingatkan bahwa maksud ayat ini bukan melarang marah sepenuhnya. Diksi wal-kâdhimînal-ghaidha memiliki makna bahwa orang yang baik tidak akan pernah menuangkan amarahnya dalam bentuk perilaku. Dan ini berlaku dalam segala bentuk aktivitas manusia. Marah ketika ada yang menganggu tapi tidak memilih untuk melampiaskan kemarahannya merupakan tanda ketaqwaan seseorang.

Pada tahapan ini, manusia yang bertaqwa adalah mereka yang bukan sekedar tidak menuangkan kemarahannya dalam bentuk perbuatan, melainkan yang menghapus rasa marah itu sendiri. Karena makna asli dar ‘afa pada diksi wal-‘âfîna ‘anin-nâs adalah menghapus. Adapun tahapan yang tertinggi dijelaskan pada diksi wallâhu yuḫibbul-muḫsinîn. Artinya tidak hanya sekedar menahan amarah dan menghapus rasa marah itu dalam hati, tapi juga berbuat baik kepada orang yang berbuat salah kepada kita.

Babah juga menceritakan kisah tentang keagungan cucu Nabi, yaitu Ali Zainal Abidin. Babah bercerita bahwa suatu ketika budak Ali Zainal Abidin yang hendak membantu Ali Zainal Abidin secara tidak sengaja menumpahkan airnya ke baju Ali Zainal Abidin. Karena takut kena marah, budak itu lantas membacakan QS. Ali Imran [3]: 133-134. Mendengar hal itu Ali Zainal Abidin tersenyum, Ali melupakan peristiwa itu dan bahkan memerdekakan budak yang ia miliki itu. Demikian pesan dan nasihat yang Babah berikan kepada para alumni.

Selepas mauidhah hasanah, Babah dan para alumni melaksanakan halal bi halal. Para alumni berbaris demi bersalaman bersama Babah. Babah sesekali menyapa dan menanyakan kabar dari para alumni yang dikenal beliau. Acara silaturrahmi ini berlangsung hangat dan penuh keakraban. Setelah itu ditutup dengan ramah tamah.

Oleh: Multimedia Al-Anwar 3

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Tim Multimedia PP. Al Anwar 3

Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Articles: 208

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *