Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan Islam tradisional di Indonesia dikenal luas sebagai pusat pembinaan ilmu dan akhlak. Di lingkungan inilah para santri ditempa, tidak hanya melalui pengkajian kitab-kitab klasik, tetapi juga dengan penanaman nilai-nilai luhur seperti tawadhu’, hormat kepada guru, serta hidup sederhana. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, muncul fenomena yang memprihatinkan, yakni menurunnya etika di kalangan santri, khususnya pada generasi muda yang dikenal sebagai Generasi Z.
Realitas ini mungkin terdengar paradoksal, sebab pesantren selama ini justru identik dengan pembinaan adab dan akhlak. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Banyak santri yang mulai menampakkan perilaku arogan, merasa lebih pintar dari yang lain karena penguasaan ilmu atau bakat yang dimiliki, bahkan tak segan membantah guru secara terang-terangan. Tak jarang pula mereka mengekspresikan superioritasnya di media sosial dengan nada merendahkan sesama atau memamerkan pencapaian pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa kesombongan intelektual dan spiritual dapat tumbuh secara perlahan, bahkan di lingkungan yang seharusnya menjunjung tinggi nilai kerendahan hati.
Ada beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab penurunan akhlak yang saat ini banyak dipermasalahkan. Pertama, dengan adanya jabatan, sebagian santri merasa memiliki kuasa untuk menegakkan kebenaran. Hanya saja, cara yang dilakukan sering kali kurang tepat sehingga pihak yang dihakimi merasa tidak dihargai. Kedua, sebagian pesantren mulai terfokus pada capaian akademik semata, tetapi mengendur dalam pengawasan akhlak dan pembinaan karakter. Ketiga, krisis keteladanan dari para senior atau bahkan pendidik dapat mempercepat penurunan adab dalam keseharian santri.
Penurunan etika di kalangan santri bukan sekedar persoalan perilaku, melainkan ancaman terhadap identitas pesantren itu sendiri. Ketika santri kehilangan adab, mereka tidak lagi membawa cahaya Islam yang seharusnya menyinari masyarakat melalui akhlak mulia. Oleh karena itu, penting bagi seluruh pesantren – Kyai, Ustaz atau Ustazah, santri senior, santri Junior hingga pengurus – untuk kembali menegakkan nilai-nilai akhlak. Pembelajaran kitab, seperti Ta’limul Muta’allim perlu dihidupkan, bukan sekadar dibaca, tetapi juga diteladani dan diresapi. Media sosial para santri pun perlu diarahkan, bukan dilarang, agar menjadi sarana dakwah yang mencerminkan kebaikan, bukan keangkuhan.
Adab adalah mahkota ilmu. Bila ia hilang, maka pesantren hanya akan menjadi tempat hafalan, bukan pembentukan insan kamil. Maka, sudah saatnya kita semua merenung; jangan sampai ilmu menumbuhkan kesombongan, dan jangan biarkan adab tergerus oleh zaman.
Dikutip dari: https://ibshidayatullah.sch.id/adab-mahkota-keilmuan-yang-menyinari-hidup/



