TOXIC POSITIVITY

Emosi seringkali dikonotasikan sebagai sikap yang negatif. Karena pada dasarnya ketika kita menganggap orang lain emosi, memberi kesan bahwasannya ia sedang marah, cuek, berbicara kasar bahkan menimbulkan sikap yang arogan. Memang yang telah disebutkan sebelumnya, semuanya mengandung emosi negatif. Tetapi, ada beberapa emosi yang memiliki nilai positif seperti senang dan bahagia. Belum tentu juga orang yang sedang dilanda kesedihan memberi makna emosi negatif atau mempunyai permasalahan berat, tetapi dalam ranah dunia teater puncak kebahagiaan adalah menangis, dan puncak kesedihan adalah tersenyum.

Ketika kita sedang dilanda kesedihan, terkadang terdapat orang-orang yang perhatian kepada kita. Seperti menghibur untuk jalan-jalan, mendengarkan cerita, mencurahkan dimedia sosial, bahkan menuntut untuk sabar dan bahkan berbicara “kamu lebih beruntung, masih banyak orang yang lebih menderita dari kamu”. Contoh terakhir yang telah disebutkan merupakan penekanan terhadap seseorang yang sedang dilanda emosi negatif. Karena sikap tersebut merupakan sikap toxic positivity. Toxic positivity adalah kondisi ketika seseorang menuntut dirinya sendiri atau orang lain untuk selalu berpikir dan bersikap positif serta menolak emosi negatif. Seringkali seseorang memberkan motivasi kepada seseorang yang dilanda emosi kesedihan dan kemarahan dengan bergantung kepada takdir Allah. Seperti harus bersabar, bersyukur, ikhlas dll. Memang itu dianjurkan dalam agama Islam, tetapi kita harus pandai dalam menempatkan sikap tersebut. Semisal bersyukur dalam mendapatkan rezeki dan ikhlas terhadap amal.

Terdapat ciri-ciri orang yang terjebak di dalam toxic positivity, seperti:

  1. Menyembunyikan perasaan yang sebenarnya sedang dirasakan.
  2. Terkesan menghindari atau membiarkan masalah.
  3. Merasa bersalah ketika merasakan atau mengungkapkan emosi negatif.
  4. Mencoba memberikan semangat kepada orang lain, tapi sering disertai dengan penyataan yang seolah meremehkan, misalnya mengucapkan kalimat “jangan menyerah, begitu saja kok tidak bisa”.
  5. Sering mengucapkan kalimat yang membandingkan diri dengan orang lain, contohnya, “kamu lebih beruntung, masih banyak orang yang lebih menderita dari kamu”.
  6. Melontarkan kalimat yang menyalahkan orang yang tertimpa masalah, misalnya “Coba, deh, lihat sisi positifnya. Lagi pula, ini salahmu juga, kan?”.

Tidak hanya ciri-ciri orang yang sedang terjebak dalam toxic positivity, tetapi ada juga cara agar kita dapat terhindar dari belenggu toxic positivity seperti:

    1. Rasakan dan kelola emosi
    Baca Juga :  Sopan Santun Bagaikan Biji Kecil

    Memang menyimpan sebuah permasalahan tidak apa-apa. Namun, jika terlalu banyak menyimpan tanpa ada ruang ekspresi akan menimbulkan gejala setres yang berlebihan.

    2. Berusaha untuk memahami, bukan menghakimi

    Seseorang yang sedang berkeluh kesah kepada kita, tidak sepantasnya menghakimi bahwa kamu yang salah atau sebaliknya. Tetapi, pahamilah bagaimana yang sedang dirasakan sehingga dapat menemukan solusi atau sikap yang lebih efektif.

    3. Tidak membanding-bandingkan masalah

    Banyak para remaja-remaja yang sudah mulai kenal dunia yang sesungguhnya. Sehingga bercerita kepada teman seperti sebuah keharusan dalam menghilangkan setres. Tetapi, tidak sepatutnya membandingkan masalah teman dengan diri kita sendiri atau orang lain. Atau secara bahasa tongkrongan yaitu “adu nasib”.

    Itulah sebuah pengantar pada konsep istilah sikap toxic positivity yang selalu menekankan sikap positif apapu keadaannya. Emosi yang kita miliki tentunya sudah terwadah dalam kondisi masing-masing. Sehingga tidak salah bila emosi negatif kita ekspresikan dengan cara kita sendiri.

    Sarang, 6 November 2025

    Oleh: Polpen.ic

    Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
    Tim Multimedia PP. Al Anwar 3

    Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

    Articles: 207

    Newsletter Updates

    Enter your email address below and subscribe to our newsletter

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *