Daurah Ilmiah: Syekh Muhyiddin Awwamah Paparkan “Tutorial” Menjadi Santri yang Ideal

Guna menyambut santri baru, Pondok Pesantren Al-Anwar 3 kembali menyelenggarakan dauroh ilmiah dengan menghadirkan pembicara spesial, yaitu Prof. Dr. Syekh Muhyiddin bin Muhammad Awwamah. Beliau merupakan salah satu ulama kontemporer asal Syiria yang mampu menguasa beragam disiplin keilmuan Islam sekaligus.

Dalam forum ilmiah yang diselenggarakan pada hari rabu (2/9), beliau membedah salah satu kitab karangan ayahandanya yang berjudul Ma‘ālim Irsyādiyyah li Ṣinā‘ati Ṭālib al-‘Ilm. Kitab ini secara garis besar berusaha memberikan “tutorial” bagi santri baru untuk menjadi penuntut ilmu yang sejati.

Syekh Muhyiddin Awwamah dan KH. Abdul Ghofur dalam acara dauroh ilmiah di PP. Al Anwar 3. Sumber: Multimedia Al Anwar 3

Latar belakang kitab

Sebelum memaparkan isi kitab tersebut, terlebih dahulu Syekh Muhyiddin menceritakan bahwa ayahandanya, Syekh Muhammad Awwamah, memiliki guru yang memiliki kedekatan spiritual dengannya, yaitu Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah. Syekh Muhammad Awwamah belajar kepada Syekh Abdul Fattah sejak kecil. Pada suatu kesempatan Syekh Muhammad Awwamah meminta Syekh Abdul Fattah untuk berkenan menuliskan sebuah kitab atau buku yang menjelaskan bagaimana cara agar menjadi penuntut ilmu yang ideal. Syekh Abdul Fattah tidak langsung mengamini permintaan Syekh Muhammad Awwamah, beliau lebih dulu meminta Syekh Awwamah untuk menuliskan poin-poin penting yang berkenaan dengan cara menuntut ilmu. Namun sebelum poin-poin penting ini diserahkan kepada Syekh Abdul Fattah, Syekh Abdul Fattah lebih dulu tutup usia.

Proyek ini kemudian dilanjutkan sendiri oleh Syekh Muhammad Awwamah dan menghasilkan buku kecil 40 halaman tentang bagaimana menuntut ilmu. Namun, Syekh Muhyiddin, selaku putranya, selalu memberikan dorongan semangat dan saran kepada ayahandanya agar terus mengembangkan buku kecil ini. Hasilnya sekarang buku kecil itu bertransformasi menjadi kitab setebal 500 halaman dan menjadi bahan bacaan banyak kalangan khususnya para penuntut ilmu.

Syekh Muhyiddin Awwamah juga menjelaskan alasan dibalik penamaan kitab Ma‘ālim Irsyādiyyah li Ṣinā‘ati Ṭālib al-‘Ilm. Ma‘ālim berasal dari kara ma’lam yang artinya adalah tanda atau jalan, sedangkan irsyādiyyah bermakna petunjuk atau pedoman. Sehingga dapat dimengerti melalui nama bahwa kitab tersebut akan menjelaskan tentang cara mencetak para penuntut ilmu sebagaimana ulama terdahulu dicetak atau dibentuk.

Empat poin bagi santri baru

Syeikh Muhyiddin  menyebutkan bahwa kitab ini berisi empat bab atau poin. Pertama, bab yang menjelaskan tentang ilmu apa yang dimaksud dalam Ṭālib al-‘Ilm. Kedua, cara menjadi penuntut ilmu yang sejati dan ideal. Ketiga, cara menjadi guru yang sejati dan ideal. Keempat, hubungan antara penuntut ilmu dan guru.

Baca Juga :  PERINGATAN MAULID NABI DAN TAARUF SANTRI, PENGASUH: THORIQOH MBAH MOEN ADALAH ILMU

Syekh Muhyiddin menyarankan agar kitab ini dibaca dan dipelajari oleh para santri baru. Beliau menyampaikan ini karena kebetulan para peserta yang hadir dalam dauroh ini adalah santri baru. Selain itu, beliau mengklarifikasi bahwa saran ini bukan karena kitab ini adalah kitab ayahanda beliau, tapi karena kitab ini menjelaskan tentang bagaimana para ulama terdahulu menuntut ilmu sampai menjadi ulama terkemuka.

Para santri baru dalam acara daurah ilmiah bersama Syekh Muhyiddin Awwamah. Sumber:Multimedia Al Anwar 3

Niat tulus dan berdoa

Syekh Muhyiddin menyebutkan bahwa poin pertama yang harus dilakukan para penuntut ilmu adalah selalu menghadirkan niat yang ikhlas karena Allah. Selain itu, penuntut ilmu juga harus senantiasa berdoa agar selalu dipermudah oleh Allah dalam menghadirkan niat yang ikhlas.

Mengapa niat yang ikhlas merupakan langkah pertama. Beliau berkata:

“Menuntut ilmu bisa dibilang merupakan profesi yang berbahaya, karena penuntut ilmu adalah pewaris nabi, khalifah-Nya Allah, bukan seperti profesi duniawi lainnya” Tutur Beliau.“Penuntut ilmu yang tidak memiliki keikhlasan maka dia bisa dimasukkan ke dalam api neraka”

Syekh Muhyiddin mengungkapkan sebuah pepatah yang sangat terkenal. Pepatah ini disampaikan oleh Hammad bin Salman;

“Barang siapa yang menuntut ilmu hadis karena selain Allah, maka ia akan tertipu”.

Maqalah ini secara khusus berkenaan dengan ilmu hadis karena pada masa itu ilmu hadis sangat familiar. Namun, sebenarnya maqalah ini diperuntukkan untuk seluruh ilmu.

Selanjutnya, Syekh Muhyiddin menyebutkan poin kedua yang juga tak kalah pentingnya, yakni sadar akan istimewanya posisi sebagai penuntut ilmu. Karena Allah telah memilih kita sebagai orang yang mampu menuntut ilmu di antara jutaan orang yang berharap menuntut ilmu tapi tidak ditakdirkan oleh Allah.

Dan yang terakhir, Syekh Muhyiddin berpesan agar para penuntut ilmu senantiasa berdoa selepas subuh dengan doa;

Allahumma inna nas’aluka ilman nafi’a, wa rizqan wasi’a, wa ‘amalan mutaqabbalan

Ini merupakan doa yang juga dibaca Nabi selepas salat subuh di setiap harinya. Wallahu ‘alam.

oleh: Multimedia Al Anwar 3

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Tim Multimedia PP. Al Anwar 3

Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Articles: 212

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *