Beranda > Senggang > Cerpen Santri > Usaha Sepasang Curut

Usaha Sepasang Curut

curut

Sepasang curut berhasil lolos kabur dari asrama mereka masing-masing. Tujuan mereka adalah sebuah perjumpaan. Sebelum berjumpa, mereka berpencar dan singgah ke rumah temannya masing-masing untuk mengamankan diri, beristirahat dan menghimpun tenaga untuk malam pertempuran yang dahsyat dan yang dinanti-nanti. Curut Jantan bermalam di rumah Si Anu, sedang Curut Betina bermalam di rumah Si Ani.

“Sampai jumpa besok, Dik,” ucap Curut Jantan dalam panggilan videonya bersama kekasihnya itu. Curut Betina tidak membalas, ia telah pulas setelah kelelahan kabur membawa kecemasan dan kenekatan yang tak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya. Perlahan Curut Jantan menyusul kekasihnya ke dalam lelap. Panggilan video itu memakan habis kuota tiga gigabyte dalam waktu sepuluh jam. (Mungkin itu yang disebut orang-orang dengan sleepcall).

***

Malam berikutnya, sepasang curut mendarat di sebuah kota. Menyinggahi tempat-tempat indah sembari melobi satu per satu hotel ‘yang aman’ untuk malam yang panjang bagi mereka berdua. Dan akhirnya mereka sampai pada sebuah hotel di sudut kota. Hotel dengan bangunan dan resepsionis yang sama-sama sudah tampak bau tanah itu.

Resepsionis hotel di sudut kota itu tak pernah menanyakan buku nikah pada sepasang pemuda-pemudi yang seringkali bermalam syahdu di tempatnya bekerja. Karena memang begitulah daya pikat dari hotel ini yang lebih mirip dengan rumah dengan beberapa petak kamar remang-remang. Beberapa pasang keluar masuk silih berganti meninggalkan kenangan yang kental, pekat dan lengket di ranjang. Dan resepsionis tua berkaca mata tebal itu tak mau ambil pusing apa yang diperbuat mereka. Sekali lagi, resepsionis dan juga para pekerja hotel itu tak mau ambil pusing. Parsetan juga jika para tamu itu adalah sepasang yang tidak tahu diri; entah guru, entah politikus, entah selebritis, entah agamawan, entah mahasiswa/i, entah santri. Tak ada urusan bagi pekerja hotel. Yang pasti, setiap pengunjung haruslah bayar sekian untuk tempat dan waktu sekian. Selebihnya, urusan mereka dan malaikat pencatat.

BACA JUGA :  Cinta Terakhir Syam

            Malam minggu itu, tiba sepasang curut muda-mudi yang tampak asing—sebagaimana pengunjung lainnya. Dan tanpa fafifu mereka langsung memesan sebuah kamar di hotel itu.

“Kamar penuh. Silakan cari hotel yang lain.” jawab resepsionis datar sambil menahan kantuk dan kebosanan.

            “Semua hotel penuh, Pak. Dan ini hotel terakhir yang kami harapkan ada kamar kosong,” ucap Curut Jantan.

            “Apa kalian tidak dengar dan paham kata saya, hah? Kamar penuh!” balas resepsionis dengan ketus karena waktu melamunnya terganggu. Lelaki tua itu mudah dan sering jengkel pada calon tamu yang ngeyelan. Maklum, ia telah menghabiskan seumur hidupnya hanya untuk menjadi resepsionis. Tak ada lain.

BACA JUGA :  Bukan Pecundang Kawakan

            Sepasang curut muda-mudi itu masih berdiri di sebelah meja resepsionis. Mereka tampak sedang bermusyawarah. Setelah beberapa waktu, belum juga ada mufakat. Dari balik meja resepsionis terdengar suara lirih obrolan kedua curut itu.

            “Bagaimana? Apa kita pulang saja?” tanya Curut Betina dengan keganjilan yang menggantung di wajahnya.

“Kita sudah jauh-jauh kabur dari asrama, mana mungkin pulang tak membawa kenangan,” jawab Curut Jantan dengan keresahan yang entah.

            “Terus mau bagaimana lagi? Semua hotel ‘yang aman’ di kota ini sudah penuh. Dan tidak mungkin kita pergi ke kota lain tengah malam begini… Jaraknya jauh, Kak,” Sahut Curut Betina dengan semakin melirihkan suaranya.

            Curut Jantan melirik ke arah resepsionis, menaruh harapan dengan ekspresi rai sedikit melas. “Hmmm, jika lelaki tua itu berbaik hati, setidaknya untuk malam ini di gudang pun tak apa.”

Curut Betina memandang heran dengan gagasan itu, “Gudang?” Kemudian merespon dengan ikut melirirk pada resepsionis tua di sebelah meja.

            Mendengar kebimbangan dua curut yang seperti kehilangan induk itu, resepsionis tua menimpali, “Kalau kalian memaksa dan mau, ini ambil saja kamar 13. Gratis!” ucap resepsionis tua datar sambil melemparkan kunci ke atas meja.

Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *