Seringkali, setelah selesai membaca Surah Ad-Duha hingga surah terakhir dalam Al-Quran, diiringi dengan bacaan takbir. Lalu, mengapa kita disarankan untuk bertakbir setelah membaca Surah Ad-Duha hingga An-Nas, dan siapa saja ulama yang meriwayatkan tradisi takbir ini?
Secara umum, isi artikel ini ingin berusaha menjawab beberapa problem pertanyaan yang telah disampaikan sebelumnya. Dalam menjawab pertanyaan tersebut, tulisan ini memiliki sumber utama dari kitab Musthalahāt fī Fann al-Adā’ wa ‘Ilm al-Qirā’āt dan Al-Irsyādāt al-Jaliyah fī al-Qirā’āt as-Sab‘i. Dengan kata lain, artikel ini dapat dianggap sebagai ulasan singkat yang memperkenalkan tradisi membaca takbir, sebagaimana yang biasa kita lakukan saat mengkhatamkan Al-Qur’an dari surah Ad-Duha hingga An-Nas.
Tradisi takbir ini bermula ketika Malaikat Jibril membacakan surah Ad-Duha kepada Nabi Muhammad ṣallāhu ‘alayhi wa sallam dan mengucapkan “Allahu Akbar” sebagai ungkapan syukur atas turunnya wahyu. Nabi Muhammad ṣallāhu ‘alayhi wa sallam kemudian menganjurkan umatnya untuk bertakbir setiap kali selesai membaca surah tersebut hingga akhir Al-Qur’an, sebagai bentuk pengagungan kepada Allah dan ekspresi kebahagiaan saat mengkhatamkan Al-Qur'an. Meskipun takbir ini bukan bagian dari Al-Qur'an, sebagaimana halnya dengan sunnah membaca ta'awudz sebelum memulai bacaan, ia tetap dilestarikan dan diwariskan oleh para ulama qiraat. Oleh karena itu, takbir tidak dicantumkan dalam mushaf Utsmani. Sebagaimana dijelaskan oleh Al-Bazi, Imam Syafi'i juga pernah berkata, "Jika kau meninggalkan takbir, berarti kau telah meninggalkan salah satu sunnah Rasulullah ṣallāhu ‘alayhi wa sallam."
Penulis kitab Ghaits An-Naf’I menjelaskan bahwa bacaan takbir tidak hanya diriwayatkan oleh penduduk Mekkah, meskipun lebih terkenal di kalangan mereka karena praktiknya yang konsisten. Hal ini berbeda dengan para imam dari daerah lain (Amshar). Penulis kitab Musthalahat fi Fann Al-Adaa wa Ilmi Al-Qiraat juga menyebutkan bahwa para ulama qiraat sepakat meriwayatkan takbir dari Al-Bazzi dan Qunbul, yang merupakan murid-murid Ibnu Katsir. Selain itu, takbir juga diriwayatkan oleh qari’ lain, tetapi dalam konteks syair Asy-Syatibiyah, takbir secara khusus dikaitkan dengan riwayat Al-Bazzi dan Qunbul.
Para ulama qiraat sepakat bahwa lafaz takbir adalah "Allahu Akbar" yang dibaca sebelum basmalah. Sebagian ulama meriwayatkan dari Al-Bazzi dan Qunbul adanya tambahan bacaan tahlil sebelum takbir, sehingga menjadi "La ilaha illallah Allahu Akbar". Ada juga yang menambahkan tahmid setelah takbir, sehingga berbunyi "La ilaha illallah Allahu Akbar wa lillahil hamd" Para guru qiraat, baik klasik maupun modern, menerima semua riwayat sahih tentang takbir, meskipun tidak selalu berasal dari kitab yang menjadi rujukan utama qiraat mereka. Oleh karena itu, takbir setelah Surah Ad-Duha dilafalkan dalam setiap bacaan qiraat, meskipun riwayatnya secara khusus berasal dari Ibnu Katsir melalui Al-Bazzi dan Qunbul.
Tradisi takbir setelah membaca surah Ad-Duha hingga surah An-Nas mengajarkan kita untuk selalu mengagungkan Allah dan bersyukur atas nikmat-Nya. Menjaga tradisi ini adalah bentuk penghormatan terhadap ajaran yang diwariskan oleh para ulama qiraat dan sebagai tanda kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya.
Musthalahāt fī Fann al-Adā’ wa ‘Ilm al-Qirā’āt, hlm. 408
Al-Irsyādāt al-Jaliyah fī al-Qirā’āt as-Sab‘i, hlm. 506.
Oleh: Aina Salsabila




