Dari gelagatmu, kau tampak segar dan tenang. Wajahmu berlinang cahaya yang memendar kemana-mana. Sejuk dapat kurasakan ketika melihatmu sebahagia ini. Apakah dengan kebahagiaan yang kau tampakkan di acara ulang tahun anak kita sudah siap untuk dilaksanakan, istriku?
“Syukurlah, hampir semua persiapan sudah selesai, tinggal menentukan siapa yang akan memimpin acara ini untuk Fatimah. Semoga anakku menjadi anak yang saleh dan taat pada orang tua, amin!” ucapmu waktu itu. Lebih dari itu, aku berharap Fatimah menjadi orang yang paling disegani di negeri ini, istriku.
Sehabis harapmu itu, kau terlihat bersiap-siap untuk pergi ke rumah kiai Syamsuddin, guru ngaji anak kita. Tak lupa pula bawa beras dan minyak tanah untuk sekadar ole-ole untuk kiai Syamsuddin. Di matamu yang teduh, aku melihatmu berharap penuh agar kiai Syamsuddin bersedia memimpin acara ulang tahun anak kita.
“Begini kiai, saya mau adakan acara selamatan di ulang tahun Fatimah. Saya harap njenengan sudi memimpin acara ini,” pintamu.
“Oh Fatimah anakmu itu? Baik, kapan akan dilaksanakan acaranya?” jawab kiai Syamsuddin waktu itu. Kau mengangguk-angguk tanda mengiyakan pertanyaan kiai Syamsuddin sambil menjawab waktu pelaksanaan acara ulangtahun itu. Kau juga tidak lupa meminta kiai Syamsuddin untuk membacakan Surah Yasin saja. “Tak banyak yang saya undang kiai, hanya acara keluarga saja.” ucapmu. Dan kiai Syamsuddin memaklumi ucapanmu dengan mengangguk meniru tingkahmu.
Aku senang, istriku. Aku tak bisa meluapkan kebahagian ketika keinginan anak kita sudah hampir terkabul. Terima kasih juga istriku, berkat usahamu, anak kita akan didoakan agar menjadi anak yang bermanfaat kelak, semoga terkabul istriku.
//
Lihat istriku, di saat matahari tampak mengungguli kepala, keluarga-keluarga jauh kita sudah banyak yang datang. Mereka rela datang meskipun bertaruh dengan terik matahari siang hari. Mereka datang dengan membawa senyum yang pekat dengan keindahan, istriku. Lihat itu juga istriku, pamanmu yang dari Jawa datang memenuhi undanganmu tempo hari. Keluarga-keluarga besar kita sudah berkumpul istriku. Segeralah mulai acara ulang tahun untuk anak kita, aku sudah tak sabar istriku.
Tunggu, mana anakku, Fatimah. Dengan sigap dan pengertianmu, kau bawa Fatimah keluar dari rumah dan kau dudukkan di dekat guru ngajinya. Aku bangga melihatnya, istriku, dia merupakan paduan kita, sikapnya yang lembut mencerminkan sikapmu. Dengan balutan baju batik yang kubelikan tempo hari, Fatimah sangat cantik. Segera mulailah acaranya, aku sudah tak sabar sekali!
Mula-mula kiai Syamsuddin memulai dengan pembacaan al-Fatihah untuk Nabi Muhammad dan ulama-ulama terdahulu. Lepas itu, tak lupa kiai Syamsuddin berbuat demikian untuk anak kita.
Duh, aku kelewat senang istriku. Bacaan Surah Yasin tergaung ke segala penjuru rumah kita. Lihat anak kita itu istriku, dia ikut khusyuk membaca Surah Yasin untuk dirinya sendiri. Para anggota keluarga besar kita semua ikut tertunduk membacakan hal yang sama untuk anak kita.
Pada suasana khidmat pembacaan Surah Yasin itu, aku melihatmu sengaja menahan air mata agar tidak jatuh, menahan diri supaya tak tampak rapuh.
Apakah kau tak bahagia setelah acara ulang tahun untuk anak kita sukses tergelar? Pantasnya kau bangga, istriku. Kau sudah menjadi ibu yang baik bagi anak kita, Fatimah. Lihat anak kita itu, dia menunduk, mengamini doa kiai Syamsuddin untuk dirinya. Lihat keluarga besar kita istriku, mereka semua mengamini harapan kita.
“Andai saja Mas... andaikan Mas masih hidup dan menyaksikan ini semua,” ucapmu lirih dan tertahan.
Ah, istriku...




