Ratusan santri Al-Anwar 3 menghadiri peringatan Isra` Mi‘raj Nabi Muhammad SAW yang digelar di gedung sport center STAI Al-Anwar. Acara dilaksanakan pada tanggal 5 Januari 2026 M / 16 Rajab 1447 H, bertepatan dengan malam sebelum masa liburan semester ganjil. Acara ini diisi dengan rangkaian kegiatan keagamaan, mulai dari pembacaan maulid diba’, mau’iẓah ḥasanah dan Muṣāfaḥah bersama mashayikh. Pada acara tersebut, KH. Ahmad Wafi Maimoen diundang sebagai pembicara dengan mengangkat tema pembahasan tentang keutamaan Nabi Muhammad. Acara Isra` mi’raj ini turut dimeriahkan oleh tim Hadroh Jam’iyyah Qurra` wal Huffadz (JQH) adz-Dzauq, baik putri maupun putra.
Babah menekankan sikap optimisme dan ḥusnuẓan
Dalam sambutannya, KH. Abdul Ghofur berpesan kepada santri agar tetap menjaga identitas dan rutinitas pondok pesantren serta membawa aura positif santri untuk masyarakat, baik saat perjalanan maupun ketika sudah sampai di rumah. “Kalau bisa nanti sesampai di rumah jangan ada istilah balas dendam ya, tidur terus di rumah, dan khusus yang laki-laki kalau salat jangan di rumah ya, standartnya laki-laki itu di masjid atau di langgar”. Pesan beliau untuk para santri. “Semoga itu semua menjadi aura positif kita untuk masyarakat ya..”. Lanjut Babah – sapaan akrab para santri untuk beliau.
Selain itu, Babah juga mengingatkan para santri untuk memupuk rasa optimisme, sikap pantang putus asa, serta ḥusnuẓan kepada Allah. Karena hidup tidak selamanya menyenangkan, terkadang kesedihan silih berganti mendatangi kehidupan. “Namanya hidup di dunia ada yang menyenangkan, ada yang kurang menyenangkan, tetapi semoga hal itu tidak membuat kita berhenti ḥusnuẓan kepada Allah”. Beliau menjelaskan makna optimisme dalam asbāb al-Nuzūl surah al-Ḍuha yang berkenaan dengan Ummu Jamil (Istri Abu Lahab) dan peristiwa Malaikat Jibril ‘Alayhis salām yang tidak turun beberapa hari kepada Nabi. Ummu Jamil berkata “Setanmu (malaikat Jibril) meninggalkanmu!”.
Hal ini membuat Nabi Muhammad sedih. Kemudian Allah menurunkan Surah al-Ḍuha untuk memberi semangat dan menghibur Nabi, dan salah satu ayatnya berbunyi “مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰى”. Jibril tidak turun itu bukan berarti Allah meninggalkan Nabi Muhammad. Ayat ini berhasil mengembalikan semangat Nabi, dan sejak ayat ini turun Nabi tidak pernah kehilangan ḥusnuẓan kepada Allah. “Ketika momen buruk menimpa, jangan kehilangan sikap ḥusnuẓan kepada Allah ya, kita harus selalu ingat kalau Nabi dulu juga pernah tidak disamperin Jibril beberapa hari sampai beliau sedih, kemudian Allah menurunkan pesan melalui ayat al-Qur`an”. Tutur Beliau.
Kemudian beliau juga memberikan sebuah korelasi atau munāsabah dengan surah selanjutnya, yaitu al-Inshirāh. Beliau menjelaskan bahwa dalam surah ini ada penegasan tentang kesulitan yang disikapi dengan optimisme dan ḥusnuẓan kepada Allah akan berakhir dengan kebahagiaan dan kemudahan. “Kita harus selalu ingat prinsip dalam surah al-Inshirāh bahwa setiap kesedihan pasti ada kemudahan dan kebahagiaan yang mengikutinya”. Surah al-Ḍuha dan al-inshirāh ini keduanya turun di awal kenabian, sehingga pelajaran ini diaplikasikan Nabi sepanjang perjuangannya dalam menyebarkan agama Islam dengan penuh semangat dan tanpa putus asa.
Gus Wafi bercerita keutamaan Nabi Muhammad
Sementara itu, ketika acara inti atau mauiḍah ḥasanah. Pertama, KH. Ahmad Wafi Maimoen membicarakan tentang keutamaan sebagai umat Nabi Muhammad. “Nabi Muhammad itu Nabi yang sangat mulia. Ketika Nabi musa meminta dilapangkan dada dengan mengucap; Rabbi ishraḥ li ṣadri (QS. Ṭaha: 25-28), sedangkan Nabi Muhammad tidak meminta tapi dikasih oleh Allah; Alam Nashraḥ laka ṣadrak (QS. al-Inshirāh: 1). Mana yang lebih mulia antara orang yang meminta kepada Allah dibanding dengan orang yang dikasih oleh Allah?” Tegas beliau.
Sehubungan dengan peringatan Isra` Mi’raj. Kedua, beliau menjelaskan tentang peristiwa agung Isra Mi’raj Nabi Muhammad yang menjadi perjalanan spiritual yang tidak ada satu Nabi pun sampai pada derajat bertemu secara langsung dengan Allah, bahkan Malaikat Jibril pun tidak sampai pada derajat sidrat al-Muntahā. “Sinarnya Allah itu ibarat matahari, semakin dekat maka semakin terang dan semakin panas. Dan hanya Nabi Muhammad yang dapat sedemikian dekatnya dengan Allah. Nabi yang lain hanya sampau pada batas langit”

Terakhir, Gus Wafi -sapaan akrab KH. Ahmad Wafi Maimoen, menceritakan tentang kehebatan umat sekaligus ulama Nabi Muhammad, yaitu Imam al-Ghazali. Imam Abu Hasan al-Shadzily pernah bermimpi bahwa Rasulullah berbincang dengan Nabi Musa tentang ulama. Nabi Muhammad menyebutkan bahwa “Ulamaku seperti Nabi-Nabi Bani Israil”. Nabi membuktikannya dengan mendatangkan Imam al-Ghazali dan menantang Nabi Musa untuk bertanya apapun. Kemudian Nabi Musa bertanya kepada Imam Ghazali. Nabi Musa berkata: “Siapa Namamu?”. Imam Ghazali menjawabnya dengan jawaban yang panjang. Hal ini membuat Nabi Musa skeptis dan menyanggah. “Aku hanya bertanya namamu, mengapa kamu menyebut secara lengkap, panjang dan lebar, kamu melakukan suatu kesalahan”. Namun, Imam Ghazali menjawabnya dengan tenang “Kalau aku salah, Maka kamu (Nabi Musa) juga pernah melakukan kesalahan. Allah bertanya kepadamu “Apa yang berada di tangan kananmu, wahai Musa”. Kemudian kamu menjawab dengan panjang lebar seperti yang aku lakukan (Kisah ini terekam dalam QS. Ṭaha: 17-18)”.
Setelah itu, Nabi Muhammad bertanya kepada Nabi Musa. “Adakah Ulamamu yang seperti ini wahai Nabi Musa?”. Nabi Musa pun bingung dan tidak bisa menjawabnya. Hal ini membuktikan kebenaran ucapan Nabi Muhammad Bahwa Ulama Nabi Muhammad sebanding dengan Nabi-Nabi Bani Israil, termasuk Nabi Musa.
Muṣāfaḥah bersama Mashayikh
Akhirnya, acara peringatan Isra` Mi’raj ini ditutup dengan Muṣāfaḥah bersama para mashayikh. Para santri putra mengantri untuk bersalaman sekaligus berpamitan kepada Babah Ghofur, karena besok (Selasa, 6 Januari 2026) sudah masuk masa liburan semester ganjil, sedangkan santri putri langsung diarahkan untuk kembali ke pondok.




