Sehari setelah pelaksanaan Ikhtibar I Madrasah Diniyyah Takmiliyyah Al-Anwar 3, Pondok Pesantren Al-Anwar 3 kembali menggelar agenda ilmiah berupa Halaqah Turats. Kegiatan ini menghadirkan Gus Rumail Abbas (Jepara) sebagai pemateri utama dan dilaksanakan pada Senin, 22 Desember 2025. Acara diselenggarakan di Gedung Sport Center Sarang, Rembang.
Halaqah Turats merupakan agenda rutin Pondok Pesantren Al-Anwar 3 yang diselenggarakan dua tahun sekali. Pada tahun ini, tema yang diangkat adalah “Turats: Kisah Penemuan Kembali Khazanah yang Nyaris Sirna.” Tema tersebut dipilih untuk menegaskan kembali peran generasi penerus sebagai pewaris intelektual Islam. Hal ini demi menjaga dan mengembangkan khazanah keilmuan klasik di tengah tantangan zaman modern.
Dalam pemaparannya, Gus Rumail Abbas menyoroti fenomena dekadensi kajian turats yang kian terasa dari waktu ke waktu. Salah satu penyebab utamanya adalah sulitnya menemukan manuskrip dan kitab-kitab turats yang otentik. Gus Rumail mengutip kegelisahan Muhammad Abduh untuk menggambarkan kondisi tersebut. “Kata Muhammad Abduh, orang yang mencari kitab turats, misalnya Kitab al-Umm yang otoritatif dalam mazhab Syafi‘i itu seperti mencari Al-Qur’an di rumah orang ateis.” Ungkapan tersebut menunjukkan betapa langkanya manuskrip turats pada masa kini, sekaligus menjadi peringatan akan pentingnya upaya pelestarian.
Lebih lanjut, Gus Rumail menjelaskan bahwa Islam sejak masa sahabat telah memiliki tradisi tulis-menulis yang sangat kuat. Dari tradisi inilah berkembang disiplin keilmuan tahqīq al-makhṭūṭāt (verifikasi manuskrip), serta lahir profesi muṣaḥḥiḥ dan muḥaqqiq yang berperan menjaga keotentikan teks-teks keilmuan Islam.
Selanjutnya, Gus Rumail juga menegaskan pentingnya peran dunia Islam, termasuk Indonesia, dalam menjaga dan melestarikan turats. Tradisi penyalinan kitab dilakukan para kiai Nusantara serta komunitas keilmuan merupakan bentuk ikhtiar kolektif untuk melindungi warisan intelektual Islam.
Di akhir pemaparannya, Gus Rumail menekankan eratnya hubungan antara turats dan sejarah. Turats tetap hidup dan diingat oleh umat Islam karena memiliki nilai yang esensial. Dan nilai inilah yang menjadikannya bagian dari sejarah yang bermakna.“Sejarah adalah peristiwa masa lalu, tetapi tidak semua peristiwa masa lalu adalah sejarah. Yang disebut sejarah adalah peristiwa yang memiliki nilai,” pungkasnya.
Melalui halaqah ini, diharapkan para santri semakin menyadari pentingnya merawat tradisi keilmuan Islam serta mengambil peran aktif dalam menjaga kesinambungan turats di masa depan.
Oleh: Multimedia al-Anwar 3



