Kisah Teladan KH. Misbah Mustofa Bangilan Tuban: Anekdot Kiai Misbah dan Santri Kinasihnya

Alkisah di sebuah kecamatan kecil di kabupaten Tuban ada kiai karismatik yang bernama kiai Misbah Mustofa, beliau adalah seorang kiai yang ‘ālim dan mempunyai banyak karya tulis ilmiah dalam berbagai macam cabang keilmuan. Selain ‘ālim dalam ilmu dirāsah, beliau juga tak kalah ālim dalam ilmu hāliyyah. Alasannya karena tradisi di pesantren beliau santri tidak hanya mengaji kitab dirāsah saja namun juga mengaji hāliyyah, perilaku, tatakrama dan adab yang terlihat dari keseharian kiainya.

Diceritakan bahwa kiai Misbah mempunyai salah seorang santri yang sangat dekat dengannya atau sering disebut dengan santri kinasih, sebut saja kiai Muhib. Kiai Muhib merupakan kiai sepuh dari Kaliwungu, putra dari KH. Mahfudz Syarbini yang termasuk ahli Qur’an pada zamannya. Kiai Muhib muda dipondokkan oleh abahnya di pondoknya kiai Misbah karena beliau adalah teman dari kiai Mahfudz Syarbini. Memang kebiasaan orang dulu, mereka memondokkan anaknya ke pondok temannya atau ke pondok ayahnya dahulu. Kiai Muhib muda mondok di kiai Misbah saat sudah memasuki usia dewasa jadi beliau lebih sering ber-mu’āsyarah atau dalam bahasa jawanya adalah ndere’ake kiai Misbah.

Suatu ketika kiai Misbah mengajak kiai Muhib muda untuk jalan-jalan naik motor. Di tengah perjalanannya, kiai Muhib menabrak seekor kambing. Hampir-hampir saja motor yang mereka kendarai tergelincir. Kiai Muhib muda pun seketika refleks menengok ke belakang untuk melihat kambing tadi, sekaligus memastikan apakah kiai Misbah baik-baik saja. Namun, apa yang dilakukan kiai Misbah membuatnya terkejut. Ketika kiai Muhib menengok ke belakang beliau malah dimarahi oleh kiai Misbah. “Ojo ndelok memburi Hib”, ucap kiai Misbah Mustofa sambil mengarahkan pandangan kiai Muhib muda agar tetap melihat kedepan. Kiai Muhib pun bertanya kepada kiai Misbah, “Yai, kenopo kulo kok mboten angsal mersani wingking?”. Kiai Misbah menjawab singkat akan tetapi penuh dengan isyarat, “Nek awakmu ndelok memburi ngko malah tibo Hib! Sing uwes yo uwes ojo mbok deloki terus..”.

Baca Juga :  Generasi Cerdas Milenial, Stop Digital Amnesia!

***

Begitu pula dalam hidup, sering kali kita melakukan kesalahan, terjatuh dalam dosa, atau  kita sering jatuh dalam kegagalan. Namun kita jangan terlalu sering mengingat-ingat akan dosa atau kegagalan yang kita alami di masa lalu. Jika kita terlalu sering melihat ke masa lalu, selalu menengok ke belakang, kita akan mudah tergelincir melakukan kembali hal yang sama.

Yang berlalu biarlah berlalu, cukup kita jadikan pelajaran agar kita tidak terjatuh ke lubang yang sama. Seperti cerita kiai Muhib di atas; jika setelah menabrak kambing beliau malah menengok ke belakang, beliau malah tidak melihat ke depan. Akibatnya, banyak kemungkinan mereka berdua malah akan terjatuh. Kambing itu ibarat dosa, kesalahan, dan kegagalan di hidup kita. Kita tidak perlu melihat kembali kesalahan yang kita perbuat di masa lalu karena itu akan menjadikan kita takut untuk memulai kembali dan ragu akan diri kita sendiri. Cukuplah hanya di masa lalu kita gagal. Jika kita berbuat kesalahan, berdiri!! Bangkitlah dan mulai kembali hidupmu dengan penuh semangat baru dan percaya diri sambil menatap ke masa depan.

Sumber cerita: K. Lukman Hakim

Oleh: Ust. Moch. Izzuka Hakim, S.Ag

Share your love
Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Tim Multimedia PP. Al Anwar 3

Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Articles: 222

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *