“Dua-dua Oktober empat lima itulah hari kemerdekaan kita”
Gema riuh dari nyanyian khas itu menggema di seantero Demak, alunan nadanya meliuk indah bercampur dengan gelora semangat ratusan santri. Mungkin tanggal itu tampak seperti sebuah hari yang hanya satu kali ada dalam tiap tahunnya, sama seperti tanggal-tanggal lainnya. Namun, ada sebuah hal yang membedakan 22 Oktober menjadi satu tanggal yang senantiasa dinanti sekumpulan orang yang selama ini dianggap tak mengikuti zaman. Pada hari itu, mereka mengenang, membuka lembaran yang selama ini tak dihiraukan, serta menengadahkan tangan guna memanjatkan doa untuk tokoh yang rela mengambil peran di hari kemerdekaan.
Atmosfer itu tak luput dari perhatian Zena, seorang gadis 12 tahun yang tinggal tak jauh dari lokasi diselenggarakannya acara peringatan Hari Santri. Sebagai remaja yang belum pernah mengenyam pendidikan di Pesantren, Zena tak begitu tahu mengenai kebiasaan-kebiasaan yang sering para santri lakukan di beberapa waktu tertentu. Namun, malam itu rasa penasaran Zena membuncah, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada sang Ayah mengenai pesta pora yang sedang ramai menggemakan nada-nada Islami.
Ayah Zena merupakan salah seorang anggota dewan di kantor Bupati Demak. Setengah dari 24 jamnya ia habiskan di luar rumah, sehingga tak banyak waktu yang dapat ia gunakan untuk berkumpul bersama keluarga. Perlahan, Zena menghampiri ayahnya yang masih tampak fokus menatap layar komputer, lalu bertanya “Ayah, yang di sana itu sedang mengadakan acara apa?” Ayah Zena melirik sebentar ke luar jendela, dan menjawab “Ah, mereka. Seperti biasa lah, Dek. Mereka kan memang suka kumpul ramai-ramai seperti itu. Beda dengan kita, hidup tenang, bersih, dan ga berisik.” ucapnya seraya kembali mengetik sesuatu di keyboard komputernya. Alis Zena berkerut tak paham, akhirnya ia kembali menanyakan satu hal pada sang Ayah.
“Memangnya kita sama mereka apa bedanya yah? Temen aku besok ada kok yang mau masuk ke pesantren!” Ayah Zena menghela napas dan Kembali menjawab pertanyaan yang diajukan gadis manis itu, “Dek, coba adek lihat baju kita, semuanya bagus, mahal, dan branded. Selain itu, lihat makanan kita setiap hari deh. Kita selalu makan makanan enak dan juga sehat.” Ayah berhenti sejenak kemudian kembali melanjutkan jawabannya, “Sedangkan mereka? Mana punya mereka baju bagus seperti gaun-gaun Adek yang di lemari itu. Bahkan, mereka saja makan dengan lauk seadanya, kadang asin, kadang hambar. Jadi, tentu kelas kita dan orang-orang itu berbeda, Dek.” Selesai. jawaban panjang itu mampu membuat Zena terdiam dan beranjak ke tempat tidurnya.
Jam menunjukkan pukul 05.48 WIB, dan alarm Zena sudah berbunyi sedari tiga menit yang lalu. Dengan malas, ia bangun dari tempat tidur untuk menyambut matahari pagi yang sedari tadi sudah menyapanya dengan malu-malu melalui celah jendela. Zena segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, sebab sebentar lagi bunda pasti akan berteriak dari bawah untuk meminta Zena segera turun dan sarapan bersama. “Adekkk, kalau sudah bangun langsung turun ya, soalnya Kak Rafi buru-buru mau ke sekolah.” Tuh kan, apa Zena bilang. Belum juga menutup pintu kamar mandi, panggilan harian dari bunda sudah terdengar. Mulai hari ini, siswa kelas 6 SD sudah diliburkan guna menunjang persiapan masuk sekolah menengah, itu sebabnya hanya kakak laki-laki Zena yang terburu-buru berangkat ke sekolah.
Di meja makan, hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring hingga akhirnya bunda membuka pembicaraan, “Dek, gimana persiapan buat masuk SMP favorit? Aman kan?” Zena terdiam sejenak, kemudian menjawab, “Bunda, Adek mau masuk ke pesantren aja.” semua terdiam. Tik-tik-tik bunyi dentingan dari detik jam dinding mengisi kekosongan sesaat itu. Suasana di meja makan itu tiba-tiba mencekam, Ayah melepas kacamata, sementara Bunda dan kakak hanya saling menatap tak bersuara. “Dek, jangan ngada-ngada deh. Pesantren?” Ayah tertawa kecil, namun di telinga Zena tawa itu bukan sebuah humor yang bisa dibuat candaan. “Ayah ini anggota dewan, mau ditaruh mana muka Ayah nanti kalau kamu sekolah di sana? Kamu mau pakai baju lusuh dan makan sepiring beramai-ramai seperti mereka?”
Zena menunduk, menatap makanan mewah yang disajikan di atas piring porselen mahal buatan luar negeri, entah kenapa ada sesuatu yang membuncah dibenaknya. “Ayah, memangnya mereka salah apa? Kenapa Ayah selalu meremehkan mereka?” tanya Zena dengan lirih namun tajam. “Zena,” panggil bunda pelan ketika suasana mulai menegang, sementara Kak Rafi mengisyaratkan agar Zena tetap diam dan fokus pada makanannya. Ayah menghela napas, lalu berujar, “Sayang, Ayah dan Bunda itu sudah merencanakan masa depan kamu dan kakak kamu, termasuk pendidikan. Kami cuma mau kalian itu kelak menjadi orang sukses.” Zena mengangkat kepalanya, matanya tampak berkaca-kaca.
“Padahal kalau Ayah dan Bunda tidak mengizinkan, Adek juga tidak akan memaksa, tapi Ayah malah memburuk-burukkan mereka,” Zena terdiam sesaat dan melanjutkan, “Kalau memang mereka seburuk itu, lalu untuk apa Ayah datang ke banyak pesantren saat musim Pemilu kemarin? Bahkan Ayah sampai menghabiskan banyak uang agar bisa bertemu dan berfoto dengan para kiai.” Zena bukan gadis polos, ia tahu apa yang selama ini ayahnya lakukan, ia tahu uang apa yang ayahnya berikan demi mendapat dukungan politik. Tak ada bantahan, tak ada amarah, hanya kebenaran yang saat ini terpampang jelas di meja makan. Kalimat tadi menghantam kesadaran Ayah Zena, bahwa di balik setelan jas dan kedudukannya yang terhormat, ada kepalsuan yang ia sembunyikan dengan menggunakan kalimat penghormatan.

